Menimbang Neraca Perdagangan Lampung
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Menimbang Neraca Perdagangan Lampung

Minggu, 01 Desember 2019


Oleh: Nizwar Affandi
Ketua MKGR Provinsi Lampung

PAGI ini saya dikirimi file yg menarik oleh seorang teman sekolah yg sekarang bekerja di salah satu lembaga riset terkemuka di Jakarta.

Teman saya itu mengirim file berisikan neraca perdagangan ekspor-impor Provinsi Lampung sejak tahun 2012 sampai awal November 2019.

Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu selama 8 tahun terakhir (saya belum mendapatkan akses data tahun-tahun sebelumnya), di akhir Oktober neraca perdagangan ekspor-impor Lampung berada pada posisi minus.

Pada November 2012 posisi neracanya surplus sebesar 509,5 juta USD. November 2013 walaupun menurun tetap surplus sebesar 489,4 juta USD. November 2014 kembali turun tetapi masih surplus sebesar 321,9 juta USD.

November 2015 grafiknya mengalami rebound dan meledak menjadi surplus 1.398,57 juta USD. November 2016 kembali turun tetapi masih surplus sebesar 644,74 juta USD.

November 2017 kembali rebound dan surplus sebesar 1.092,01 juta USD. November 2018 turun lagi walaupun tetap surplus sebesar 503,65 juta USD. Sekarang sampai akhir Oktober kemarin, neraca perdagangan ekspor-impor Provinsi Lampung masih berada pada posisi defisit sebesar minus 101,43 juta USD.

Saya penasaran dan mencoba mencermati data-data yg dikirimkan oleh teman saya itu. Dari data tahun 2014 pada posisi bulan Juni, Gubernur Sjachroedin mewarisi neraca perdagangan pada posisi defisit sebesar minus 48,7 juta USD, dan pada bulan November Gubernur Ridho sudah membukukan neraca itu menjadi surplus sebesar 321,9 juta USD.

Selama sekitar 5 bulan dengan surplus sebesar 370,6 juta USD (rata-rata 74,12 juta USD per bulan) posisi defisit itu berbalik menjadi surplus.

Dari data tahun 2019 ini, Gubernur Ridho mengulangi apa yg dilakukan pendahulunya, mewariskan neraca perdagangan pada posisi defisit, namun lebih dalam lagi sebesar minus 247,23 juta USD. Kejadian berulang ini menarik juga untuk dicermati dgn tulisan dan pendekatan lain, apakah penurunan kinerja gubernur dan pemerintahannya memang selalu terjadi di akhir masa jabatan bisa menjadi pertanyaan pokok dalam kajian yg berbeda.

Jika pada 2014 dalam waktu 5 bulan Gubernur Ridho dapat membalikkan posisi defisit menjadi surplus, kita berdo’a semoga Gubernur Arinal juga mampu melakukannya walaupun diwariskan posisi defisit yg lebih dalam.

Beliau memang sudah 5 bulan bekerja tetapi data neraca perdagangan yg tersedia baru 4 bulan sampai akhir Oktober. Dari data 4 bulan itu Gubernur Arinal telah cukup berhasil memperkecil defisit dari minus 247,23 juta USD menjadi minus 101,43 juta USD. Selama 4 bulan dgn surplus sebesar 145,8 juta USD (rata-rata 36,45 juta USD per bulan) defisit neracanya mulai mengecil walaupun belum berbalik menjadi surplus.

Kita sama-sama menunggu data neraca perdagangan November yg biasanya di minggu pertama Desember akan dipublikasikan oleh BPS. Semoga terjadi ledakan ekspor dan penurunan impor yg signifikan selama November kemarin.

Kalaupun tidak, masih ada Desember untuk Gubernur Arinal dan aparaturnya bekerja sekuat tenaga untuk membalikkan keadaan ini dan menutup tahun 2019 dgn catatan neraca perdagangan yg positif, setipis apapun surplusnya tentu jauh lebih baik daripada ternodai catatan defisit untuk pertamakalinya setidaknya selama kurun waktu 8 tahun terakhir.

 Semoga.

*) Nizwar Afandi adalah mantan aktivis sekaligus politisi muda berbakat. Semasa kuliah, Ketua BEM Unila, Ketua HMI Cabang Bandar Lampung. Lepas Kuliah, di FE Unila dia sempat mencicipi ketua KPU Bandar Lampung. Sekarang, ia berlabuh di Partai Golkar dan terus menekumi bisnis bidang  Pertambangan.