PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (17)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (17)

bdy
Rabu, 08 Januari 2020



AKU mulai jemu menunggu rumah Rena. Ingin segera kutinggalkan tempat yang mulai kurasa bukan di rumah mewah, tapi di palung hutan. Sepi. 

Sudah tiga minggu Rena yang katanya ke Bali mengurus uang peninggalan suaminya. Tiga pekan pula aku seakan disekap di penjara. Meski keperluanku dipenuhi Rena, namun aku sudah tidak betah lagi tinggal di rumah ini.

       apa arti tinggal di rumah mewah
       dan besar, kalau aku selalu gelisah
       hari-hariku dirajam sepi; kesepian
       tanpa aku melihat siapa
       dan siapa memandangku...

Tulisan itu, ditulis tangan menggunakan spidol merah ditempel di sebelah cermin hias. Aku yakin itu tulisan Rena. Setiap bercermin, tulisan itu pasti terbaca.

Rena berulang meneleponku. Ia memberi tahu bahwa belum bisa pulang. Kalau urusannya selesai segera kembali. 

"Semoga kamu kerasan. Anggap rumah sendiri ya. Tak usah bebersih, biar si Nunun. Dia datang hari Minggu. Kalau kamu pergi, bawa saja kunci. Nunun punya kok..." kata Rena dalam telepon.

Yup! "Aku sudah sering keluar kok. Bosan di rumah terus tahu, sendiri lagi!" balasku.

"O ya? Ke mana? Kafe ke kafe? Sama Dinda? Atau Sani? Asyik dong," ledek Rena.

"Ya selain mereka, ada Nita. Beberapa hari lalu ketemuan di Marley," jawabku.

"Lalu?"

"Mau tahu, apa mau tahu banget?" jawabku. Aku canda, Rena tertawa.

"Terserahmulah Busye," ucap dia kemudian. "O ya tolong ya tunggu rumahku selama aku belum pulang. Aku kuatir kalau kosong," Rena melanjutkan.

"Ok. Kamu hitung saja sehari berapa, sekarang sudah tiga pekan," kataku. Tertawa.

"Siaap."

"Aku canda. Jangan Rena..."

"Iya juga tak apa-apa. Wajar kan. Lagian kalau kuminta orang lain yang jaga juga harus bayar..."

"Kalau kau bayar aku, artinya aku ini orang lain..." balasku.

"Memangnya kau anggap aku apa.  Ayo..."

"E e e..."

"Kenapa gagap?"

Aku tak respon.

*
Rena menelepon kembali satu jam kemudian. Alasannya kangen mendengar suaraku.

"Kayak anak remaja pakai kangen suara... ha ha."

"Lha emang tak boleh. Haram?"

"Iya gak juga. Sudah ah, kalau ketemu puaskan kita ngobrol...."  selaku.

"Kalau kangennya sekarang, masak ditunda. Lucu kamu ah Busye!"

"Karena gak asyik lewat telepon," aku memancing.

Aku dan Rena terbilang selalu apa adanya. Kadang kalau sedang bicara kami kerap blak-blakan. Berbeda dengan Dinda. Ia serius tapi juga humoris. Hanya dia tidak suka blak-blakan apalagi soal menjurus seks. Tapi Dinda kuakui eksotis.

"Apa kabar Dindamu?" Rena meneleponku.

"Dindaku?".

"Iya yalah..."

"Ya kok..."

"Dinda itu suka padamu. Kau aja yang gak ngerasa..." ungkap Rena kemudian.

"Ia temanku."

"Kalau aku... "

"Entahlah...." jawabku. "Off dulu ya Rena, lagi lajutkan novelku. Malam nanti aku jalan dulu...".

"Ke mana? Kafe?"

"Ya. Ada yang ajak ngobrol. Di Kedai Santap...."

"Taman Untung? Sama Sur? Salam dariku ya...."

"Bukan bersama dia."

"Lalu..."

"Lanang, kawanku."

"Oo..."

"Ok," balasku.

Telepon kututup. Mode hening kupilih. Kuletakkan di sebelah laptop. Meneruskan bab 27.

SANTI menemuiiku di Diggers. Dia bersama Lina. Nama dan wajahnya mirip Mpo Alpa -- komedian OVJ -- meski Lina lebih sedikit cantik. Santi sering ke kafe ini. Sekadar santai atau menunggu pria yang mau membokingnga.

Ia pilh kafe ini lantaran strategis. Juga mudah dijangkau. Suasananya enak. Bisa menikmati kota di malam hari. Tak ada yang curiga.

Santi memilih meja di sudut kanan. Penerang remang. Seorang pria menghampirinya. Berbincang sesaat. Pesan minuman. Tertawa. Lalu keduanya beranjak.

Lina sendirian. Asyik dengan rokoknya yang selalu terselip di jemari kirinya. Pandangnya selalu ke kota di bawwh selayaknya dikerubuti kunang-kunang. 

Seorang lelaki mendekatinya lalu duduk di sebelah kanan Lina. Sekejep tiada suara.

"Sudah lama?"

"Lumayan."

"Maaf tekat. Jalan macet," kata si lelaki minta permakluman.

"Ya. Maklum. Bukan kota kalau tak macet. Tinggal kita jeli cari jalan agar tak terjebak kemacetan," balas Lina.

"O ya. Pasti. Tapi kalau tak ketemu, ya nikmati. Untung tak diserang hujan," kata si lelaki.

"O ya, kamu sudah pesan?" si lelaki mengalihkan percakapan.

"Nunggu kamu.  " 

"Ok. Kamu mau pesan...."

"Jus orange. Tolong rokok ya.  Sudah habis nih."

"Oke."

"Ke sini dengan siapa?"

"Santi. Dia sudah pergi."

Diam. Keduanya bertatapan. Menyeruput minuman. Langit hitam sekali. Bintang ditutup pekat awan. Barangkali akan hujan. Mungkin sesaat lagi hujan turun.

Lina begitu tenang. Geming di sebelah si lelaki. Asap rokok menguar ke udara. 

Pengunjung terus berdatangan. Live musik masih berlangsung  Seorang pengunjung naik ke panggung setelah namanya dipanggil. Menyanyi satu lagu.

Lina, wanita yang datang ke kafe itu, mulanya hanya iseng  Ingin menghilangkan kesuntukan. Usianya baru 19 tahun. Menolak dijodohkan orang tuanya dengan lelaki yang tak dicintai, akhirnya diusir dari rumah. 

"Keluargaku berutang jasa dengan pihak lelaki itu. Selain pinjam uang juga melunasi uang ayah pada pengijon," cerita Lina.

Santi mendengar tiap kalimat yang meluncur dari bibr mungil Lina. Keduanya baru berkenalan di kafe ini. Tidak terduga. Seperti cocok lalu keduanya saling mengabarkan keadaannya. Santi prostitusi jalanan, Lina adalah penghibur di tempat hiburan. Lina dan Santi jika sedang tak bertugas, bertemu di sini. 

Lina datang ke kota ini karena cekcok, terutama ayahnya. Ia dijodohkan dengan pria yang tak dicintai. Pernikahan balas jasa.

Ayahku berutang, ia ulangi ucapannya untuk menegaskan, lalu ia ingin menjodohkanku. Alasannya balas budi. Sayangnya aku tak mencintai. Lelaki itu 50 tahun di atas usiaku. Ia kaya dan sudah memiliki dua istri. Ia menginginkan aku sebagai yang ketiga. Kalau aku menerima pinangannya, ia akan beri aku sebuah gudang beras dan mesin penggiling padi + mobil bak terbuka. Pada kedua istrinya lain, juga mendapat "hibah" yang berbeda-beda. Lelaki bandot itu tinggal ongkang-ongkang, dan jika terpanggil berahinya didatangi istrinya.

"Bayangkan kalau aku mau. Hanya selir yang dikasih kerjaan, tapi hasilnya buat makan keluarga. Jelas aku nenolak. Enak benar lelaki!

Apakah nasib perempuan hanya begitu? Dari kasur, dapur, sumur, ditambah mencari uang dan melayani suami pula? Di mana keadilan?

Ayahku berang. Ia menuding aku anak durhaka. Berani melawan, protes soal keadilan. Kata ayahku, dia sudah mengurus dan membesarkan aku  karena kewajiban.

"Sudah besar kamu tak membalas, itu kewajiban seorang anak pada orang tua!" 

Hampir saja tangan ayahku yang jemarinya penuh cincin akik itu mendarar di wajahku. Aku menangis sekuat-kuat. Walau belum terkena tamparan dan tinju ayah.

Aku masuk kamar. Kututup wajah dan telingaku dengan bantal. Sayup-sayup suara ayah marah-marah sampai. Ia berkata pada ibu: "Seharusnya Lina nurut. Kita orang tuanya. Tak akan membuatnya sengsara. Jarwo memang sudah tua, tapi dia kaya!"

Kewajiban orang tua, masih kudengar suara ayah, mengasuh dan membesarkan. Mengasih makan dan menanam ilmu serta keimanan. Balas anak adalah sopan, manut, dan membahagiakan orang tua.

Aku diam. Kuselimuti seluruh badanku. agar ocehan ayah itu tak sampai ke telingaku. Ibu tidak berani membantah, apalagi membelaku terang-terangan.

Sampai di situ, belum tahu ke mana kuteruskan ceritaku. Kisah Lina sementara kuhentikan di situ. Malam nanti akan kulanjutkan.

Laptop kututup. Dinda menelepon kalau ia kembali ke rumah sakit. Mengharap aku segera ke RS Advent. Dia ingin ditemani olehku. Boleh jadi Dinda rindu, atau hanya mau dipehatikan.

Manja dan minta dimanja?


(Bersambung)