PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (19)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (19)

bdy
Jumat, 10 Januari 2020




AKU semakin dirajam jemu. Benar-benar bosan. Tidak biasa menempati rumah sebesar ini, penuh kesunyian, tanpa komunikasi dengan tetangga, bahkan antartetangga sungguh bagaikan sesama orang asing. 

Duduk di teras lantai dua rumah Rena. Aku hanya melihat taman di depan rumah, tapi tak juga menyegarkan pikiranku. Jiwaku berdegup. Gelisah. Kuhampar pandangku ke pantai jauh di sana, juga tetap saja aku gelisah. Pikiranku nyaris buyar berkeping-keping. Terbang serupa asap.

Aku sudah harus keluar dari rumah ini. Tak mau lagi hidup bagaikan dalam sangkar terbuat dari emas. Bayangkan yang kulihat hanya tembok tinggi. Andai penjahat masuk lalu menyayat-nyayat kulitku, siapa yang di luar dinding itu akan tahu. Satpam cuma duduk di pos jaga gerbang masuk. Ia tak tak akan tahu apa yang terjadi di dalam runah warga. Mereka hanya sesekali mengontrol. Itu pun kalau mereka merasa ada yang tidak beres. Selebihnya, tiga satpam itu hanya duduk, bergantian main catur. Lalu tidur di pos ronda. Enak benar mereka. Setiap bulan mendapat upah. 

Di rumah Rena ini membuatku terputus komunikasi secara sosial dengan kawan-kawan, yang tentu sangat membantu dalam proses kreatifku menyelesaikan novelku tenang dunia kafe. Aku merindukan Iful, Alfa, Yuri, Gus, dan lain-lain. Di mana mereka?

Ah! Dinda yang biasanya menghubungiku sekadar bertanya "nasibku" atau berdiskusi soal novelku, sejak empat hari lalu tanpa kabar. Sudah tiga kali aku kirim WA menanyakan keberadaannya, sejak ia cek kesehatan di Advent, tidak dibalas. Aku telepon tak direspon padahal dalam keadaan aktif. 

Ya, Sur juga sulit kuhubungi. Signal selalu bermasalah. Apakah dia di pedalaman sehingga signal sulit dijangkau? Atau ia tak mau kuhubungi. Hanya minggu lalu Sur meneleponku. Ia bertanya soal Dinda apakah bersamaku. Kujawab, tidak. 

"Dia pernah neleponku. Entah dari mana ia tahu. Kaukah yang kasih?" kata Sur.

Aku katakan, memang aku yang memberi nomor dia kepada Dinda. "Dia minta katanya perlu. Bisnis. Ya aku kasih saja..." jawabku. "Gak ada masalah kan?"

Sur tertawa keras.

"Aku merdeka kawan. Tidak terikat dan belum.ada yang mengikat. Apalagi buat secantik Dinda..." kata Sur.

Sungguh, hatiku berdebar-debar mendengar ucapan Sur barusan. Pikiranku melayang-layang.

Dinda menelepon Suryadi

"Halo..." 

"Ya, siapa ini?

"Lupa ya mas Sur dengan suaraku?" tanya Dinda.

"Bukan saja lupa. Saya belum pernah dengar, jadi tak tahu. Siapa ya?"

"Ah masak...."

"Sumpah. Ya sudah kalau tak diberi tahu siapa kamu. Jangan hubungi saya... kuturup ni telepon....:

"Gak nyesel kalau ditututup? Tak ciren ya dengan suaraku...."

"Tak. Sudah ya...: kata Sur mau menitup percakapan.

Dinda sergera mencegah.

"Jangan! Aku Din  .."

"O Dinda, maaf, kawan atau apa pacar Busye - sastrawan itu..."

"Hihihi.  Sudah ya mas,, aku tutup."

"Jangan. Belum juga ngomong...:

"Kata mas mau tutup. Lagian siapa bilang belum ngomong. Ini apa gak ngomong..  hehe."

Sur mulai terpojok oleh gaya Dinda. Perempuan ini memang pandai mengaduk-aduk perasaan dan emosi kaum lelaki. Dia bisa tenang dan bisa pula agresif. Kalau dia rindu akan dikejar yang dirinduinya. Tetapi kalau ia dirindui, bisa ditutup akses itu. Barangkali ia tertawa satau sambil tersenyum-senyum saja. Aku tahu benar, bagaimana gaya Dinda.

"Ya, sekarang jangan. Kan sudah tahu. Apalagi yang mengepeon, si cantik...." kata Sur. Sang buaya darat sedang menyiapkan jebakan. 

Sur kutahu sejak kuliah pandai menundukkan perempuan. Ia biasa gonta-ganti pasangan kekasih. Seluruh cerwek kampus yang cantik telah masuk dalam jebakannya. Sampai akhirnya ia menikah dengan Ayu. Tetapi karma itu selalu ada; Ayu sleingkuh dengan mantan pacarnya sewaktu SMA. Berpisah. Sur menduda. Ia menjadi lebih ganas di depan perempuan.

"Lalu..."

"Maumu?" tantang Dinda.

"Yuk ketemuan..." 

"Di mana? Nanti ketahuan Busye..."

"Memang kenapa?"

"Gak enak aja."

"Ya sudah cari tempat yang asyik, yang tak mungkin Busye hadir atau datag," ucap Sur.

Ia mulai melancarkan jaring-jaring jebakannya. Ia lempar jala ke laut lepas. Berharap sesaat lagi ikan tertangkap. Masuk dalam jebakan. Dalam pelukannya.

"Di mana?" ujar Dinda. "Aku belum banyak tahu di sini..."

"Ke DMC Cafe? Mau? Tahu?"

"Waduh, belum tahu aku mas Sur."

"Aku jemput, mau? Di mana?"

"Ya sudah, jemput aku di depan Tribun Gedungmeneng ya? Atau di Tenda Biru aja, sekalian aku mau makan pempek. Bagaimana?"

"Oke, siapa takut?" canda Sur.

Suryadi meluncur dengan terano-nya. Dinda merapat ke Tenda Biru. Ia memesan beberapa buah pempek. Dinda sangat suka pempek. Kabarnya, ayahnya asli wong Palembang. Ibunya Sunda. Itu sebabnya Dinda kerap berlogat Palembang maupun Sunda. Misalnya, "Idak Bulih" atau "Aya-aya wae." Begitulah Dinda. 

Setengah jam berikut, Sur sudah memarkir mobilnya di depan Tenda Biru. Ia menongolkan kepalanya dari jendela. Dinda tersenyum. Berdiri dan menuju kasir. Keluar. Membuka pintu kiri mobil Sur. Duduk di sebelah lelaki duda itu, pengusaha, pemborong. Teman Busye yang juga kawan akrab Dinda. Sur yang akan membiayai penerbitan buku novel Busye.

Setelah di jalanan, terano Sur meluncur lanca. Keduanya menuju DMC Cafe di bilangan Garuntang. Menyeruput kopi dan berbincang banyak. Mereka tentu cocok; sama-sama pernah merasakan hidup berumah tangga. Sama-sama menjalani kesendirian. Sama-sama kesepian...

Ah! Tetapi, bagaimana dengan Busye? Apa Dinda tega mengkhianati pengarang itu? 

"Aku tak pernah berkhianat," desis Dinda.

"Aku dan Busye hanya kawan diskusi. Kalau kami berpacaran, tapi ia tak pernah mengungkapkan hal itu selama ini..." ucap Dinda saat ditanya Sur soal hubungannya dengan Busye.

"Busye memang tak pernah mengatakan ia mencintaimu?" tanya Sur.

"Tak pernah."

"Apa dia gak pernah menunjukkan perhatiannya padamu?"

"Kukira sebatas wajar. Belum khusus..."

"Katanya dia pernah mengantar atau menemanimu ke rumah sakit?"

"Sebagai kawan, apakah itu khusus?" tanya Dinda. "Kukira biasa-biasa saja. Seperti aku sering memberi masukan soal karya-karyanya. Atau ketika ia sakit dan kubawakan makanan ke rumahnya. Mauku adalah kalau benar ia mencintaiku, katakan. Bukan diam..."

"Apakah kau butuh pernyataan?"

"Untuk keyakinan, sangat dibutuhkan!"

"Kalau ada lelaki lain yang mengatakan itu, kau akan terima?"

"Lihat dulu siapa..."

"Ooo..."

"Kalau Busye?" desak Sur.

"Lihat dulu. Serius atau main-main..."

"Kalau serius? Kalau main-main?"

"Kalau serius aku tanya siap ke penghuli langsung atau butuh waktu tahun depan? Kalau main-main baiknya jadi teman tapi mesra..."..

"Ribet. Ruwet."

"Mas Sur juga yang mulai," balas Dinda.

Keduanya lalu tertawa.

Tiba-tiba Dinda ingat Busye. Ia sangat rindu. Sudah tiga bulan tak saling berkomunikasi. Apakah Busye juga merindukannya? 

Kemarin Busye bersama Dinda di Diggers. Ketika asyik berdua, mincul Rena. Tak lama dari itu datang Santi. Wajah Dinda berubah. Masam. Cemberut. Bibirnya yang dihiasi lisptik merah terlihat biru di mata Busye.

"Kamu cemburu?"

"Begitu pula waktu kulihat atau kudengar kamu bersama Sur. Aku cemburu," batin Busye.

Aku tak akan berani mengucapkan itu di hadapan Dinda. Bukan tipe lelaki pemberani. Meski Dinda selalu membuka diri agar aku berani. Berulang ia lakukan, hanya aku tak pernah merespon.

(Bersambung)