PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (27)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (27)

bdy
Selasa, 21 Januari 2020


RENA meneleponku. Ia menanyakan kapan mulai survey serba-serbi politik di pemilihan kepala daerah. Kenapa seseorang semangat ingin menjabat bupati ataupun walikota. 

"Kita angsur dari sekarang Busy...." katanya. "Sedikit demi sedikit kan jadi bukit juga," tambahnya.

"Ih, pribahasamu sudah kadaluwarsa, Ren. Ibarat diksi, pilihan katanu tak kuat," ledekku. 

Ia tertawa. Menderai.

"Kapan mulai, Busy?" ulang dia. "Kikira dimulai dari rektor kampus yang mau jadi walikota. Kayaknya menarik. Alalagi cara ia berpakakaian sehari-hari; bergamis."

"Apa yang menarik Ren? Soal pakaian, kukira biasa saja. Kecuali tak mengenakan pakaian, baru heboh!"

"Eh nanti dulu. Kita bisa benturkan antara ia sebagai rektor. Mungkin ia merasa dengan civitas kampus dapat meraup perolehan suara. Padahal berapa jumlah civitas dengan jumlah warga kota," ia menjelaskan. 

"Tapi, bisa saja kan dia menang? Politik tak bisa terka-terkaan. Hari ini bisa kalah, tapi besok boleh jadi sebagai pemenang," kataku.

Entah mengapa aku tak bersemangat menulis serba-serbi pilkada. Kalau pun mau aku pilih dari sudut pandang lain. Misal, calon kada yang mau tampil lagi. Sedang ia pernah jadi kepala daerah di daerah lain. 

"Nah itu oke, Busy. Mengapa ia mencalonkan diri lagi. Padahal dulu saja ia gagal. Sudah tak bisa dijual," kata Rena.

"Lalu kalau dia maju, berarti amunisinya kuat. Siapa yang mengucurkan dananya. Pasti orang kuat atau pengusaha besar. Sementara ini kucuriagi Nyonya Aling turun lagi di pilkada. Hanya kepada siapa uangnya digelontorkan, belum bisa tertebak..." 

"Ini menarik," kataku masih dalam telepon. "Isu kuat mantan dua bupati di dua daerah lain, akan turun lagi. Persoalannya, kekuatan apa yang dipunyainya? Amunisi? Kepercayaan dan dukungan massa. Kalangan mana yang mendukung? Murni memberi dukungan? Atau 1 suara 1 harga? Ini kukira menarik, sampai kita peroleh gambaran siapa pendananya..."

"Oke oke itu. Bagainana Busye kita diskusikan mendalam. Malam nanti kita ketemu di Diggers,, atau di rumahku. Terserah kamu mau di mana..."

"Maaf malam nanti aku ada pertemuan...." kataku. Sengaja tak kuaebut nama Dinda. 

"O begitu. Besok malam ya Busy?"

"Oke Rina, semoga aku tak ada acara ya. Soalnya kadung aku mau menemu Jundi di Kopi Waw Waw...."

"Siapa dia Busye?" 

"Dulu ia di LSM. Mungkin bosen, ia jadi PNS. Tapi naluri NGO dan ormas tak pula surut. Jadi ASN seperti sambilan, NGO kewajiban."

"Ha ha ha..  bisa aja kamu Busye. Lucu ya kawanmu itu," kata Rena tertawa lepas.

"Gak juga. Tetapi ia pintar kapan harus memilih dan memutuskan jalan kariernya. Andai ia masih bertahan di jalan lama, ia tak akan sampai pada kursi pejabat. Tidak pernah menaiki tangga birokrasi yakni jabatan. Ia pandai..."

"Ya ya kau benar, Busye. Ia akan tahu bagaimana menghadapi NGO kalau berdemo. Tetapi anak LSM belum merasakan jadi ASN. Hebatkan kawanmu itu, siapa namanya Busy?"

"Jundi, Rena," jawabku. "Menariknya ia berilmu dalam mengelola ormas ataupun NGO. Maka ia banyak dipakai. Ia juga punya setumpuk jabatan di organisasi; dari soal hewan, manusia, bola dan senibudaya. Ia hebat. Pokoknya..."

Lalu diam.

"Dia juga multitalenta. Seluruh bidang seni kabarnya dikuasai. Ia bisa ngocol tapi bisa juga ngegol bola. Ia bisa metik rebana, kabarnya bisa juga nulis sastra. Kau tahu, ia nulis berita, puisi, cerpen, novel. Hanya nulis kitab suci, dia bilang mati ampun! Ha ha ha...."

"Bukannya minta ampun?"

"Itu diksi sudah kadaluwarsa," balasku.

Kami pun tertawa. Kuat sekali. 

Tak lama dari percakapanku dengan Rena, Dinda meneleponku. Ia batalkan pertemuan malam nanti.

"Maaf ya Busye..." kata Dinda memelas. "Aku kurang sehat. Pening, mual-mual, agak limbung...."

"Hah?" Hanya itu keluar dari mulutku 

"Tenang Busye, tak apa-apa kok. Mungkin karena capek aja. Maaf ya," jawab Dinda. "Kalau kamu keluar juga, boleh kok ajak Rena. Biar ada kawan ngobrol."

"Baik. Tapi bukan bersama Rena. Aku dengan Jundi..."

"O Jundi yang katamu dulunya di NGO?"

"Persis!" kataku.

*

PERCAKAPANKU dengan Rena kuceritakan pada Jundi saat kami bertemu di Kopi Waw Waw. Seluruhnya kuceritakan. Tak kurang dan tak kutambahkan.

"Jadi apa tanggapan dia soalku? Kenalin dong...." ujar Jundi berbunga-bunga.

"Kata Rena, kau pasti tampan. Soalnya kubilang juga kalau kau bergelut pembuatan sinetron. Kau penulis skenario, sutradara, dan pemilih pemain. Yang cantik dan manis-manis, langsung yang memutuskan kau."

Jundi tertawa.

"Kawankan aku dengan Rena. Ia akan kutawan!" ucap Jundi berbahasa gaya sastra.

"Kulemparkan kau ke lautan, apakah Rena akan memburumu dengan berenang?"

"Pasti! Ia akan jadi duyung. Aku nelayan yang menemukan, lalu kuhidangkan ia di pembaringan."

"Dan kau pun menjelma ikan pula. Ikan raksasa. Ikan yang menelan Yunus..."

"Tapi penuh romantis."

"Sebab kau lahir di bulan Juni."

"Aku Gemini. Suka wanita cantik bagaikan baris-baris puisi."

"Kau bintang."

"Mencahayai wajah perempuan. Sepertinya yang patut kucahayai adalah Rena."

"Itu jika dia mau denganmu. Hahaha..." balasku.

Aku selalu mematahkan Jundi dengan cara jitu. Ia pun tak berkutik.

Matanya memerah. Bibirnya bergerak-gerak. Tangannya mengeras. Terutama jemarinya.

Kisah Jundi, saran dari Dinda, masuk dalam satu bagian. "Tak perlu uraian panjang. Tetapi bahwa kisahnya perlu masuk, ya. Agar ceritamu tak lebar ke mana-mana, tak liar tanpa arah."

"Siap. Apa yang tidak kuturuti dari saranmu? Apalagi untuk mempercantik novelku. Ih kamu memang...."

"Memang apa, hah?! Jelek...."

"Cantik...." jawabku pelan, namun tetap didengarnya.

*

JUNDI, kawanku semasa di pergerakan NGO meneleponku. Ia mengajakku bertemu. 

"Ada yang mau kutanya padamu, Busy.".

"Soal apa?" aku bertanya.

"Ah apa lagi kalau bukan LSM. Anak bau kencur sok berani. Kau kenal Miko?"

"Ya aku kenal. Dia kan bermain dua kaki. Wartawan dan LSM..." kataku.

"Aku gak kenal, kau bisa jadi penghubung aku dengannya," harap Jundi.

"Ya sangat bisa. Betewe, memangnya kenapa?"

"Dia mengancam akan melaporkan kabagku soal proyek renovasi bangunan sekolah. Katanya tak sesuai inilah itulah...."

"Kenyataannta bagaimana?" tanyaku.

"Sebetulnya tak berdata. Tapi kabagku gak mau pusing. Kalau bisa diselesaikan, kenapa harus berhadapan..."

"Wah artinya berdamai..."

"Yap!" jawab Jundi.

"Kau kecipratan dong."

"Maka kukontak kau. Siapa tahu kau kenal, kau kebagian juga...  ha ha ha..."

Akhirnya kukontak Miko. Aku memintanya datang ke Waw Waw. Ia tak membantah. Miko adalah juniorku di pers kampus. 

(Bersambung)