Isbedy Rekam Peristiwa Tragis Corona
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Isbedy Rekam Peristiwa Tragis Corona

INILAMPUNG
Rabu, 01 April 2020

INILAMPUNG.COM - Penyair berjuluk Paus Sastra Lampung, Isbedy Stiawan ZS, merekam peristiawa tragis virus corona.

Diketahui virus dari Wuhan itu sejak dua bulan terakhir jadi pandemi. Ribuan masyarakat di Indonesia terjangkit oleh wabah yang menakutkan itu. 

Momok yang mencemaskan yang mungkin hanya sekali dalam hidup kita, diabadikan penyair dan pengampu Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.

Menurut Isbedy, puisi bertajuk  "Bawa Aku dari Penjara Ini" mendapat dukungan dari penggagas puisi esai Deny JA sebagai "Berderma Melalu Puisi Esai Mini" sebagai bentuk penyemangat.

Inilah puisi Isbedy, lahir dari situasi di rumah saja.

PUISI ISBEDY STIAWAN ZS

BAWA AKU DARI PENJARA INI 
: Kisah Pasien Covid-19


aku ingin pulang bapak
aku ingin memeluk ibu
di sini aku bagai dalam penjara
bukan karena membunuh,
menipu, atau pun mencuri uang negara
tapi corona itu, virus dari wuhan
bisa mati layaknya tangan Tuhan
yang mencabut nyawaku pelanpelan (1) 

Tuhan Mahakasih, disebarnya virus
dari Wuhan(2), lalu negerinegeri
yang diinginkan maupun abainya 
sang pemimpin!(3) 

aku Sania(4), perempuan dari Lampung,
bagian barat. tak bisa pulang ke kampung
halaman. Aku dikarantina di kota ini,
bagai dalam bui. Begitu sepi….

aku hanya keluar dari kaca televisi 
ke layar televisi lainnya. mendengar kabar
yang seliweran, tentang corona,
jumlah pasien, kematian, dan hanya
sedikit yang bisa disembuhkan(5)

o Tuhan, ke kubur lebih dekat
daripada aku bisa memeluk
orang-orang yang kukasihi

bahkan, kematian sangat kucemaskan!

yang mati tanpa ciuman terakhir
pemakaman seakan tak menerima jasadnya 
serupa kematian tanpa cinta kasih. petugas 
yang memandikan jenazah khawatir 
tertular pula; dibungkus plastik setelah kafan
lalu liang kubur menanti pelayat yang sepi(6)

betapa kematian yang sunyi dan sedih!

aku ingin pulang, bawa aku dari penjara ini;
tempat isolasi yang sunyi dan misteri ini
cuma menunggu kematian atau disembuhan 
menghitung detik-detik yang berlalu
dan matahari esok pagi. sementara kau hanya
mengirim katakata bergelembung sabun

bukan itu, tapi beri obat paling mujarab
agar aku bia keluar dari tempat ini
sebuah zona amat neraka. atau kalau bisa
lari, aku ingin kabur dari sini. kupesan 
travel secepat sampai di rumah(7), kupeluk
dan kuciumi ibu, aku rebah di dada bapak
aku bayangkan itu semua, kukenangkenang
ketika ibu mengantarku hingga depan rumah
saat aku pamit hendak merantau ke Jakarta
“aku mau hidup seribu tahun lagi(8), dan jika
aku kaya, emak dan bapak pula menikmati.”
begitu kira-kira kukatakan pada ibu 
sebelum aku meninggalkan kampung itu…

kepada bapak yang selalu menyayangiku
selalu kusiapkan ciuman paling kasih
dari seorang anak di perantauan ini

tapi ini corona, virus yang serupa badai 
menghujani setiap jengkal bumi ini
menyebar layaknya tangan gurita
mencengjeram dan mencekam!

dari wuhan, ia migrasi ke kota lain,
ke negaranegara yang terpetakan 
menumpang pada tubuhtubuh manusia
berpindah ke tubuhtubuh lain 
atau mengeras pada bendabenda 

“aku terpapar, aku jadi pasien
aku pun dimasukkan ke penjara ini!”

lalu sunyi, lalu dirundung cemas
dan waswas. apakah esok aku masih
mendengar suaramu, orangorang kukasihi

apakah yang berdiam di rumah
tak rindu bercakapcakap,
saling bersilaturahmi? bukankah 
kunjung-mengunjungi memanjangkan
usia? kau pun serupa pidana, seperti
juga aku yang kini di rumah sakit
meninabobo perih dan lara

Tuhan Mahapengasih tak pamrih
tenggelamkan virus ini di laut terdalam
tanamkan pandemi ini ke bumi tak terukur
kuburlah kubur! 
karena sudah banyak
kematian ini, begitu banyak pasien yang
menanti dalam cemas: turut ke kuburan
ataupun pulang dengan wajah riang
tak mati dalam sebenarbenar kesepian
tak sunyi dibiarkan kerabat sejati

jika pun aku tak bisa pulang
tiada yang membawaku pergi 
dari penjara ini, aku kini ikhlas
berdiam dalam ruang ini. dikarantina

kau yang kini di rumah saja
mungkin deritamu tak seberapa
meski kau tak bisa apaapa
menunggu Tuhan menebar rezeki

tapi, diamlah di rumah
hidup ini sesekali perlu pasrah
petik hikmah sebagai ibrah


Lampung, 30-31 Maret 2020



(zal/inilampung)

Catatan:

(1)  Virus Corona (Covid-19) bermula dari Wuhan, China, kini menyebar ke berbagai negara. Bahkan, sampai Indonesia, yang tercatat pada 30 Maret 2020 berjumlah 1.414  orang terinfeksi Covid-19. Di Lampung, terdata pada 30 Maret 2020, seorang pasien meninggal dunia . Untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini, pemerintah melakukan kebijakan di rumah saja alias kuncitara. Sebetulnya istilah lain dari lockdown (kuncitara). Sementara bagi yang dinyatakan terpapar dan diindikasi terpapar diisolasi/dikarantina.

(2) Sebelum wabah coronavirus yang baru melanda Wuhan pada bulan Desember, kota di Cina tengah ini telah tergelincir dari kesadaran masyarakat umum di Barat.
Dua generasi yang lalu, kota berpenduduk 11 juta jiwa ini, yang terletak di persimpangan Sungai Yangtze dan Sungai Han, 965 km di hulu, di Cina tengah, dikenal melalui Barat sebagai kota industri besar. 
Dikutip dari CNN, 23 Februari 2020, Wuhan bahkan mendapat julukan Chicago dari Cina. Pada tahun 1900, majalah Amerika Collier menerbitkan sebuah artikel tentang kota Wuhan di Sungai Yangtze, menyebutnya "Chicago di Cina." Itu adalah pertama kalinya kota Cina ini mendapat julukan Chicago. (https://dunia.tempo.co/read/1311242/mengenal-kota-wuhan-yang-dijuluki-chicago-dari-cina/full&view=ok)

(3) Sebelum Arab Saudi “menolak” calon jamaah umroh dari Indonesia, Pemerintah RI dengan jumawa mengatakan “Corona tak akan berani masuk Indonesia”, “Buktikan Indonesia terkena virus corona”, ataupun “Corona takut dengan nasi kucing” dll. 

(4) Nama saya samarkan, kisah hidunya dalam puisi esai mini ini juga hanya rekaan. Ia dikarantina karena terpapar virus Copid 19 di Jakarta. Sempat kabut dari tempat isolasi. (https://www.kupastuntas.co/2020/03/29/warga-lampung-barat-positif-covid-19-di-jakarta-diduga-kabur)


(6) Bahkan dari kabar yang tersiar, warga setempat di pemakaman umum yang enggan menerima  jenazah yang meninggal karena covid 19; https://lampungpro.co/post/27056/ditolak-warga-batu-putu-telukbetung-barat-pasien-positif-corona-belum-dimakamkan

(7) Kabar yang viral di watsapp bahwa perempuan terpapar covid 19 dari lampung barat diduga akan kabur, sampai bupati Farosil Mabsus langung menelepon yang bersangkutan; percakapan bupati ini juga viral. “Ini Pakcik, atas nama pribadi dan pemerintah, saya menyampaikan turut prihatin. Tapi LN mesti semangat, karena penyakit ini masih bisa disembuhkan,” kata Parosil. (Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Viral Video Bupati Lampung Barat Telepon Memohon Pasien Positif Jangan Pulang Dulu", https://regional.kompas.com/read/2020/03/30/06103851/viral-video-bupati-lampung-barat-telepon-memohon-pasien-positif-jangan.) 

(8) Kutipan puisi Chairil Anwar

LIPSUS