Henry Yoso VS Rocky Gerung
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Henry Yoso VS Rocky Gerung

Reporter
Selasa, 10 Desember 2019


Oleh Oyos Saroso H.N.

MEMBACA kalimat yang diungkapkan politisi cum pengacara Henry Yosodingrat saat bereaksi atas penolakan laporannya terhadap Rocky Gerung ke Mabes Polri, Senin, 9 Desember 2019, saya tersentak.

Saya kaget karena pernyataan Henry mengandung diksi “masyarakat Lampung”, “marah”, dan sejenisnya. Henry secara sadar atau tidak sedang memakai majas sinedoke totem pro parte: membuat ungkapan sebagian saja dari orang Lampung untuk seluruh masyarakat Lampung.

Masyarakat Lampung yang mana yang marah dengan pernyataan Rocky Gerung soal Presiden Jokowi tidak paham Pancasila?

Masyarakat Lampung mana yang akan membacok Rocky Gerung karena marah?

Sealur dengan pertanyaan itu, hari ini reaksi muncul dari Gunawan Pharikesit, warga Lampung yang pernah menjadi wartawan, aktivis, dan penulis sastra (puisi).

Gunawan marah dengan pernyataan Henry dan berniat melaporkan pengacara yang juga asli Lampung itu ke Polda Lampung. Urusan sederhana akhirnya menjadi lapor melapor ke polisi. Parahnya, masyarakat Lampung sendiri sebenarnya adem ayem saja dan tidak menjadi bagian dari persoalan yang muncul.

Saya cukup prihatin karena ungkapan (seolah-olah) orang Lampung mudah marah dan main bacok justru keluar dari mulut sekelas tokoh. Pernyataan itu menyedihkan karena diungkapkan di Jakarta dan menjadi konsumsi banyak media.

Dampaknya tentu akan luas: bisa menabalkan bahwa orang Lampung itu kurang berbudaya, pemarah, dan cap minor lainnya.

Ungkapan kekesalan Henry menjadi kontraproduktif bagi upaya untuk meneguhkan keyakinan masyarakat luas bahwa Lampung itu berbudaya tinggi, beradab, terbuka, ramah, suka bergotong royong, menjunjung nilai-nilai agama, dan memiliki nasionalisme yang tinggi.

Selama bertahun-tahun pula sebagian masyarakat Lampung sedang “berjualan” hal-hal yang indah dan elok tentang Lampung: pantainya yang indah, bahasanya yang khas (dan memiliki aksara sendiri), lembah dan gunung-gemunungnya yang aduhai, dan kopinya yang sip markosip.

Siapa pun yang datang ke Lampung akan diterima dengan tangan terbuka, dengan aneka keramahan yang tidak dibuat-buat. Keramahan tidak sekadar dalam kemasan pariwisata.

Kita tentu masih ingat kisah tentang anak-anak muda Lampung yang ditolak kos di kota lain karena pemilik rumah takut. Pemilik rumah takut hanya karena mereka mendapatkan cerita buruk tentang orang Lampung. Padahal, pemilik kos itu belum pernah ke Lampung dan tidak tahu tentang apa pun tentang Lampung kecuali hanya soal kabar buruknya.

Sudah selayaknya, memang, semua anggota masyarakat Lampung “jualan” tentang Lampung tentang keelokannya.

Tentang keunggulannya. Bukan tentang perilaku buruk yang sebenarnya hanya gambaran “oknum” saja. Hanya 1-2 orang suka marah, tidak lantas bisa disimpulkan “masyarakat marah”. Sebab, masyarakat itu jamak, banyak jumlahnya.

Kalau ada yang mencitrakan orang Lampung dengan hal-hal yang buruk harus “dilawan” dengan menunjukkan contoh-contoh. 

Terlalu naif kalau kita jualan Lampung untuk kepentingan kita sendiri saja atau kelompok kita saja. (*)

*)Oyos Saroso HN
(Budayawan, mantan ketua AJI Lampung)