PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (3)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (3)

bdy
Senin, 23 Desember 2019



Oleh Isbedy Stiawan ZS

III

"BUS... Busye!" suara memanggilku. Baru kakiku turun dari kereta api. Stasiun TL ramai.

Aku celingak-celinguk. Tak tampak seseorang yang memanggilku.

"Busye. Bus!" suara lagi kudengar. Aku menyapu tiap gerbong kereta. Tak kutemukan orang yang menyebut namaku.

"Hai Busye! Apa kabar." 

Seorang lelaki bertubuh besar dan tegap sudah di sebelahku. Tanganya memegang bahuku. Aku melihat ke samping kiriku. Oh! Aku kaget. Ternyata kawanku semasa kuliah. 

"Hai Sur.... ke mana saja. Kudengar kabar kau kini jadi pemborong. Benar?" ujarku setelah turun rasa penasaranku.

Suryadi adalah kawanku semasa kuliah 8 tahun lalu. Aku dan ia sangat karib. Kami beteman bukan satu progam Sejarah, tapi teman diskusi. Biasanya yang kami diskusikan masalah sastra, filsafat, dan kadang politik.

"Ah, bukannya kau yang ke mana saja. Kubaca di media-media kau banyak di luar kota urusan sastra. Bahkan, kabarnya kau pernah sebulan di Belanda. Ya kan?"

Aku mengangguk. Tersenyum. Kupeluk ia sebagai sahabat yang lama tak bertemu. Aku rindu sekali dengannya. 

"Sur..."

"Busye..."

Hampir bersamaan kami menyebut nama. Diam. Menyilakan siapa dulu berkata.

Karena kawankun itu memberi aku bicara, aku mulai dengan kembali mengenang masa lalu di kampus. Suryadi menyukai olah raga sementara aku suka pada sastra. Kami sama-sama di Unit Kegiatan Mahasiswa. Hanya beda kompartemen atau bidang.

Sejak semester lima kami jarang bersama lagi. Sama-sama sibuk dengan kuliah, hobi, dan urusan skripsi. Bahkan aku lebih dulu ujian skripsi dan diwisuda. Lalu kutinggalkan Kampus Hijau. Aku melamar di surat kabar lokal, dan diterima. Aku bekerja mulai dari reporter di desk kriminal selama 2 tahun. Setiap hari aku ngepos di Polresta. Hanya berurusan dengan berita-berita kepolisian. Di pos ini aku banyak kenal polisi, aku sering mewawancarai para krimiinal yang tertangkap.

Soal penjahat yang terpincang-pincang saat masuk penjara sudah santapan setiap hari. Mereka ditembak karena melawan atau mau melarikan diri. Pihak kepolisian tak mau kecolongan, misalnya mereka kabur atau tak mau mati sia-sia di tangan penjahat, akhirnya peluru timah diletuskan ke kaki mereka.

Dua tahun di pos kriminal dan selalu disuguhi darah, acap membuatku ingin muntah! Mataku disajikan dengan para penjahat itu dalam keadaan tubuh penuh luka karena dianiaya massa yang sudah sangat emosi dengan ulah mereka. Para penjahat kambuhan, terutama para pembegal sungguh-sungguh sadis. Mereka tak sungkan mendorong pengendara motor hingga terjatuh ataupun dianiaya sampai tewas di temoat, lalu motornya dirampas! Jadi pantas jika kepolisian daerah pernah menghidupkan Tekab 308 dengan men-dorr pembegal-pembegal di tempat. Terlepas ada teriakan dari pendukung hak asasi manusia (HAM). 

Karena merasa muak, kumintan pada atasan agar dipindah ke desk lain. Tiga bulan dari pengajuan pindah, aku mendapatkan pos baru. Aku menjadi redaktur Seni Budaya. Di tempat tugas baru ini aku benar-benar nyaman.

"Untung kau keluar dari media massa. Kau bisa fokus di dunia kesenian. Kini yang kutahu, kau jadi sastrawan top. Namamu sejajar dengan sastrawan nasional bahkan mancanegara," Suryadi tiba-tiba memecahkan suasana.

Suryadi, kawanku itu, sejak lulus kukiah meneruskan usaha orang tuanya. Ia metintis sebagai pemborong, dari jalan hingga gedung-gedung mewah. Dari jembatan sampai pembangunan sekolah. 

"Apa sajalah, yang penting dapat uang. Tapi, aku sering menolak kalau bekerja sama dengan pemerintah. Banyak sakit hatinya, fee ini dan itu, potong pajak. Belum lagi kawan-kawanmu dari pers, suka usil dan ujung-ujungnya damai dengan uang!" kata Suryadi.

Kutatap mata kawanku itu.

"Tidak semua jurnalis seperti itu kawan! Tak banyak," aku coba membantah. Meski kuakui memang ada perilaku wartawan yang hanya mencari uang di jalan. Mereka sering disebut wartawan bodrek, wartawan abal-abal, dan seterusnya.

*
Suryadi dijemput supir pribadinya. Ia mengajakku bersama di mobil Terano-nya. Tidak langsung pulang, tapit dia menawarkan makan malam di sebuah kafe di Jalan Untung Surapati. Pondok Santap Taman Untung itu milik politisi yang baru merampungkan tugas legislatornya. 

"Sepertinya kau sering ke sini? Sampai-sampai pelayannya mengenalmu. Memang suasananya nyaman, khususnya buat orang semacam kau. Banyak inspirasi dan enak untuk berkarya..." Suryadi membuka percakapan.

"Waktu launching aku baca puisi di sini. Pemiliknya aku kenal baik. Ia politisi dan pengurus partai politik," jawabku tertawa. Suryadi ikut tertawa.

"Pantas saja!" lanjutnya. "Sepertimu memang membutuhkan suasana kayak begini. Perlu suasana tenang dan nyaman."

"Ya. Aku bersyukur dapat kawan yang siap membantu. Kadang aku dikontak pemilik kafe ini untuk ngopi dan berkarya. Tetapi ada yang dimaui dariku.... ha ha."

"Lha apa itu?"

"Foto-foto dan endors yang dibagikan ke media sosial..." jawabku.

"Ya. Itu risiko selebritis sepertimu..." 

Kami tertawa. Meski kemudian aku meralat bawah aku belum sekelas artis. Hanya Busye, seniman yang bersyukur punya motor untuk kutumpangi ke mana saja.

Sebagaimana kebiasaanku di kafe, pertama-tama yang kupesan adalah kopi tanpa gula. Di Pondok Santap Taman Untung ini menyediakan robusta. Dinamakan Rumah Kopi Balong -- Balong adalah nama kota kelahiranku ini -- memang nikmat. Ini soal cara meracik alias membuat. 

Soal minum kopi, sehari aku bisa tiga sampai empat kali. Padahal aku mengidap lambung. Tetapi, syukur tak mengusik selama ini. Dan ini sudah yang ketiga gelas.

"Kau masih kuat minum kopi ya. Belum berubah sejak kuliah," ujar Sur setelah kami menyeruput.

Ia menyantap nasi berlauk pindang baung. Pindang adalah lauk khas Sumatra. Ikan baung atau patin, dan sambalnya pakai terasi. Kalau memakan pindang, dijamin keluar keringat. Badan basah.

"Ya nih," balasku pendek.

"Kau tadi dari mana? Kotabumi?"

"Bukan. Kertapati. Aku diundang diskusi buku puisi terbaruku."

"Pastinya ada baca puisi. Aku suka menyaksikan pembacaan puisimu dari youtube. Keren. Kapan-kapan aku ikut kau ya kalau ke luar kota. Siapa tahu berjodoh..." kawanku berujar.

Ketika dia mengucapkan 'siapa tahu berjodoh' aku tahu dari temanku yang lain, Suryadi masih menduda sejak bercerai 5 tahun lalu. Istrinya yang juga kawan kami di kampus, isunya berselingkuh dengan mantan pacarnya saat SMA dan kuliah di perguruan tinggi sewasta yang berdampingan dengan kampus kami.

"Mungkin waktu kuliah mereka juga sering bertemu di belakang Suryadi.  Nah, dua tahun berumah tangga mereka cerai. Sur tak terima istrinya selingkuh," cerita Edo, kawan kami.

Menyedihkan, lanjut Edo, Ayu tidak dinikahi selingkuhannya. Malah lelaki itu kabur ke Medan. Kabar berikutnya, Ayu jadi pemandu lagu di sebuah karaoke hiburan malam. Beruntung Sur belum dikarunia anak. Dia bisa bebas tanpa dibebani mengasuh anak.

"Oke juga Sur. Siapa tahu berjodoh, ada perempuan tambatan hati. Tak baik juga hidup sendiri..." jawabku beberapa saat kemudian.

Sur memandangku tajam. Lama sekali. Ia menengok ke pengunjung kafe. Dua pasang anak muda menuju meja bagian dekat stage dan di sana ada orgen tunggal. Mungkin mereka akan menyumbangkan beberapa lagu, atau ingin santai saja.

"Ah, aku bercanda. Aku sudah tak punya lagi keinginan berumahtangga. Bagiku semua perempuan sama. Dikasih kesempatan, ia berselingkuh," kata Sur.

"Bukan karena seorang Ayu, kau samaratakan perempuan di dunia ini. Aku bantah itu. Kotolak pikiranmu yang general itu!"

"Ya, sampai detik ini aku masih berpikiran begitu. Perempuan di mana pun sama saja. Bahkan tak adil. Mereka sangat benci lelaki selingkuh, tak terima dipoligami. Curiga kalau suami bermain handphone, tapi diam-diam tengah malam saat suaminya lelap mereka berchating ria. Kalau ditegur, alasannya sekadar cari hiburan. Taiklah!"

"Lalu?"

"Ya lalu, aku belum ada satu pun kata yang bisa mengubah pandanganku tentang wanita. Makanya aku belum punya niat ataupun keinginan menikah lagi!" entak Sur.

Matanya merah. Tetapi aku bisa menembus ke kedalaman mata itu. Sesungguhnya ia hanya kecewa amat dalam pada Ayu, istri yang dipacari semasa kuliah.

"Lalu, selama ini untuk urusan bilogismu? Sory kalau kau tak berkenan, abaikan pertanyaanku," kataku hati-hati.

"Bagiku sudah tak ada hati, tapi yang ada ialah bodi. Ini kupinjam kalimat kawanku yang sampai mati tak beristri, namun perempuan gonta-ganti," jawab Sur santai.

"Begitu pun kau?" sindirku.

Ia diam. Tertawa. Lalu mengisap rokokya.

"Sudahlah. Tak perlu kita bahas soal ini lagi. Bukankah kita sudah lama tak bertemu? Alangkah enak bicara di luar soal betina!" minta Sur, tapi saat menyebut 'betina' terasa ada tekanan atau intonasi yang beda sekali.

Aku manut. Tapi di batin, bukan saja aku menolak pikirannya melainkan memantik emosiku soal menyamaratakan kaum perempuan. Sebagaimana aku membantah kalau ada penilain, lelaki sama saja: mata keranjang, tukang selingkuh, bajingan, dan lain sebagainya. 

"Apakah setiap anak bandit sudah pasti bandit? Apakah tiap anak ustad pastinya alim?" gumamku.

Aku tak tikai debat dengan Sur. Ia kawan lama yang baru berjumpa lagi. Baiknya kami isi kangen-kangenan. 

Pengunjung kafe terus berdatangan. Mencari meja yang dianggap nyaman. Ada yang berpasangan, ada pula bersama keluarga.

(Bersambung)

...