Selamat Jalan Damiri Mahmud, Penyair dan Guru Kami...
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Selamat Jalan Damiri Mahmud, Penyair dan Guru Kami...

bdy
Senin, 30 Desember 2019

Pengantar: Selamat jalan penyair! Damiri Mahmud, penyair Indonesia asal Deliserdang, Sumatera Utara,  berpulang ke pangkuan Allah, Minggu (30/12) pagi tadi. 

Dunia sastra Indonesia kehilangan seorang penyair yang di masanya sangat kuat, bukan saja puisi-puisinya melainkan pemikiran kebudayaannya. Di bawah ini kami kutip In Memorium yang diulis okeh Asro Kamar Rokan (Jakarta) -- sastrawan dan wartawan -- dari status Asro yang dibagi ke dinding FB Damiri Mahmud Mahmud.
.........................


BANG DAMIRI MAHMUD, PENYAIR DAN GURU KAMI, TELAH PERGI

Oleh Asro Kamal Rokan


KABAR DUKA itu datang sekitar pukul 11.00. Suryadi San, sastrawan Medan, mengirim WhatsApp: Innalillahi wainna illaihi Rojiun, telah berpulang ke pangkuan Allah SWT, penyair, budayawan, dan kritikus sastra Damiri Mahmud, Senin (30/12/19).

Saya terhenyak dan mencari kabar dari teman lain. Benar, Bang Damiri Mahmud wafat sekitar pukul 10.00 di rumahnya, Hamparanperak, Deli Serdang, Sumatera Utara. 

Sudah cukup lama kami tidak bertemu muka, sejak saya ke Jakarta 1986. Semasa di Medan, bersama kritikus sastra Mihar Harahap dan penyair Wirja Taufan, kami sering ke rumah Bang Damiri, yang saat itu di Perumnas Helvetia. Bang Damiri senior kami, guru tempat kami belajar. Puisi maupun esay, telah bertebar di berbagai surat kabar di Jakarta dan Medan, termasuk Majalah Sastra Horison.

Pada 1985, saya mewawancarai Bang Damiri soal sastra kontekstual, yang digagas Arief Budiman. Perdebatan sastra kontekstual saat itu sedang heboh di Jakarta. Bang Damiri menyebut gagasan Arief itu mengingatkannya pada Lekra. Hasil wawancara tersebut saya kirim ke Harian Merdeka, Jakarta. Saat itu, saya reporter Merdeka di Medan. Wawancara tersebut mendapat respon luas di Medan maupunJakarta.

Bang Damiri adalah guru kami. Semasa kami junior, Bang Damiri mendorong kami untuk terus menulis karya sastra. Ketika diskusi cerpen saya di Taman Budaya Medan, pada 1985, Bang Damiri hadir, antara lain bersama bang BY Tanda (alm), Bang NA Hadian (alm), dan sejumlah sastrawan senior lain. Ini kehormatan bagi saya.

Bang Damiri, yang dilahirkan di Hamparanperak, 1945, telah melahirkan banyak buku. Dalam buku berjudul "Menafsir Kembali Amir Hamzah" pada 2013, Bang Damiri menolak kesimpulan pengamat sasatra H.B. Jassin, A A Teeuw, Abdul Hadi WM, dan Sutan Takdir Alisjahbana, yang menyebut Amir Hamzah penyair sufi. 

Menurut Bang Damiri -- seperti analisa Dr. Phil. Ichwan Azhari, sejarawan dan budayawan asal Medan -- puisi-puisi Amir Hamzah lahir pada masa Amir aktif sebagai pelajar dan pergerakan kemerdekaan. Saat itu, Amir Hamzah belum mendalami tasawuf. Kumpulan puisi Buah Rindu dan Nyanyian Sunyi merupakan puisi kisah percintaanya dengan Aja Bun dan Ilik Sundari. 

Dalam puisi Padamu Jua, lirik //Engkau cemburu / Engkau ganas / Mangsa aku dalam cakarmu/ BertukarTangkap dengan Lepas// -- menurut Bang Damiri bukan puisi sufi. Kalangan sufi tidak pernah menggunakan diksi dengan menempatkan Tuhan sebagai sesuatu yang ganas, tetapi sesuatu yang indah. 

Buku lainnya, Rumah Tersembunyi Chairil Anwar (2014), Ombak 92018), Patung 2018),dan Halakah Panggang" (2018).

Damiri Mahmud (berkopiah)

****

MESKI lama tidak bertemu, dalam beberapa tahun belakangan ini, kami selalu berkomunikasi melalui WhatsApp dan facebook. Selama dua tahun belakangan, menjelang Idul Fitri, Bang Damiri mengirimkan bumbu Bubur Pedas, makanan khas Melayu setiap Ramadhan. 

Tahun lalu, bersamaan bumbu Bubur Pedas, Bang Damiri menyertakan juga bukunya, berjudul Halakah Panggang -- Sajak Sajak Pilihan. Buku ini berisi 49 puisi. Salah satu puisinya berjudul Sajak:

Sajak

rintik-rintik bunga
menghirup udara
aku sepi
dalamNya

ringkik-ringkik kata
memacu suara
aku bisu
mengucapNya

kemana perginya bianglala
mencari warna
seketika matahari menyiramnya
kelopak-kelopak makna

maka biarkan aku gaduh
membilang-bilang
nyawa yang tersesat ke dalam tubuh
sendiri pulang

SAJAK HITAM

berenang dalam kamar
mabuk Cengkraman
kata-kata
sepanjang-panjang mencari
a-k-u
hingga habis isi langit
dibongkarnya
jadi besi tua

Allah
(mengapa lupa)
alamat rumahMu dimana

****

BANG Damiri, guru kami, telah pergi selamanya. Allahummagfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu Anhu --- Ya Allah ampunilah, luaskan kuburnya, jadikanlah surga sebagai tempatnya. 

Kami pun segera menyusul ke tempat yang sama. Hidup tidak pernah berbalik, menunggu waktu berjalan menuju alamat yang sama...

Jakarta, 30 Desember 2019.