-->
Cari Berita

adsense google

Breaking News

Bamsoed Beberkan Soal Kesenjangan Ekonomi di Forum Rakornas III KAHMI

INILAMPUNG
Sabtu, 16 Januari 2021


Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. (Ist/inilampung)

INILAMPUNGCOM -- Ketua MPR RI Bambang Soesatyo hadir dalam Rapat Koordinasi Nasional III Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), di Jakarta, Jumat 15 Januari 2021.

Acara yang digelar lewat virtual itu, pria perlente yang lebih dikenal Bamsoed itu, tampil sebagai keynote speaker bersama tokoh (pakar) nasional lain.

Viva Yoga Mauladi ( Presidium Majelis Nasional (KAHMI), Sekjen KAHMI, Manimbang Kahariady serta Narasumber Panel Diskusi dan Para Pembahas:

Yakni, Prof. DR. R. Siti Zuhro, Prof. DR. Laode Kamaluddin, Prof. DR. Ali Munhanif, DR. Rocky Gerung dan DR. Chusnul Mariyah.


Bambang Soesatyo hadir secara virtual. (Ist/inilampung)

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyoroti tingginya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat, dimana salah satu penyebabnya pandemi Covid-19.

Pernyataan Bamsoed didukung data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret 2020, angka rasio berada pada 0,381, atau meningkat 0,001 poin jika dibandingkan dengan angka rasio September 2019 sebesar 0,380.

“Berdasarkan dokumen RPJMN 2015 2019, target rasio yang ingin kita capai adalah sebesar 0,36, sehingga pencapaian saat ini masih tertinggal selisih 0,02 poin,” ujar Bamsoet.

Mantan wartawan itu lalu merinci, kondisi pandemi Covid-19 menjadi sebab naiknya persentase penduduk miskin di Indonesia sebesar 9,78 persen.

Atau naik sekitar 0,56 persen dari bulan September 2019 sebesar 9,22 persen yang berdampak pada naiknya angka rasio gini. Namun kondisi tersebut tentunya tidak menepiskan fakta bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki dalam mengurangi tingkat kesenjangan sosial-ekonomi Indonesia.

“Jauh sebelum pandemi Covid-19, kesenjangan sosial-ekonomi sudah terjadi di masyarakat. Terlihat dari laporan Global Wealth Report dari Boston Consulting Group di tahun 2018 yang mencatat bahwa 10 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 75,3 persen dari total kekayaan penduduk Indonesia,” jelas Bamsoet.

Laporan Global Wealth Report 2020 menempatkan Indonesia di peringkat ke-empat negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia, setelah Rusia, India, dan Thailand.  Walaupun kekayaan per orang meningkat 6 kali lipat selama periode 2000-2016, namun setengah aset kekayaan di Indonesia dikuasai hanya 1 persen orang terkaya.

“Kesenjangan antara kaya dan miskin mencapai 49 persen. Memperlihatkan kekayaan rata-rata penduduk Indonesia masih rendah,” dia menegaskan.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menerangkan, seluruh kalangan termasuk organisasi masyarakat maupun kalangan dunia usaha harus turut bergotong royong membantu pemerintah dalam menekan kesenjangan sosial. Memasuki tahun 2021 ini, seiring dengan sudah dimulainya vaksinasi, besar harapan geliat ekonomi juga akan kembali bergairah.

“Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 ini bisa tumbuh positif 4,4 persen. Sementara Bank Indonesia optimis tumbuh di kisaran 5 persen. Sedangkan lembaga Oxford Economics, bersama The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melonjak 6 persen. Butuh kerja keras semua pihak agar penilaian tersebut tak hanya berakhir manis di atas kertas saja,” pungkas Bamsoet. (dbs/jarak/*)

LIPSUS