PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (1)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (1)

Reporter
Sabtu, 21 Desember 2019

CERBUNG 
Oleh Isbedy Stiawan ZS

KAFE 
-Kafe tumbuh di kotaku yang terus bersolek karena merasa sudah remaja, cantik atau tampan itu. Sebuah kota yang kini bertaburan hotel di mana-mana. Tinggi menjulang, megah, dan menggoda untuk bermalam.

Ini kota dipimpin seorang walikota. Lelaki yang berasal dari kota lain, beranjak karier dari bawah. Sang walikota yang menyulap kota sederhana kini layaknya metropolis. Ada banyak jalan yang melayang di angkasa. 

Jalan di dalam kota seperti tak kita temukan lubang dan bergelombang. Perjalanan jadi nyaman. Meski agak macet karena kendaraan padat.

II

SORE mulai menghampiri. Langit tak begitu cerah. Turun dari motor, aku menuju meja seperti biasa kupilih. Dari bagian tinggi, kota di bawah sana dengan jelas bisa kunikmati. Jika malam lelampu jalan dan rumah bagai kunangkunang. Kelap-kelip.

Dua kursi menghadapi satu meja. Pelayan perempuan datang dan menyorongkan daftar menu. Kusebut jus pokat dan nasi sop buntut. 

"Aku hanya jus orange," katamu setelah kutawarkan mau mwkan dan minum apa.

"Tak makan? Perut saat perlu diisi. Apalagi baru saja tiba. Jauh lo..." godaku lagi.

Kau tersenyum. Matamu tertuju ke jauh kota di bawah sana. Ketika kukatakan bahwa kota yang dikihatnya adalah Telukbetung, kau kembali tersenyum dan sedikit mengangguk. 

Setelah itu kau menatap papan nama kafe, Waroeng Diggers. Ini kafe sudah lama ada. Mungkin tertua di kota ini, selain Kafe Yayang di Cut Nyak Dhien Palapa.

"Kamu biasa ke sini?" kau bertanya. "Sepertinya kau suka ke kafe, begitu hapal lekuknya dan tahu nama-namanya di luar kepala."

"Aku hanya perlu inspirasi," balasku. Kau melihat wajahku.

"Tidak untuk di luar itu? Maksudku yang lain?"

"Mengamati dan menyimak pengunjung kafe."

"Mau dijadikan sumber cerita?" 

Aku menggeleng. Dalam mengamati orang, imajinasiku menjadi berkeliaran. Aku mencoba menseketsa watak tiap orang yang kelak kuminta jadi tokoh-tokoh dalam cerita-ceritaku.

"Kalau tak salah kamu pernah menulis cerita 'Bulan Rebah di Meja Diggers' dan 'Pengunjung Terakhir di Kafe itu' kalau tak aku tak salah ingat," ujarmu kemudian setelah terdiam beberapa menit.

"Ya, yang pertama memang kujadikan judul buku kumpulan cerpenku. Bahkan peluncurannya di sini. Tetapi satunya aku lupa persis judulnya. Cerita itu sudah dimuat media dan ada dalam kumpulam cerpenku. Nanti kuberi tahu jika aku sudah ingat," jawabku.

Maklumlah! Cukup banyak aku menulis, jadi tak semua karyaku bisa kuingat dengan baik. Tetapi benar bahwa aku suka kafe. Aku berkunjung ke kafe-kafe. Perjalananku dari kafe ke kafe, bukan hanya suka melainkan meluruskan inspirasi.

Kau menyimak penjelanku. Diam. Sesekali matamu tajam menujah wajahku, lain waktu seolah menjilati seluruh tubuhku. Sebetulnya di BL ini banyak kafe. Bagai jamur yang tumbuh saat musim hujan. Kafe dan coffee saling berdampingan dan berpelukan.

"Kau suka ke sana dengan perempuan?" tanyanya santai.

Aku menggeleng.

"Tapi dengan siapa pun. Kadang bersama kawan, lelaki semua. Lebih sering seorangan. Sesekali ya, misalnya ketemuannya di sini tak sengaja. Tetapi kalau urusan pekerjaan ya memang enak ngobrol di kafe," kataku berterus terang.

"Lalu siapa tokoh perempuan di dua ceritamu?" tanyamu kemudian.

Untuk pertanyaanmu yang ini, aku berat menjawabnya. Tokoh-tokoh dalam ceritaku harus kulindungi. Kepada siapa pun tak kuberi identitasnya. Kalau nama semuanya adalah samaran. Sebagaimana wartawan menulis inisial untuk sumber yang masih dugaan dan wajib dilindungi.

Kau kembali diam. Tidak melanjutkan pertanyaan. Langit tampak menghitam.

*

TANPA kuduga kau mengajukan pertanyaan yang sesungguhnya mudah, namun pasti sulit menjawabnya. 

"Kenapa tak menulis roman saja? Sekali saja dalam hidupmu, sepanjang kepengaranganmu. Tak perlu panjang-panjang, 200-an halaman saja."

Aku kini yang tercekat. Ini pertanyaan sekakigus keinginan yang kerap kuterima. Pertama kali kuterima dari seseorang, perempuan cantik berusia 21 tahun di sebuah diskusi. Lalu kawan-kawanku, pembaca fanatikku.
Kukatakan fanatik, karena mereka tak lagi perlu apakah karyaku baik atau buruk, bagaimana cerita dalam tulisanku. Mereka mengibaratkan diriku sama halnya Jecky Chan atau Shahru Khan. Orang tak lagi penting soal cerita, karena sudah terhibur kehadiran aktor itu.  

"Anda adalah puisi atau prosa itu sendiri!" ujar seorang pembaca.

Aku tidak begitu terpengaruh dengan sebutan. Termasuk predikat ataupun gelar. Aku hanya menulis. Berkarya. Tak kupukir apakah beraroma sastra ataupun bukan. Hidupku sudah kudermakan di jalan sunyi dan tidak menjanjikan masa depan. Itu menurut kebanyakan orang. Terbukti, cita-cita menjadi seniman -- sastrawan -- masih di nomor sekian. Orang tua juga merasa aneh apabila anaknya berkeinginan jadi seniman, mendapatkan menantu seniman.

Hanya berapa banyak seniman yang sebenar-benar seniman bisa hidup layak dari penghasilannya. Mereka yang berkecukupan, karena di luar kesenimanannya punya kerja utama: ASN atau bekerja di swasta.

Aku? Sudah memilih jalan kesunyian ini. Tak goyah. Geming. Lamunan terganggu ketika suaramu memecah. Kendati lembut.

"Aku juga menyukaimu, bukan lagi karya-karyamu. Tapi aku selalu menghabisi tiap karyamu dari judul sampai titik terakhir paling akhir," katamu. 

Terdengar memujiku. Ah, pujian! Aku sudah khatam. Tak akan tergoda.

Betapa pun kau adalah perempuan cantik yang pernah kupandang. Seorang perempuan dari keluarga mampu, tapi sejak remaja rakus membaca karya-karya sastra. Memiliki banyak kliping koran dan koleksi buku sastra para pengarang dunia.

Hampir tak pernah kudengar kau berujar belum membaca, jika kusebut buku karya seorang sastrawan. Tetapi, "Wah, sudah dua kali kutamatkan. Ceritanya asyik."

Atau, "Aku sudah baca namun kurang menarik. Langsung kuletakka di rak buku teratas."

Kalau sudah begitu, alasan buku itu tak turun lagi. Kau akan melupakan.

....
(Bersambung)