PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (43)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (43)

bdy
Selasa, 11 Februari 2020







SEPERTI tak ada gairah aku turuni tangga Kafe Book Aura yang menuju lorong itu. Gaya kafe ini mengambil tanah di bawah bangunan rumah asli. 

Di sebelah kiri panggung live music kulihat Dinda sudah menikmati segelas jus semangka. Aku dekati dan ia menatapku tajam. 

"Aku juga tahu menjaga nama besarmu. Tak mungkin aku rusak namamu, Busy. Tapi jangan mengecilkan Nda dong. Kayak gak percaya begitu!" 

Ia marah. Dinda cepat sekali marah, tapi tak lama ia segera meminta maaf. Atau kalau emosinya sudah memuncak, ia menangis. Menangis sesenggukan. 

Sulit melihatnya tak temperamental seperti ini. Kalau kurang diperhatikan, ia segera merajuk. Bisa berhari-hari. Tetapi aku sudah paham wataknya. Maka kalau ia lagi emosi dan tak mau menghubungiku, kubiarkan saja. Sampai akhirnya Dinda mengirim pesan. Ada-ada saja dia mengawalinya. 

"Aku punya ide bagus gak kalau kamu buat cerpen?" 

Itu salah satu contoh Dinda mau kembali baik. Atau ia langsung pada masalah, dengan tak lupa meminta maaf.

"Kamu masih belum percaya dengan Nda ya kayaknya. Baru sehari apa kau mengenalku?" lanjut dia.

"Apa sih.  Gak ada angin gak ada lindu tahu-tahu marah. Emosi..." kataku. Heran.

"Gak nyadar ya?"

"Justru aku sadar, aku heran. Kok kamu marah-marah tanpa jelas."

"Tak jelas, maksudmu? Masih tak jelas ngomongnya. Kenapa waktu Sur mau nitip uang ke rekeniku, kau bilang ke rekeningmu...."

Ya ampun! Hanya soal itu kamu marah. Bukan maksudku tak percaya, karena tak mau merepotkanmu. Kalau kamu tak dapat izin kantor, akan sulit. Transter lagi ini lagi...

Aku membatin. 

Tapi kenapa soal rekening Dinda tahu. Pasti Sur yang beri tahu. Bagaimana caraya aku menjelaskan ke Dinda. Ini salah paham saja.

Batinku lagi.

"Coba apa maksudmu ngomong gitu, Busye?" Dinda memecahkan keheningan.

Aku diam saja. Malas meladeninya jika sudah ke puncak amarah. Ia tak mau tahu situasi dan keberadaan sekitar. Bukti sudah pernah. Dinda tinggalkan kursinya sewaktu di Kafe Babe. Kawan-kawannya sampai bengong. Tak percaya kalau Dinda nekat seperti itu.

Saat itu para pengunjung tertuju ke meja Dinda yang diramaikan kawan-kawannya. Aku yang tak bisa mencegah Dinda kabur, turut pula terlongo. Kosong tatapanku. Ke jalan. Menguntit punggung Dinda yang seakan tersapu ramainya kendaraan lalu lalang dan orang. 

Tak ada kata terucap. Kami saling pandang. Lempar tatapan. Aku mengambil sandal Dinda. Ia pergi berkaki telanjang. Ia langsung melompat ke motor ojek di pos Gojek. Hilang oleh malam.

Kini apakah ia akan mengulang? Di kafe Aura Books lebih ramai pengunjungnya. Sementara ruangan tidak besar dan di dalam tanah. Berupa terowongan dari rumah induk.

"Apa kamu pikir, aku mau melarikan uang Sur buat roadshow kamu? Gak akan Busy. Tak. Aku punya nilai diri. Tidak akan merusak nama berarmu di mata Sur. Tak akan Busye. Malah kalau mungkin aku siap membantu. Tenaga ataupun dana," jelasnya.

Aku tak merespon. Aku khawatir akan terulang di Kafe Babe. Kuajak Dimda ke bagian belakang. Hamparan sawah warga. Juga pepohonan besar. Kuharap di tempat ini emosinya menurun. 

Ia menikmati pesawahan. Layaknya lukisan di kanvas. Dilukis saat malam dengan moment tanpa rembulan. 

Andai aku petani kaya dan Dinda adalah istriku, pada malam begini kuajak dan kubawa ia melihat-lihat keindahan alam. Karya Mahaperupa. Tiada tanding. 

Setelah menikmati keindahan sawah berpadi yang telah menguning, Dinda kubawa ke tempat penggilingan padi yang berjumlah empat. Sehingga nonstop. Karena bergantian menurut jadwal kerja. Para pekerja kubagi rokok sebungkus masing-masing sesuai merek yang disukai.

Layaknya tuan dan nyai, para pekerja itu menundukkan kepala dan tangan di dada jika melihat kami melintas. 

Setelah itu kami ke irigasi. Mengecek saluran air ke sawah, kebun palawija dan sayuran lain apakah baik ataukah bermasalah. Kalau masalah akan kupanggil pekerja untuk membereskan. Sehingga perkebunan jadi subur dan panen tidak meleset apalagi fuso. Tidak boleh.

Ah! Saya teringat lagu yang dinyanyikan Ebiet G Ade, yang temanya tentang ciita-cita sebagai petani. 

Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil
Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku
Luas kebunku sehalaman 'kan kutanami buah dan sayuran
Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan
Aku pasti akan hidup tenang, jauh dari bising kota yang kering dan kejam
Aku akan turun berkebun mengerjakan sawah ladangku sendiri
dan menuai padi yang kuning bernas dengan istri dan anakku
Memang cita-citaku sederhana sebab aku terlahir dari desa
Istriku harus cantik, lincah, dan gesit
Tapi ia juga harus cerdik dan pintar
Siapa tahu nanti aku 'kan terpilih jadi kepala desa
'kan kubangkitkan semangat rakyatku dan kubangun desaku
Desaku pun pasti mengharap aku pulang
Akupun rindu membasahi bumi dengan keringatku
Tapi semua itu hanyalah tergantung padaNya jua
Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita-cita
Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita-cita


Lagu "Cita-cita Anak Desa" yang dinyanyikan Ebiet G Ade mengalun. Lembut. Suara khas EGA itu menyihir Dinda hingga tak terasa tangannya menyentuh lenganku. Kemudian kelima jemarinya meremas jemariku. 

Ia maju ke luar kafe. Berdiri di pagar pembatas sawah dan halaman belakang pemilik kafe. Aku meyakini pemilik kafe menyukai seni. Sengaja tak dipagar tembok, supaya pengunjung kafe leluasa menikmafi indahnya pesawahan dan perkebunan.

Sekitar 20 menit berdiri di situ, Dinda menggamit tanganku meninggalkan tempat itu, lalu masuk. Menuju kasir. Ia membayar yang kami pesan.

Setiba di parkir, aku katakan ia tetap pemegang dana roadshow. Kupastikan ke Sur. Saat kutelepon depan Dinda, Sur meminta maaf. Bukan maksud dia tak percaya, hanya bertanya: "Kamu bisa kan diminta jadi bendahara roadshow Busye. Tapi Busye ragu kau bisa dapat izin dari kantor. Maka ia sarankan padaku transfer ke dia. Hanya itu Busye yang kukatakan pada Dinda. Tidak lebih dan kurang."



(Bersambung)