Dari PTPN VII Unit Kedaton untuk Ban Kelas Dunia
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Dari PTPN VII Unit Kedaton untuk Ban Kelas Dunia

INILAMPUNG
Jumat, 14 Agustus 2020

Komirsari Utama Nurhidayat didampingi Direktur PTPN VII Doni P. Gandamihardja saat melihat hasil olah SIR di Pabrik Unit Kedaton, Lampung Selatan. Foto. Ist.
INILAMPUNG.COM, Tanjungbintang--Di bangku tunggu kru truk pengangkut lateks pabrik karet PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Kedaton, Budiono memainkan hape Androidnya pada awal Juni 2020 silam.

Kernet berusia 23 tahun itu mengantre untuk menumpahkan muatan karetnya untuk diolah. Waktu tunggu yang cukup lama itu ia gunakan untuk bermain game.

Keasyikan Budionoa menarik perhatian Kliman. Mandor pengolahan yang menjadi penjaga mutu olah karet di pabrik itu memang tidak terlalu ketat jadwalnya. Beberapa jeda dia gunakan untuk akrab dengan kru truk yang menjadi mitranya.

Hari itu, Budi seperti kelewat asyik dengan game balap mobil Formula 1. Saking asyiknya, sapaan Kliman seperti tak terdengar. Tak ayal, Kliman mendekat dan menyaksikan apa yang dimainkan di layar monitor hapenya.

“Asyik amat, Bud mainnya sampai nggak denger dipanggil. Itu main apa, kamu?” tanya Kliman.

“Balap mobil, Lik,” jawab Budi dengan tetap menjalankan game. Budiono biasa menyapa Kliman dengan sebutan Lik yang dalam bahasa Jawa berarti paman.

“Eh, kamu tahu enggak Bud. Ban yang dipake untuk balap mobil itu dari sini, itu?” Kliman menegaskan.

Serasa kaget, Budi menghentikan permainan dan mengejar pernyataan Kliman. Dan, dengan yakin, Kliman menjelaskan bahwa ada campur tangan mereka para pekerja di kebun dan pabrik karet PTPN VII Unit Kedaton dalam balapan kelas dunia itu. Yakni, ban yang digunakan untuk balapan itu salah satunya dibuat dari karet yang mereka hasilkan. Sebab, kata Kliman, karet olahan yang dihasilkan Pabrik Unit Kedaton memiliki kualitas sangat baik dan sangat diminati pembeli dari luar negeri.

Pernyataan Kliman itu tak ditampik Willy Mulyawan, Manajer PTPN VII Unit Kedaton. Didampingi Into Indrady, Asisten Teknik dan Pengolahan di Unit Kedaton, ia mengatakan produk karet olahan yang dihasilkan memiliki kualitas terbaik di kelasnya.

“Di PTPN VII dan di Holding Perkebunan, produk dari kami masih lebih unggul. Stok kami juga cepat habis karena buyer sangat meminati. Kami ekspor ke Cina. Yang saya dengar, buyer Cina itu adalah pemasok bahan baku peralatan otomotif merek-merek terkenal dunia,” kata Willy.

Tentang bagaimana menghasilkan produk yang kualitasnya baik, Willy mengatakan semua tahapan memiliki andil. Ia menyebut, di kebun atau on farm, dari varietas atau klon karet sampai pupuk dan pasca sadapnya sangat penting. Jika setelah sadap terdapat ketidak murnian getah akibat kontaminasi, kata dia, sangat berpengaruh kepada hasil akhir.

Demikian juga dengan proses off farm atau pengolahan. Meskipun pengolahan karet menjadi bahan setengah jadi siap ekspor tidak membutuhkan teknologi tinggi, tetapi ketatnya tahapan sangat menentukan.

“Kami menempatkan tulisan berupa imbauan dan peringatan di banyak tempat, bahwa musuh utama olahan karet adalah kontaminan. Jadi, kalau sudah kena kontaminasi, apapun, akan rusak produknya,” kata dia.

Sebagai pimpinan, Willy mewanti-wanti semua tahapan dalam proses menghasilkan produk untuk mengikuti SOP, standard operation procedure, atau prosedure operasional standar. Secara rutin dan berkala, ia juga turun ke lapangan dan pabrik untuk memastikan produk yang dihasilkan berkualitas baik.

“Kami berupaya untuk bekerja dengan seksama dan menjaga kebersamaan. Sebab, mutu hasil kerja kami ini saling berkaitan. Ada satu tahap saja yang tidak sesuai SOP, akan berakibat fatal. Apalagi, orientasi penjualan produk kita adalah ekspor.”

Into Indrady, Asisten Teknik dan Pengolahan PTPN VII Unit Kedaton yang bertanggung jawab kepada seluruh proses olah mengatakan, untuk menjaga kekompakan tim harus dilakukan pendampingan secara lahir batin. Ia mengaku setiap hari mendampingi pekerjaan karyawan dengan sepenuh hati sampai selesai tugas.

“Kalau kita bekerja hanya berdasarkan jam kerja, ya nggak bakal bagus. Intinya, kerja sama itu harus bersama. Kalau kerja sama tetapi tidak sama-sama kerja, ya bohong. Sulit kita mencapai yang kita inginkan,” kata dia. (mfn/rls/inilampung.com).

LIPSUS