Menyaksikan Ibu Masa Kini Baca Puisi
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Menyaksikan Ibu Masa Kini Baca Puisi

bdy
Minggu, 22 Desember 2019


Pengisi panggung Baca Puisi Kaum Ibu dan undangan (dok Lamban Sastra


INILAMPUNG.COM -- Hari ini, 22 Desember, ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh pemerintah. Penetapan untuk mengingat peran ibu bagi peradaban manusia, cinta kasih, dan ketulusan pengorbanan ibu.

Islam sangat memerhatikan peran ibu bagi manusia. Ketika seorang sahabat bertanya pada Rasululllah Muhammad SAW siapa yang wajib dihormati di dunia ini, tiga kali kanjeng nabi menyebut ibu. Yang keempat baru ayah.

Artinya, perbandingan ibu tiga kali lebih besar dari ayah untuk pemberian hormat seorang anak pada orang tuanya. Ibu mengandung dan menjaga janin selama 9 bulan di rahimnya. Ibu juga memberi susu (menyusui) sesuai waktu. Lalu mengeja ucap, memberi arah langkah. 

Dan paling tak terlupakan bagaimana ibu memeluk penuh kasih di tengah malam sambil menyusui. Mata ibu yang remang karena kantuk, mendekatkan bibir si anak ke puting susu.

Apriliati, anggota DPRD Lampung (dok lamban sastra)

Lalu, masih tegakah kita menelantarkan ibu? Masih punya niat mengirim ibu ke panti jompo? Mengucap "ih!" di hadapan ibu?

Kisah-kisah tentang ibu begitu banyak. Dongeng ihwal anak durhaka lalu ibu mengutuk juga tersebar. Cerita sahat nabi yang lama mengembuskan napas terakhir lantaran ibu belum memaafkan. Padahal kurang apa soal ibadah, amal, dan perjuangannya untuk menegakkan kalam Allah dan Islam.

Hampir tidak penyair (sastrawan) di dunia ini yang tidak menulis tentang ibu dalam karya sastranya. Chairil Anwar,  Mustafa Bisri, Rendra, Asrul Sani, Widji Thukul, D Zawawi Imron -- untuk menyebut beberapa nama sastrawan Indonesia. Belum lagi para sastrawan luar negeri.

Tadi malam (Sabtu, 21 Desember 2019) di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS Jl Kelapa Warna/Raden Saleh, Tanjungsenang, Bandarlampung, sekira 11 kaum ibu masa kini turur merayakan Hari Ibu.

Perayaan yang lain dari biasanya. Tiada seremonial yang berbelit, mereka membaca puisi bertema ibu. 

Erika Novalia Sani, ketua pelaksana, mengatakan akan mengucur airmata jika menyebut kata ibu. Diakui ibu politisi Nasdem ini, rasanya tak terganti dengan seisi bumi untuk membayar utang kasih sayang kepada ibu. 

Kebahagian tertinggi bagi seorang perempuan ketika ia sudah menyandang emak-emak (ibu), itu kata Fitri Angraini, pengajar di Fak. Tarbiyah dan Pendidikan UIN Radin Intan Lampung yang turut membaca puisi.

Anggota DPRD Provinsi Lampung dari PDI-P, Apriliati, bersemangat saat membaca puisi karya Chairil Anwar. Apriliati mendukung pembacaan puisi bagi Ibu ini. Tentu ia meyakini bahwa peran ibu tak akan terganti dengan lain seisi bumi ini. 

Begitu pula Hensilyana Berthy, kepala cabang Bank Danamon Tanjungkarang, yang sedia hadir membacakan puisi pada perayaan Hari Ibu yang sederhana dan tak begitu banyak audiens.

Pembacaan puisi kaum ibu masa kini tersebut didukung para ibu dari Way Kanan (Apri Medianingsih, guru dan pegiat literasi), Mintarsih Mimin yang guru dan penyair dari Tulangbawang Barat, Diah Febriani,penyair dan pendidik dar Lampung Barat, penyair Jauza Imani, Selfia, dosen UBL, Erika Novali Sani, Novel Sanggem yang aktifis juga telah mengentak dengan puisi karya Widji Thukul, dan lain sebagainya.

Menonton para ibu mengekspresikan jiwa tentang hormatnya kepada ibu yang telah melahirkan dan mengasuh kita, terasa haru dan dan tak terbendung tetes airmata yang keluar.

Memang baca puisi memeringati Hari Ibu semalam, belum bisa sebanding bagaimana ibu berkorban demi anak. Seperti andaikan laut bisa dikeringkan, kita tak akan mampu menakar laut ibu yang telah menjaga, melindungi, melayarkan kita ke laut lepas (baca puisi "Surat dari Ibu" Asrul Sani). 

Atau ibu yang kemudian (hanya) menegur dan menasihati saat sang anak silap (Chairil Anwar). 

Begitulah peranan ibu bagi peradaban manusia. Ibu sangat penting membina dan mengarahkan anak-anak sebagai anak masa depan. Tak ayal, negara pun dikonotasikan sebagai "Ibu Pertiwi". 

ibu,
aku ingin kembali ziarah ke dalam pangkuan lautmu. seperti perahu
yang masuk ke galanhan lantaran telah karat. sebab peradaban 
telah membuatku makin jauh dari lidah asin-manismu 
(Madura, Juni 1996; Isbedy Stiawan ZS).

Menonton baca puisi kaum ibu itu, sungguh membangkitkan lagi lebih besar cinta dan hornat kita pada ibu. Ibu! Ibu! Ibu!

Salam, selamat berHari Ibu kaum ibu. (isbedy stiawan zs, pengampu Lamban Sastra)