PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (22)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (22)

bdy
Selasa, 14 Januari 2020



BEL rumah Rena berdentang. Segera aku turun dan menbuka gerbang besi yang lebar dan tinggi, seperti menyelimuti rumah besar ini. Perempuan setahun usianya di atasku itu keluar dari taksi bandara. Ia segera memeluk dan mencium pipiku.

Supir menurunkan koper dan barang lainnya dari bagasi. Segera kusambar lalu kubawa masuk. Tak perlu dua kali mengunjal.

"Apa kabar Busye? Nyaman kan tinggal di rumahku?" tanya Rena, mengulang mengecup pipiku. 

"Ya baik. Nyamanlah..." 

Padahal ketika beberapa minggu ia tak juga pulang, sudah kukatakan tak lagi betah. Aku sudah rindu dengan rumah sendiri. Pasti kotor, berdebu, dan pengap. Karena selama aku tinggalkan, tak kusapu dan pintunya selalu tertutup. 

Saatnya aku bersihkan rumahku. Akan kubuka pintunya lebar-lebar. Udara perlu berganti. 

"Kau belum tinggalkan rumah malam ini kan?" 

Aku tak menjawab. Sebenarnya aku sudah harus pergi setelah Rena tiba. Tidak ingin serumah walaupun kami berbeda kamar. Jika tetanga tahu di rumah ini ada dua makhluk lain jenis dan bukan muhrim, mereka akan mendobrak gerbang lalu meneriaki kami. Aku dan Rena keluar rumah mendekati warga. Kemudian kami digiring ke rumah ketua RT. Diintrogasi sebelum diserahkan ke polisi.

"Ini siapa bu Rena..."

"Jangan cemari kompleks."

"Kalau mau begituan bawa dong ke hotel. Bukan di rumah."

"Dasar...."

"Diam!" Rena membentak. Seluruh warga yang beraea di rumah RT terdiam. Tak satu pun berani memandang lepas ke kami.

"Dia Busye. Seorang penulis. Ia menunggu rumah saya sambil menyelesaikan novelnya. Sedang saya berada di Bali. Jadi kami tidak serumah. Baru malam ini sebab saya baru pulang," jelas Rena. Matanya merah.

"Karena sudah malam, dia saya larang pulang malam ini..." lanjutnya.

Diam.

"Hei ngelamun... " aku kaget. Rena sudah berdiri di ambang pintu. Aku lupa mengunci bahkan pintu dalam keadaan terkuak sedikit. Rena langsung ke ranjang, dan tidur di sebelahku.

Segera kubalikkan tubuhku. Ia kupunggungi. Tetapi sejam kemudian, kukira, aku merasakan aroma napas Rena. Dekat sekali di hidungku. Pura-pura mendengkur, ia menjauh. Semakin menjauh, sebab tak lagi kurasakan aroma napasnya.

Aku bermimpi. Dinda menemuiku di rumah ini. Kukira tadinya kedua perempuan ini bakal cakar-cakaran lantaran cemburu, ternyata tidak! Keduanya asyik bercanda. Bahkan memasak untuk makan bersama. Lantas pikiranku galau: jangan-jangan keduanya memang hanya menganggapku teman. Tidak lebih dan tak pula kurang. 

Ah! 

*

Aku terbangun pukul 02.10. Ingin ke kemar kecil. Benar. Rena terlelap di sebelahku dalam keadaan dasternya tersingkap ke dekat perutnya. Aku tergoda oleh tubuhnya. Boleh jadi semalam kami telah melakukan sesuatu. Atau aku hanya dipeluknya. Oh tidak, aku ingat kami berpelukan. Berpelukan. Hingga aku terlelap. 

Kekuar dari kamar kecil, kubuka laptop. Aku meneruskan tugasku. Mengedit dan memperbaiki typo tulisanku. Dari cermin di depan mejaku, jelas kulihat Rena terlelap. Pakakaian tidurnya tersingkap makin naik. Lipstiknya masih membayang. Mataku kembali ke baris-baris tulisanku. Jemariku menekan tuts laptop. Merapikan kata yang salah ketik. Menghapus diksi atau kalimat yang tidak pas!

Biasanya mengedit sekaligus merapikan seperti ini tidak lama. Tetapi kali ini karena pikiranku terpecah oleh sebab kemolekan Rena. Jantung berpacu kencang. Saling berkejaran dengan otakku yang kian spaning. Beginikah perasaan yang sama menerpa Adam, ketika Hawa membujuk kekasihnya untuk mengambil buah khuldi, dengan alasan ia ingin sekali abadi di surga?

Akulah Adam, ia adalah Hawa. Rena seakan menawarkan khuldi dari pohon surga. Ia tak merayu habis-habisan, cukup buah itu yang ranum dan merangsang diletakkan di tubuhnya, aku pun luluh. Aku tak bisa lagi menolak, kumakan buah itu yang katanya membuat manusia pertama itu hidup abadi di dalam surga.

Begitulah aku dan Rena. Akhirnya terlontar jauh. Terlunta dalam kenimatan tiada tara meski sesaat. Lalu kami melata ke gurun, gunung, hutan, pantai, payau...

Pukul 08.11 Rena sudah menghiasi wajahnya di cermin.  Sesekali matanya tertuju ke laptopku. Ia membaca bagian ini.

KATAKAN saja lewat matamu atau gesture, bukan dengan bahasa yang berbunga. Aku sudah tak mempan dirayu. Apalagi digombal ala anak alay. 

Aku dengar jelas ketika Rena mengucapkan itu, beberapa menit kafe D Coffee akan tutup. Pengunjung tinggal tiga meja, empat dengan kami.

Rena akhirnya pulang. Aku buru ia hingga di halaman parkir. Kupanggil dia.

"Kamu tadi ngomong denganku kan? Apa kau tak merasakan bagaimana selama ini aku...."

"Ya aku rasakan. Tapi aku lebih merasakan bahwa kamu belum seluruh lakukan itu. Ada yang masih mengganjal. Hatimu bercabang. Jangan bantah, perasaan wanita lebih tajam."

Aku diam. Rena terus menyerocos bagai ledakan petasan. Ia ingin aku tegas: pilihnya atau Dinda.

Semalam kami tidur bersama. Rena masuk ke kamar yang pintunya lupa kukunci. Aku hanya merasakan aroma napasnya. Aku luluh. Kupeluk ia karena lebih dulu merangkulku. Lalu kami melakukan hubungan.

Rena terbangun pukul 10.11. Bukan lagi pagi. Ia ke kamar mandi. Aku menulis.

*

"Busye....."

"Ya."

"Bagian ini kapan kau tulis?"

"Waktu kamu di Bali."

"Kenapa kejadian sama degan peristiwa semalam?" tanya Rena. Aku lihat wajahnya ingin sekali penjelasam.

"Entah. Yang jelas dalam bagian di novelku itu hanya imajinasi...."

"Tapi yang aku heran, kejadiannya persis dengan semalam," katanya malu-malu.

Aku diam.

Rena baru tahu kini sastra itu futuristik. Imajinasi kadang jadi kenyataan nanti.

Usai mandi aku pamit. Aku sudah rindu dengan rumah. Malam nanti Dinda mau mengajakku kafe Pustaka Kopi BK Permai. Ada yang ingin diobrolkannya. Aku setuju. 

(Bersambung)