PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (6)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (6)

bdy
Jumat, 27 Desember 2019





Oleh Isbedy Stiawan ZS


Jus alpukat gelas kedua kuseruput. Kuambil sebatang rokok, ini sudah ke 10 di kafe ini, kunyalakan. Lalu pelan kuhisap dan kulepas asapnya ke langit. Terbang. Rena tak kalah. Rasanya tak salah hitung, ini yang keenam dia merokok.

"Belum juga ditelepon?" kubuka percakapan setelah diam cukup lama.

"Sepertinya dia tak mengontakku malam ini. Sudah lupakan ia, kebahagiaan saya bertemu anda jangan sampai rusak. Bagiku ia meneleponku atau tidak, tak ada pengaruh apa-apa. Terpenting dia 
tak lupa mengirim uang bagi kebutuhanku..." jawab Rena.

Ia siap dengan kesepian, ketika memutuskan jadi istri dari seorang pelaut. Begitu pula ketika ia dibawa ke pelaminan oleh bule itu, warga negara asing, rumah tak jelas di mana. Ia pun sudah siap sebab telah diperhitungkan.

"Risiko-risiko itu sudah kusiapkan. Bahkan kalau pun suamiku tak pulang ke hatiku. Aku pun tak begitu yakin bahwa aku satu-satunya dia cintai. Namanya juga bule, tugas di kapal pesiar, dan banyak lagi...." lanjut dia.

"Lantas apa yang kau harap dari perkawinnan itu?" tanyaku ingin tahu.

Rena sesaat mengisap rokoknya, lalu melepas asap dari mulut dan hidungnya. 

Ia mendesah. "Tidak ada. Tak lebih agar aku lepas dari status lajang. Hanya itu. Walau tiga bulan dari perkawinanku dengan Ben, aku kembali kesepian. Untuk membayar sepi itu, aku lakukan petualangan bercinta...." 

Oh!

"Kenapa, absurd?" 

Entahlah. Aku mendesah.

Sunyi. 

Rena meletakkan tangan kirinya menahan dagu, seperti dagu runcing itu khawatir melorot. Sementara jemari tangan kanannya masih mengepit rokok bertubuh kecil. Matanya tertuju padaku. Aku melempar pandangku ke panggung musik. Pelantun perempuan sedang menyanyikan lagu irama jazz. 

"Aku suka jazz," kata Rena tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Tidak kukejar dengan pertanyaan berikut untuk alasan mengapa ia menyukai jazz. Lagi pula aku kurang akrab dengan genre musik, apatah lagi jazz, blues, dan lain sebagainya.

"Anda bisa bernyanyi?"

Aku menggeleng.

"Sesekali kita keluar dari kebiasaan. Menjadi yang lain, baru, sehingga tak monoton. Kalau soal baca puisi, anda jagonya. Tapi perlu juga cari suasana lain," katanya.

Aku hanya diam.

"Hidup perlu warna-warni. Perlu berani keluar dari yang biasa. Perlu sesekali nakal dalam makna kreatif," lanjut Rena.

"Ah, begini saja sudah pening...."

"Kok pening."

"Ya. Merawat kehidupan diri sendiri saja agar tetap baik sudah sulit, apalagi cari-cari warna lain."

"Itulah kehidupan. Apakah kita melangkah hanya mencari yang turun, tanpa tanjakan, tanpa lika-liku, belok kiri dan kanan, tanpa pernah jatuh? Tidak bukan? Menghindar saja, kita pasti menghadapinya..."

"Maksudmu?"

"Ya bersenang-senanglah. Keluar dari rutinitas. Diri juga perlu refreshing. Tubuh juga perlu diurut. Hati dan otak juga butuh diberi kesenangan, rileks."

Dia diam. Aku menyahut.

"Caraku begini pun, dari kafe ke kafe dan dari kedai ke kedai, adalah untuk menjaga kestabilan. Refreshingku dengan orang lain, pastinya beda. Ada orang yang ingin mencari ķebahagiaan ataupun refeshing, misalnya, menenggak obat dan minum. Nah ada yang punya cara lain...."

"Ya, aku oke! Tapi untuk sesuatu yang beda dan menyenangkan adalah menyelam langsung."

"Misal?"

"Bagaimana anda bisa menulis jika tak masuk ke inti masalah?" tegasnya.

Aku tak langsung mengomentari ucapan Rena. Otakku yang terbiasa di dunia wartawan desk kriminal dan berpuluh tahun menjadi sastrawan, perlu menerka ke arah mana ia mau melabuhkan ucapannya. Biasa dalam tugas penyelidik.

Lama sekali aku mencerna setiap kalimat yang diucapkan Rena. Perempuan yang kini di depanku sedang bermain teka-teki. Aku harus mencari jalan jika tak mau kehilangan arah.

Rena, menurutku memang ayu dan manis. Di dirinya ada aura yang membikin banyak orang merasa tenteram bersamanya. Mungkin itu kenapa ia, seperti diakui Rena, pernah menjadi idola dan diidolakan saat di kampus. Dia kemudian ditarik bekerja di traveling, dan bertemulah dengan lelaki bule yang kemudian mengawininya.

Tetapi ia jalani perkawinannya yang setahun bisa berkumpul bulan ke enam. Bulan-bulan lainnya hanya lewat alat kecil yang cerdas itu. Ia berterus terang tadi, kadang mereka lakukan hubungan suami-istri dengan jarak jauh! 

"Ya, begitulah. Meski palsu, tapi kenikmatan tetap ada karena keluar dari kebiasaan," katanya tadi.

Aku belum meyakini pengalaman seperti dilakoni Rena. Sebab, dalam kehidupanku, tidak neko-neko. Ibarat pengendara amatiran hanya mencari jalan yang lempang. Selalu menghidar apabila ketemu jalan berliku atau berlingkar dan masuk jalan tikus. 

Hanya waktu itu aku diam. Biarlah ia berkisah. Mungkin saja itu bagian dari sedikit ia bisa lepas dari ketertekanan dan kesepian. Barangkali pula kunjungannya ke kafe ini tiap malam Minggu adalah penyelesaian kesuntukannya.

Di sini, banyak kuketahui dari pengunjung, bisa menghilangkan stres, tempat pertemuan atau reuni -- rendezvous -- juga akad perjanjian untuk pertemuan lebih sembunyi. Mungkin juga, tiba-tiba hatiku berkata lain, Rena juga sedang menunggu seseorang. Bertemu kencan baru jika nasibnya bagus. Dan... dan....

Ah! Aku sulit melanjutkan apa yang berkelimun di benakku. Kepalaku terasa ingin pecah. Mau rasanya kubelah dan kulihat seksama: apa yang terisi di dalam batok kepalaku?

"Hai! Seniman. Ngapain malam-malam di sini? Memburu inspirasi?" seorang wanita berdiri di sebelahku menghancurkan lamunanku berkeping-keping.

"Hai juga. Santai saja...."

"Aku sering lihat fotomu di media. Aku Sani. Ini keluargamu?"

Ia menyodorkan tanggannya kepadaku dan Rena.

"Eh..."

"Ya, saya istrinya..." cepat Rena menjawab.

Aku kaget.

"Wow! Cantik banget mbaknya...." puji Sani.

Aku + Rena diam. Selamat. Sani mengantar arah yang tepat.

(Bersambung)

....