Denny JA Ajak Penyair Menulis Puisi Berderma untuk Virus Corona
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Denny JA Ajak Penyair Menulis Puisi Berderma untuk Virus Corona

bdy
Kamis, 02 April 2020


INILAMPUNG.COM - Para penulis dan penyair membuat program yang unik. Mereka merespon merebaknya pandemik virus corona. Merekam suasana batin pandemik itu, sekaligus berderma.

Program ini digagas Denny JA, dikenal penggagas puisi esai. Dijelaskannya, dalam hidup mungkin hanya sekali saja generasi ini mengalami pengalaman tragis seperti pandemik virus corona. Karena itu penting bagi para penyair dan penulis mengeksplor dan menggali aneka kisah yang menyentuh. 

"Ini akan menjadi karya abadi yang akan dirujuk generasi mendatang," katanya dihubungi Rabu (01/04/20) malam.

Menurut Denny, puisi esai mini sangat sesuai untuk keperluan tersebut. Puisi esai yang hanya 5000 karakter atau 3-5 halaman. 

Masih kata dia, puisi esai memfiksikan true story, true event, peristiwa sebenarnya. Berbeda dengan jurnalisme biasa, puisi esai lebih masuk pada dimensi interior, sisi psikologis para pelaku.

"Namun berbeda pula dengan puisi biasa. Puisi esai berangkat dan memfiksikan kisah sebenarnya. True event itu berikut sumber beritanya tetap disertakan dalam catatan kaki. Ini puisi dengan catatan kaki layaknya paper ilmiah. Kata mini di belakang puisi esai menunjukkan panjang puisi tak melebihi 5000 karakter," jelasnya.

Denny JA sendiri merekam kisah seorang suami yang istrinya meninggal karena virus corona. Betapa terpukul sang suami. Ia tak boleh memeluk mayat istrinya, dilarang memandikan, tak boleh mencium keningnya, dan dilarang membopong jenazah masuk ke liang lahat.

"Sudah disusun protokol pemakaman. Bahkan sang suami diminta tak perlu menghadiri pemakaman istri yang dilaksanakan di subuh hari. Walau  sudah menjadi jenazah, tubuh itu masih bisa menularkan," imbuh dia.

Ditambahkan konsultan politik di LSI Denny JA itu, penyair lain menceritakan kisah perawat virus corona yang akhirnya menemui ajal. Ada pula kisah potret kota Jakarta yang seperti kota mati. Ada yang menceritakan korban yang sudah siap mati tapi malah bisa sembuh. Ada yang menceritakan kisah pribadi yang harus menunda pernikahan.

Ada puisi esai mini yang mengisahkan pasien corona yang diisolasi di rumah sakit. Karena cemas dan terpaan psikis, ia diduga sempat kabur dari perawatan. 

Kegiatan ini ditaja Kelompok Studi Proklamasi dan IKATISA31 menyediakan Facebook untuk aneka penyair atau penulis mengirimkan karya. Nama facebooknya: Berderma melalui Puisi Esai Mini.

Sejumlah penyair dan penukis yang sudah mendermakan puisi esai mini, di antaranya Anwar Putra Bayu, Handry TM, Gunoto Saparie, Isbedy Stiawan ZS, Fatim Papyrus Hamama, Anto Narasoma, Viddy AD Daeri, dan lain-lain.

"Tak hanya penulis dari Indonesia. Bahkan direncanakan penyair dan penulis negara ASEAN akan ikut serta," kata Denny.

Untuk kegiatan ini, masih kata dia, panitia juga memberikan derma. "Akan dipilih 50  puisi esai mini dari 50 penulis yang dianggap berhasil merekam batin zamannya. Hadiah uang untuk penulis yang terpilih itu akan dibelikan APD (Alat Perlindungan Diri). APD segera diserahkan kepada tenaga media. Jadi nama penulis yang terpilih akan dituliskan sebagai pemberi bantuan tersebut."

Dikatakannya, kepedulian penulis dan penyair di era virus corona, mereka tak hanya merekam momen tragedi ini dalam puisi. Tetapi mereka juga berderma. (bdy/inilampung)

LIPSUS