Dukung Kebijakan Wamil?
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Dukung Kebijakan Wamil?

Selasa, 12 November 2019

Merancang tumbuhnya generasi kuat. Merekrut anak muda, agar ikut wajib militer (wamil). Substansi utama yang menjadi motivasi pembuat kebijakan adalah, usaha melanggengkan kekuasaan. Tidak lebih. 

Wamil itu, demi otoritas dan absolutisme. Demi mimpi akan kemutlakan dan mewujudkan kuasa para pemimpin pandir psikopat dan orang delusional, yang sedang mabok kuasa. 

Tentu saja, tulisan ini bukan untuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. 

Beliau jauh lebih absurd. Kepemimpinan model apa yang diterapkan? Hanya seorang menteri, dielu-elukan pejabat gaek, karyawan tua, disambut tempik sorak laksana selebritas plus histeria yang tak lazim? Apa itu masuk akal? 

Pasca reformasi, adakah tokoh yang dipuja model awal kemerdekaan dan rekayasa sosial atas penyambutan Presiden Soeharto? 

Baru kali ini, ada. Dekat dan pernah mengalami kejayaan era Soeharto. 

Memang awal muncul sambutan berlebih itu, di awal-awal kampanye jelang Pilpres 2014 dan 2018. Itu bisa dipermaklumkan sebab, pendukung memang terkadang irasional. Dicekam harapan untuk ingin ikut berkuasa sehingga menanggalkan semua nalar dan kemanusiaan. Tak sungkan jadi pemandu sorak. Memuji setinggi junjungan, mirip kelakuan para ghulam meski statusnya dianggap ulama atau intelektual. 

Ini level menteri, disambut haru biru, sorak sorai, dielu puji-pujian? Itu yang bertepuk tangan, teriak-teriak bukan anak muda lagi. Apakah itu natural atau rekayasa? Atau memang sengaja. Tipikal pemimpin mabok kuasa akan condong mudah dikelabui melalui meriahnya selebrasi, seremonial yang benar-benar memberi kesan hebat, meski diam-diam, mereka mencibir di belakangnya. 

Memang bisa apa, orang hanya level pembantu? 

Bayangkan. Pelayan model apa di zaman kerajaan, jika ada seorang wazir jauh dipuja rakyat dibanding raja. Pasti tidak lama, kalau tidak wazir itu memberontak, bikin gaduh istana dan pasti, dipenggal kepalanya. 

Kalau wazir jauh lebih kuat, menguasai militer. Pasti muncul model Dinasti Mamluk. Mantan pasukan budak yang diawalnya, direkrut dan dilatih dalam wamil.

Indonesia dengan negara kepulauan, banyak provinsi dan geografis yang berjauhan. Jika jadi menerapkan kebijakkan wamil, merupakan cikal bakal bubarnya NKRI. 

Tidak ada pemberontakan atau tuntutan kemerdekaan sebuah wilayah yang dipimpin warga sipil. Semua pemimpin revolusi, pasti pernah mengalami pelatihan militer.

Modus yang paling masuk akal dari wamil, hanya akan menebarkan doktrin pada anak-anak muda, pentingnya membela negara dengan dibuktikan patuh dan taat pada komandan. Memang, harus diakui, negara akan kuat secara militer. Punya pasukan terlatih yang banyak. Dan di dunia modern, infantri, kuantitas dan terlatihnya pasukan perang hanya menambah beban keuangan negara. Itu pun, jika ada perang. 

Pada era dunia damai, desersi sedikit saja, hanya memunculkan gerombolan perampok-perampok terlatih. Tak butuh waktu lama untuk chaos. Yang merasa punya kuasa, pasti memberontak. Minimal akan ada Rambo-Rambo baru, yang frustasi dan menyerang pusat-pusat keramaian.

Wamil itu, menegaskan sekaligus membuktikan dari mimpi orang yang haus akan perang dan phobia pada asing (baca: di luar kelompoknya) karena nasionalisme magel. Istilah singkong, terlanjur ganyong dan boleng. Cacat dan sesat sejak dalam pikiran.

Saya akan ceritakan kreatifnya politik Dinasti Utsmani. Terutama para Sultan Turki di abad ke-12 sampai abad ke-16. Tidak ada satu pun kerajaan islam yang mampu menandingi Dinasti Utsmani dari lamanya berkuasa sampai luasnya cakupan wilayah. Merentang dari kawasan Atlantik sampai Efrat. Dari padang sabana Rusia sampai gurun Sahara. 

Dinasti ini juga yang mengklaim sebagai penguasa dua daratan dan dua lautan. Mengklaim, pewaris "Pedang Utsman". Mereka sangat pragmatis dan inventif dalam soal pengaturan negara. 

Sultan juga mengembangkan angkatan bersenjata dan sistem birokrasi modern. Banyak tentara baru yang direkrut dari anak-anak muda tanpa memandang agama, banyak yang non-muslim juga, dilatih jadi pelayan dan abdi setia Sultan tanpa ikatan sosial. 

Ketika Murad I (1362-1389) melembagakan aturan wajib militer yang disebut devsirme, membuat rekrutmen besar-besaran. Para pemuda yang berhasil menjalankan wamil, ada yang kemudian dianggap berprestasi dan diangkat menjadi Ghulam (budak laki-laki), Kapikulari (pasukan keluarga kerajaan) dan Jannissari.

Jannissari atau ada juga yang menyebutnya, Yeni Ceri. Pasukan baru. Kelompok "terlatih khusus" ini, kemudian berhasil merebut posisi menjadi pejabat-pejabat tinggi di birokrasi.

Sultan, periode Dinasi Utsmani memiliki legitimasi kuat atas pemerintah dan pemimpi agama. Dimana untuk mewujudkan keadilan, berhak menggunakan jalan kekerasan maupun kasih sayang. Rakyat harus hidup di antara ketakutan dan harapan. Setidaknya, pondasi hukum dari Sultan atas nama stabilitas dan meredam ancaman pemberontakan, misalnya, pewaris tahta boleh membunuh semua keluarga kandungnya. Sebab, bakal merongrong kedaulatan Sultan. Itu yang ditetapkan Mehmed II.

Dari sejarah dan riwayat para penguasa, wamil itu luar biasa efektif untuk menopang pemerintahan diktator dan melanggengkan kuasa. Menariknya, hanya diterapkan oleh tipikal pemimpin ambisius. Haus akan darah dan rindu perang. Hitler contohnya. Yang Mulia Sang Penakhluk pada Dinasti Utsmani, suri tauladannya. 

Jika sekarang mau diprogram wamil untuk masyarakat, jelas hanya ada di pikiran orang sinting. 

Mari kita dukung wamil agar bisa berbaris di pinggir jalan, mengelu-elukan pemimpin gila yang lewat, yang berdiri di bak mobil, melambai tangan sembari senyum mabok kuasa. (*)


Endri Y. 
Penulis Aktif di Komunitas Tendean Tujuh
Pegiat di Komunitas Gedong Meneng