Hujan: "Purnama Retak" dalam Politik Patah-Patah
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Hujan: "Purnama Retak" dalam Politik Patah-Patah

bdy
Minggu, 15 Desember 2019



Oleh Isbedy Stiawan ZS, sastrawan

HUJAN telah berganti gerimis. Tetapi rinainya belum juga habis. Jalan berair. Daun-daun basah, masih tersisa genangan di sana.

Agak pesimistis. Apakah aku bisa membelah gerimis, jangan-jangan hujan datang lebih besar lagi, menuju ruang bedah roman Purnama Retak karya Subhi Abdillah di Teater Terbuka Pusat Kebudayaan dan Olah Raga (PKOR), Wayhalim, Bandarlampung, Minggu (15/12) sore nanti.

Untuk menuju pukul 16.00 masih tersisa 3 jam lagi. Tidur? Takut kebablasan. Tak tidur, alangkah sayang waktu terbuang percuma. Aku kembali membuka novel setebal 519 halaman yang diterbitkan NuuN itu.

Beberapa tokoh dibangun dalam novel itu; Cak Tarjo, Salim sebagai tokoh aku, Ningsih, Irawan, Astuti, dan tokoh lain yang seladar mampir. Termasuk Prof Salam yang pengusaha dan owner media. 

Sudah sekira 10 tahun berpisah, Salim dipertemukan Cak Tarjo lagi di Stasiun UI, Depok. Cak Tarjo adalah senior dan pimpinan kelompok diskusi mahasiswa Jatinangor di masa rezim Orde Baru jelang pergerakan reformasi.

Lazimnya pada sebuah komunitas diskusi, percintaan adalah bumbu dan pemedas berdiskusi. Salim menaruh perhatian pada teman diskusi, Ningsih. Sayang, untuk mengungkap satu hal itu: cinta, betapa tak kuat dan tak punya keberanian. Padahal di majelis diskusi, Salim jagonya. Termasuk pandai mersume hasil diskusi lalu dibagikan ke kawan-kawannya.

Ia juga gagal sebagai mahasiswa. Tak  menyelesaikan kuliahnya. Terhambat karena banyak di meja diskusi dan masuk bui! Kedua oran tuanya, terutama Aba, menganggap dirinya bukan lagi bagian keluarga. Salim terusir, tersisih, dan "teraniaya" di hadapan kawan seperjuangan.

Tetapi, ia bisa merawat kewarasan. Tidak mendendam. Bahkan menghancurkan teman yang dulu sama berjuang. Meski hidupnya sebagai perantau di Jakarta amatlah buruk. Nasibnya tak sama dari khayalannya kala mahasiswa.

Termasuk soal cinta. Di usia 31 tahun (?) belum beristri. Meski seorang perempuan yang pertama kali ditemui, diam-diam jatuh hati, di Kaliurang sudah menunggunya selama enam tahun. Atas keberanian Astuti, perempuan berwajah lembut namun hatinya keras, menariknya dari kos-kosannya untuk menemui ayah Astuti dan melamar.

Di malam pertama pengantin, justru Salim-Astuti mendebatkan soal ideologi perjuan semasa mahasiswa. Hingga subuh.

Setelah selesai pernikahan, Astuti yang lulusan pascasarjana dibawanya ke kos-kosan. Hidup sebagai istri yang bekerja di media sebagai jurnalis. 

Dalam perjalanan numpang kereta api, tiba-tiba Salim teringat Cak Tarjo yang ditemuinya dua pekan lalu di stasiun. Ia pun membawa Astuti mencari rumah senior bermodal alamat di secarik kertas yang diberi Cak Tarjo.

Rumah sang senior ditemukan. Sayang, pejuang sejati itu sudah tiada. Ia tewas dikeoroyok saat berdemo pembebasan lahan milik rakyat kecil.

Novel ini menarik, berkisah masa-masa pergerakan mahasiswa di era Orde Baru, cinta, dusta, khianat, fitnah, dan ideologi yang dulu idealis menjadi pecah karena situasi dan mimpi yang sudah beda. Sebuah politik yang patah-patah. Malam yang purnamanya retak.*