Senja di Pasar Wedana
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Senja di Pasar Wedana

Reporter
Rabu, 12 Februari 2020

PASAR Wedana, nama yang eksentrik. Menggugah kesadaran dan bermacam kenangan. Tentang sebuah tempat, serupa vokabuler "kewedanaan" atau "sang wedana". 

Pasar Wedana menurut saya, nama yang cukup mistis dan kental beraroma kesejarahan. Menyimpan gelombang kesejahteraan dan kejayaan pada masa lalu.

Membayangkan nama itu, sebuah tempat nun jauh, yang belum pernah dikunjungi. Sudah menjadi gambaran indah.

Cobalah, menyebut "Pasar Wedana" sembari terpejam dan menarik nafas cukup dalam. 

Apa yang tergambar? Lanjutkan lagi dengan mengetik "Pasar Wedana Lampung Timur" di mesin pencari. Apa yang ditemukan? 


Saya sudah mencoba. Dan menemukan, Pasar Wedana adalah tempat kreatifitas anak muda di Lampung Timur. Kelompok anak muda dengan semangat dan luapan potensi, yang terus berusaha menumbuh kembangkan bakat dan minatnya. Gigih meraih prestasi-prestasi. Misalnya, di lokasi ini pernah ada "Wedana Got Talent". Semacam ajang mencari bakat. 

Ada juga, aneka seni mural di dinding tembok, ciamik untuk pose shelfie. Dan tak kalah menarik, beragam kuliner juga tersedia pada setiap ada perhelatan acara. 

Namun, jangan membayangkan Pasar Wedana adalah pusat rekreasi dan sudah memanjakan keingintahuan kita tentang, seperti tagline yang dipublis selama ini. Pusat digital, sebagaimana pernah dicanangkan Kementerian Pariwisata dan Genpi Lamtim serta para penggiat Pokdarwis. 


Di sini, mengesankan "baru ada" semangat dan antusiasme untuk maju menyongsong hari depan. 

Dalam arti lain, "bukan" sudah maju. Agar persepsi kita setelah menikmati aneka sajian kreatifitas anak muda ini tidak terluka dengan ungkapan sinis semacam; "Ah, mana pusat digitalnya" atau kesah; "Uh, hanya model begini?"


Perjalanan dari Bandarlampung sampai Pasar Wedana, sejauh 82 km dengan jarak tempuh sekitar 2 jam. Jika menyandarkan petunjuk dari google map, sekitar 1 jam 35 menit. Itu pun, kalau mengikuti rute petunjuk online tersebut, akan dipaksa belok kiri dari jalan Soekarno-Hatta, lalu belok kanan, masuk arah gapura yang berujung pada jalan buntu. Dimana tepat di ujung aspal, berisi bak sampah berwarna kuning. Lalu, jalan kaki di jalur setapak, sekitar 30 meter. 

Rancangan awalnya mungkin itu pintu masuk utama, tapi sudah jadi belukar dan tertutup rumput liar. Jadi tempat pembuangan sampah. 


Saya, salah pintu masuk. 

Sampai di tengah lokasi, di depan tembok yang mungkin maksudnya untuk bangunan kamar mandi umum. Bisa dibilang, Pasar Wedana adalah onggokan bangunan, bekas pasar dengan puing-puing, terhampar kering jajaran tembok bekas kios, tanpa atap. Mati. Tak terawat cukup lama.

Tepat setelah adzan magrib dari musala yang ada di pojok pasar itu. Saya terpaku cukup lama. Merenungkan nyinyir. Bagaimana kios tembok runtuh ini disebut sebagai pusat pasar digital? 

Saya tidak bisa menjawabnya, lalu ikut jamaah maghrib. Sebelumnya, menumpang ke toilet di rumah warga. 
Lalu ikut masuk arena di tengah pasar kembali.


Tepat di tengah pasar itu ada sejenis panggung beratap anyaman daun rumbia. Ada pedagang es, ketoprak, dan beragam penganan lain. Sudah duduk berkelompok anak-anak muda yang berwajah sumringah di kursi-kursi semen. 

Di panggung utama, ada sepeda motor antik dan padupadan musik akustik. 
Di puing-puing pasar itu, ada diskusi menarik. Bernama, Ngolaborasi. Kepanjangannya, ngopi dan obrolan berisi dengan tema literasi. 

Duduk di depan, ada penggiat literasi dari Jakarta, ada anggota DPD RI dan Wakil Ketua DPRD Lampung Timur sebagai pemateri. 


Saya cukup terenyuh dengan jalannya diskusi. Dari siang, dipotong istirahat magrib, lanjut sampai malam dengan penerangan ala kadarnya. Menambah kesan, inilah pusat gagasan dan kreatifitas anak-anak muda Lampung Timur. Penuh semangat dengan beragam keterbatasan. 

Saya mendengar, sejumlah anak muda itu mengajukan pendapat tentang bagaimana mereka berkiprah dan terlibat memajukan desa. Menjadi pelopor tentang usaha memaksimalkan segala potensi untuk kemajuan bersama, termasuk urun rembuk beragam gagasan yang terbilang moncer dan altruis. Bergerak sadar dan menyadarkan liyan.

Sudut pandang altruis, penuh gagasan dan kreatifitas anak muda. Digelar di puing-puing pasar, di dekat tempat pembuangan sampah. Ini sungguh menarik dan unik.  Kalau diambil dari beragam sudut foto juga, mungkin tak terlihat kalau landskap tempat ini, seutuhnya adalah potret buram gagalnya perencanaan pembangunan.

Pertanyaan tentang stigma, kenapa Pasar Wedana terkesan jadi proyek pasar rakyat yang kurang berhasil, mulai terkikis dengan beragam kreatifitas yang dibuat anak-anak muda ini. 


Hebatnya, mereka tak berlarut dalam usaha menyalahkan. Melainkan langsung beraksi, mengisi celah-celah pembangunan.

Mungkin, tidak butuh waktu lama, jika anak-anak muda kreatif itu diberi hak pengelolaan dan bertanggungjawab akan kemajuan Pasar Wedana. Saya sangat yakin, lokasi itu jadi destinasi yang menjanjikan. Sekaligus dirindukan. 

Saya teringat teori klasifikasi sosial; jika pasar hidup, roda ekonomi berputar, di dalamnya, pasti ada kesejahteraan warga. 
Syaratnya, terjamin keamanan dan proteksi bagi pedagang, petani, buruh, serta lancarnya distribusi barang, termasuk ada aneka produk dan jasa. Baru pada ranah ini, ada tugas pemerintah. Warga hanya tinggal berbagi peran. 
Sedemikian susahkah berbagi peran sekarang ini? 

Kalau mau jujur, apa susahnya membangun ulang Pasar Wedana sebagai pusat kreatifitas anak muda. Di sini beragam produk kerajinan tangan di pasarkan atau tersedianya aneka jasa desain misalnya, meneguhkan nama "pusat digital" yang sudah jadi tagline Pasar Wedana. Kemudian, ada yang membuat agenda rutin tentang pertunjukkan kesenian dan kebudayaan. Perform hip hop, dance dan atau musik akustik dari Lampung Timur, sungguh luar biasa. Saya sudah melihatnya beberapa kali.


Jika sulit mencari pedagang, serahkan saja pada anak muda yang penuh kreatifitas itu. Yang sudah terbukti mampu dan telah berbuat bermacam kegiatan positif di sana. 

Hendaknya, pemerintah jangan langsung berpikir retribusi. Sewa tempat dan juga, penarik salar atau parkir. 

Fase awal, cukup dengan ada pengelola, ada penjual dan pembeli. Baru memikat pengunjung. Tentu dengan kesediaan pemerintah, harus menganggarkan pembangunan ulang pasar itu. Minimal ada toilet dan air. 

Syukur bisa lebih, menata agar tidak jadi bangunan usang yang mirip area bekas perang Siria.
Setelah ramai, baru berpikir bagaimana caranya bisa menguntungkan warga di sekitar, dengan kebijaksanaan yang artinya, tidak bubar lagi dan jadi bangunan tak berpenghuni. 

Payungi di Kota Metro yang dikelola Dharma Stiawan cs, mungkin layak dijadikan tauladan. Ajo Asril yang jadi tokoh utama di Pasar Wedana, mungkin bisa belajar dan saling berbagi gagasan dengan penggiat Payungi yang terkenal itu. 

Jika butuh modal, warga Lampung Timur punya Wakil Gubernur yang sejak awal memimpikan kampung halamannya maju. Beliau sebagai mantan bupati pasti antusias, ikut semangat terlibat memajukan Pasar Wedana. Begitu juga Anggota DPD RI Jihan Nurlela, ada juga anggota DPR RI Ella Nuryamah, dan Akmal Fatoni yang kini jadi Wakil Ketua DPRD Lampung Timur. 

Saya sudah mendengar semangat dan kepedulian para wakil rakyat tersebut, ketika mereka memotivasi anak-anak muda yang hebat dari bumei tuwah bepadan itu. 
Tabik.

ENDRI Y.
Penggiat Komunitas Gedong Meneng