PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (26)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (26)

bdy
Senin, 20 Januari 2020


DINDA terbangun 30 menit sebelum aszan subuh. Ia biasa jogging pagi, itu sebabnya tubuhnya selain atletis juga mengasyikkan. Turun dari tempat tidur langsung merangkulku dari belakang.

"Kamu belum tidur?" tanyanya manja.

"Belum. Usai ini aku tidur. Boleh bangunkan aku kalau kamu mau jalan-jalan," ujarku.

"Oke. Aku olah raga dulu ya. Kau mau olah raga juga?"

"Ya. Kau saja ya, berani kan?"

"Sip."

Sebelum melepas rangkulan di bahuku, ia berhenti mendadak. Matanya tertuju pada bagian mengisahkan Heri, kawanku di pers yang kini jadi pengusaha.

Heri memarkir mobilnya di halama Lounge Kafe Pagaralam. Masih sepi di sore menjelang magrib. Lalu mencari meja di bagian depan menghadap jalanan.

"Lebih santai," katanya. Lalu ia mengaku masih kecewa karena tak mendapatkan durian yang diharapkan. Sampai tiga kali diganti. Sampai dua pedagang, dan yang ketiga masih lumayan.

"Sayang tadi hujan," katanya kemudian. Kami beru memburu lokasi wisata durian, "Puas-Puas Makan Durian". 

Cukup lama kami diam.

"Kau tahu WA bos survey yang viral?" Heri membuyarkan keheningan. Aku memandangnya. Ia mau mengajakku berdiskusi politik. Aku tahu betul, sewaktu kami bekerja di pers Heri adalah redaktur politik dan rubrik opini. Lulusan FISIP sangat pas menggawangi halaman itu. Sedangkan aku selain halaman sastra tiap Minggu, juga halaman senibudaya. Itu spesialisasiku setelah beberapa tahun jadi wartawan di pos kepolisian.

"Ya aku pernah baca dan juga dengar. Kabarnya rame ya? Tapi asli tak WA dia buat Luhut itu?" tanyaku kemudian.

"Soal WA palsu atau asli, itu soal lain. Cuma masalahnya, saya belum dengar ia membantah," tegas dia.

"Tetapi," kataku. "Soal begitu dalam politik sah-sah saja. "Untuk jadi di KPU, KI, KIP, Panwaslu, dan lembaga sejenisnya, kerap berseliweran WA dan telepon. Kawanku yang punya kedekatan dengan tim seleksi KPU pernah bercerita diminta untuk membantu. Lumayan, yang diperjuangkannya lolos. Walau tak semua," lanjutku.

"Sebetulnya dalam dunia politik itulah yang sering terjadi," timpal Heri.

Diam sesaat. Ia seruput kopi tanpa gula di meja.

"Jabatan dalam politik diperoleh dari lobi-lobi dan koneksi, dengan tawar menawar dan jual beli tertentu. No free lunch,  istilahnya. Enggak ada makan siang yang gratis," tandas mantan wakil rakyat ini.

Soal lobi dan koneksi, suatu kesempatan lalu, ia juga menekankan. Seperti kesepakatan yang tak sepakat dalam sidang di Dewan. Akhirnya disetujui setelah adanya lobi seruangan, obrolan sepetak lobi hotel, atau di meja makan.

"Semua itu bukan rahasia!" tegas Heri. 

Dalam politik, ia pernah gagal di periode kedua. Itu tak lain karena kurangnya koneksi dan minimnya akomodasi. "Aku kekurangan peluru, ya kalah dalam peperangan."

Aku setuju. Tidak ada makan siang gratis. Artinya tak ada kemenangan tanpa bermodal. Setiap suara rakyat mesti dihitung harganya. Bukan lillahitaala. 

Sampai di sini, Dinda menganguk-angguk. Ia sepertinya puas. Lalu beranjak ke luar kamar. Matahari semburat kuning tampak dari jendela hotel ini.

"Kamu paham juga soal politik ya Busy?" puji Dinda lalu mengecup pipiku.

"Belajar dengan kawanku. Dia dulunya politisi, jadi wakil rakyat, tapi gagal saat maju di periode kedua. Ia pun banting setir. Jadi pengekspor kelapa, pinang, ikan, dan apa saja yang bisa menghasilkan uang."

"Siapa dia? Aku belum dengar tokoh itu. Kamu belum pernar cerita kan? Tapi rasanya gak asing dia..." tanyanya persis di ambang pintu.

"Mulyadi. Suatu saat kukenalkan kamu dengannya ya?"

"Oke..." Dinda melambai. Pintu pun tertutup. Aku ke ranjang. Tidur lagi.

"Tapi, Dinda," sergahku. Ia berhenti. Hanya melongokkan kepala dari sela pintu.."kamu jangan jatuh cinta ya?"

"Ha ha ha." 

Lalu hilang.


(Bersambung)