Catatan Akhir Tahun dari AJI dan LBH Pers Lampung
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Catatan Akhir Tahun dari AJI dan LBH Pers Lampung

Reporter
Minggu, 29 Desember 2019


INILAMPUNGCOM - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung bersama LBH Pers Lampung akan menggelar diskusi akhir tahun. Diskusi dengan tajuk “2020: Meneropong Independensi Media dan Kebebasan Berekspresi di Lampung”, akan digelar di Embun Coffee, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 84, Pahoman, Bandar Lampung, Senin mendatang, 30 Desember 2019, pukul 15.00 WIB.


Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho mengatakan, rangkaian diskusi akan diawali dengan menyampaikan catatan akhir tahun.


AJI akan merilis data terkait kekerasan terhadap jurnalis maupun kasus-kasus pers sepanjang 2019. Kemudian, mendiskusikan persoalan tersebut dan memproyeksikan kemerdekaan pers pada 2020.


“Tahun depan adalah tantangan bagi pers. Sebab, sejumlah daerah akan melaksanakan pilkada serentak, termasuk Lampung. Bagaimana komunitas pers di Lampung menyikapi hal ini? Sebab, produk pers kerap mendapat sorotan pada tahun politik,” kata Hendry.


AJI juga akan menyoroti kebebasan berekspresi di Lampung.

Pada November lalu, salah satu organisasi massa membubarkan acara menonton bareng (nobar) film “Kucumbu Tubuh Indahku” di Gedung Dewan Kesenian Lampung (DKL).


Hal ini menjadi perhatian AJI karena sebagai organisasi profesi jurnalis, salah satu misinya adalah mengembangkan demokrasi dan keberagaman. 


“Kebebasan ekspresi merupakan elemen penting dalam demokrasi. Sedangkan kebebasan pers bagian dari kebebasan berekspresi. Karena itu, ancaman terhadap kebebasan ekspresi juga ancaman terhadap kebebasan pers yang bisa berdampak buruk pada demokrasi,” ujarnya.


Selajutnya, Direktur LBH Pers Lampung Hanafi Sampurna mengungkapkan, pembubaran acara nobar itu menjadi ancaman serius terhadap kehidupan demokrasi. Hal ini patut menjadi perhatian, termasuk komunitas pers di Lampung.


“Demokrasi menuntut masyarakat untuk kritis dan bebas berekspresi dengan beragam bentuk. Tanpa itu semua, demokrasi akan stagnan dan tereduksi menjadi jargon semata,” katanya.(rls/inilampung)