KPU Kota Bandar Lampung Gandeng KGM Sosialisasi Pilkada
Cari Berita

Breaking News

banner atas

KPU Kota Bandar Lampung Gandeng KGM Sosialisasi Pilkada

Reporter
Jumat, 06 Desember 2019

INILAMPUNGCOM - KPU Kota Bandar Lampung gandeng Komunitas Gedung Meneng menggelar Sosialisasi Pilkada kepada pemilih pemula, Jumat (6/12) malam.

Dengan tema seni demokrasi untuk pilkada berkualitas, menghadirkan Oyos Saroso HN, jurnalis senior Lampung sebagai pembicara, penyair Isbedy Stiawam ZS, komisioner KPU Balam Fery Atmojo, dengan moderator Adolf Ayatullah Indrajaya.

Diskusi politik dimulai pembacaan puisi oleh Wawan Sumarwan, dan Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan mengusung puisi "Dialog Ayah dan Anak Jelang Pesta Politik". Puisi sedikit satire ini, sayangnya saat dibacakan pengampu Lamban Sastra hujan luruh amat deras. Meski Isbedy geming menuntaskan puisi sepanjang 3 halaman itu.


Sementara Oyos mereviu semasa menjadi tim seleksi calon komisioner KPU. Waktu itu, kata dia, tak ada yang berani bicara atau mendekati timsel dengan uang. 

"Politik uang masih tak tampak benderang, seperti saat kini. Di mana diterpa isu jual beli jabatan," kata Oyos.

Berikut puisi Isbedy Stiawan ZS:

ISBEDY STIAWAN ZS

Dialog Ayah dan Anak
Jelang Pesta Politik

suatu malam, bulan penuh,
awan bersih oleh mendung
di teras rumah 
ayah dan anak duduk di kursi
memandang malam yang cerah

ayah, kata anak, apa arti 
politik dan perlukah bagi
rakyat seperti kita

si ayah tak cepat menjawab
menggeser tubuh  ramping
bagaikan cacing; mengambil
cemil kecil seperti kaki kancil
lalu ia pandangi purnama,
gemintang, langit tanpa awan

"politik suatu siasah untuk 
perubahan -- atau berubah --
dari sini ke sana. untuk
lebih baru,
bukan stagnan."

jadi, lanjut ayah, politik
amat perlu. terutama bagi
rakyat. karena demokrasi
adalah suara rakyat 
sebagai penentu bagi kemajuan bersama

karena itu, politik harus
dirawat. bukan adu kuat 
antarpolitisi. anakku, jika
kau tahu, sesungguhnya 
politik adalah hasil kesepekatan dari
pertemuan kecil bernama lobi:
dari kepentingan bersama 
buat kemshalatan beramairamai

itulah hakiki politik. bukan daki politikus
yang bagaikan tikus
datang pada kita saat
dapur lengang
ketika hening malam

ia mengendapendap
untuk segera melahap
tiap makanan, dari yang
sisa hingga masih di dalam
tudung ditutup rapat

lalu pergi tanpa menampakkan
punggung. berbeda saat 
datang menampakkan kegagahan

"tapi ayah, ajarkan padaku
politik yang baik. politisi
yang setia pada janji," kata anak
ingin tahu, tidak tabu sebab
saatnnya remaja tidak didustai
oleh politik

si ayah tercekat. pandangnya
seolah terpahat 
di antara lelangit dan purnama;
tak sampai ke bintang yang tinggi

politik adalah citacita
siasah untuk mencapai apa
yang diharapkan. seperti
kita punya tujuan sebelum 
melangkah
sebelum satu katu ditorehkan

"jika kau tak punya cita,
tiada pernah miliki tujuan
apa kau bisa menapak dari 
kelas satu SD hingga kini
jadi remaja. itu pun politik, sebuah siasah," ujar ayah

karena itu, wahai anakku,
usah membenci politik. tak perlu
menjauh dari politik. kau 
tahu, sejak lahir kau sudah
dibuka matamu untuk melihat
dan belajar siasah

"lalu, mengapa banyak rakyat
antipati dengan politik
dan melengos wajahnya
pada politisi?" tanya anak

ayah makin tercekat mulutnya
matanya berkacakaca

"ayah sedih?

"aku berduka!"

lalu ayah bercerita, politik 
zaman kiwari memang bagai
tekateki. terlalu jauh dari
ideal dari ilmu politik di kampus
apalagi mendekatkan dengan
polotik yang dirisalahlan 
kanjeng Muhammad, nabi
yang rasulullah. politik santun
dan tida caci terbantunbantun

lihatlah politik rezim kini
saling sikut, singkir, dan
dinonjob jika berseberangan
sementara kolega, pendukung, peyelyel maka
siapsiap masuk gerbong
walau ruang kosong. atau diberi kuasa di ruang
maha banjir anggaran!

begitulah, mungkin kau pernah
dengar, politik balas jasa
dan balas dendam. penumpang
yang naik ke gerbong ketika
masinis menggerakkan kereta

"ada yang lain bersuara,
aku hanya cukup mengantar
kalian rayakan dan nikmati
pesta berpendarpendar

apatah lagi, bagaimana
pelaksana pemilu? 

"O maaf, anakku, ayah tak akan berani mengucapkan. apalagi mengritik keras! apalah
kuasa ayah!" 

si anak terdiam. lama sekali
dalam hati, ia ingin banyak 
belajar politik. belajar merawat
hati dan akal sehat

hanya itu

Bumi Lampung, 5 Desember 2019
(Zal/inilampung)