PTPN VII dan Serikat Pekerja Sepakati Perjanjian Kerja
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PTPN VII dan Serikat Pekerja Sepakati Perjanjian Kerja

INILAMPUNG
Selasa, 14 April 2020

Penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara serikat pekerja dan manajemen PTPN VII. Foto. Ist.

INILAMPUNG.COM - Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara VII (SPPN VII) dan manajemen PTPN VII menandatangani Perjanjian Kerja Bersama (PKB), Selasa (14-4-2020). 

Tidak seperti biasanya, suasana seremoni di Ruang Rapat Utama Kantor Direksi PTPN VII di Kedaton, Bandarlampung, hanya diikuti 18 orang dari kedua pihak. Namun, sejumlah poin krusial disepakati untuk penyelamatan perusahaan.

Diawali dengan doa bersama, acara dilanjutkan dengan penandatanganan naskah kerja sama yang berisi 96 pasal dalam 24 bab.

Hadir, Direktur Utama PTPN VII Muhammad Hanugroho, Direktur Operasional Husairi, Sekretaris Perusahaan Okta Kurniawan, dan beberapa kepala bagian. Sedangkan dari SPPN VII, hadir Ketua Umum Moehammad Baasith, Sekretaris Jenderal Sasmika DS, dan beberapa pengurus inti.

Dalam sambutannya, Baasith mengatakan, pihaknya memaklumi keterlambatan penandatanganan ini karena situasi global dan nasional yang tengah genting oleh wabah corona.

“Saya mewakili seluruh karyawan menyampaikan apresiasi kepada manajemen, terutama kepada Pak Dirut, alhamdulillah kita masih bisa gajian tepat waktu. Dalam situasi dan kondisi force majure seperti ini, kita harus saling dukung dan menjadi maklum. Mudah-mudahan perusahaan tetap kuat menghadapi tantangan ini,” kata Plt. Kabag Manajemen Kinerja Korporasi (MKK) PTPN VII itu.

Baasith mendukung setiap kebijakan manajemen pada masa wabah ini. Namun demikian, ia berpesan agar setiap kebijakan, terutama yang menyentuh hak-hak normatif karyawan untuk dibicarakan dengan serikat.

Sementara itu, Hanugroho menyampaikan terima kasih atas pengertian karyawan yang diwakili SPPN VII dalam mengambil sikap yang amat bijak mendukung kebijakan manajemen. Dalam situasi negara yang tidak normal akibat wabah corona ini. Hambatan di semua lini bisnis mengalami guncangan amat dahsyat.

“Kita masih agak beruntung karena bergerak di bidang agro yang secara operasional di kebun masih bisa berjalan. Pada sektor industri jasa, sekarang banyak yang sudah lumpuh. Namun demikian, efek dominonya tetap sangat besar kepada kita. Oleh karena itu, kita harus menjalankan business unusual, tidak seperti biasanya,” kata dia.

Dalam konteks ini, dia meminta setiap potensi yang ada, terutama yang ada dan melekat pada setiap insan PTPN VII untuk berani berkorban. Sebab, situasi darurat ini telah menghilangkan banyak kesempatan dan potensi eksternal.

“Saya minta kita jangan terlalu hitung-hitungan tetapi harus ikhlas tidak meminta insentif lebih. Demikian juga dengan karyawan lain. Para pimpinan harus kreatif menciptakan peluang kepada karyawan agar ikut menyumbangkan potensinya dalam situasi ini. Misalnya, tambahkan satu jam kerja agar produksi lebih banyak, artinya kita harus meningkatkan produktivitas" kata dia.

Lebih teknis, disebutkan, bulan depan perusahaan harus membayar gaji plus THR. Sementara, kondisi cash flow cukup berat karena pengaruh global dari wabah ini.  Produk yang dihasilkan perusahaan tidak langsung mendapat pembeli. Oleh karena itu, ia meminta kesadaran karyawan dan memahami kondisi ini.

“Kita berdoa semoga kondisi ini segera berlalu. Tentang hak-hak karyawan tidak akan hilang, tetapi mungkin bisa tertunda. BOD (direksi) sedang berpikir keras melewati kondisi ini,” kata dia.

Hanugroho mengatakan, opsi prospek yang bisa mengisi cash flow paling cepat adalah dari komoditas gula. Oleh karena itu, Oho meminta seluruh potensi untuk memastikan seluruh aspek yang mendukung produksi gula dari dua pabrik yang ada pada posisi siap.

“Kita siapkan BCN (anak perusahaan PTPN VII yang mengelola PG Bungamayang dan Cintamanis) sebaik-baiknya. Kita antisipasi semua kemungkinan kendala, seperti mobilisasi tenaga tebang yang massif. Ini harus segera dicari alternatifnya. Apakah kita pakai harvester, harus dihitung,” kata dia.

Tentang mekanisme kerja setelah pemberlakuan kerja dari rumah (WFH, work from home), dia meminta semua tetap produktif. Ia menyebut, untuk berkoordinasi dan melaporkan progress pekerjaan tidak hanya melalui video cenference, namun dengan conference call pun bisa.

“Saya tak butuh fisiknya, tetapi saya butuh suaranya yang menyatakan komitmen menjalankan tanggung jawab pekerjaannya. Dan yang lebih penting dari itu, hasil dari pekerjaannya yang memberi prospek baik untuk perusahaan,” kata dia. (rls/inilampung.com).

LIPSUS