Bunuh Diri
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Bunuh Diri

Rabu, 04 Desember 2019

Ilustrasu

CERPEN
Oleh Adolf Ayatulloh 

SORE ini hujan deras dibareng guntur bersahut-sahut. Rumahku gelap, listrik tak nyala karena pulsa tak kuisi sudah satu minggu. Kucek saldo tabungan melalui phone-banking, jumlahnya limit terendah.

Pasca putusan perceraian, otakku morat-marit. Putusan Pengadilan Agama menetapkan hak asuh untuk mantan isteriku. Rentetan sidang yang melelahkan selama dua bulan menghabiskan biaya yang tak sedikit. Gono-gini? Entah bagaimana cara menghitungnya, hampir semua aset jadi atas nama dia.

**

Rumah ini juga sebetulnya punya dia. Aku duduk di ranjang yang kami beli sejak pengantin baru tujuh belas tahun yang lalu. Ranjang bermerek sama dengan ranjang hotel-hotel berbintang. Kami beli dengan uang amplop tamu resepsi, hampir semuanya untuk sebiji ranjang itu saja.

"Sayang, kita pengantin baru. Tak salah kan, soalnya semua kegiatan kita kan ada di ranjang," demikian aku meyakinkan isteriku.

Dia cuma terkikik, kami pergi ke toko furniture terbesar di kota, membayar dengan tunai dan menunggu pengiriman di kontrakan dua kamar yang kosong-melompong. Sore ranjang itu datang, malam, pagi, siang, sore ke malam lagi. Ranjang itu benar-benar memanjakan kami berdua.

"Bulan madu di rumah saja. Yang penting kan begininya," candaku genit.

Isteriku waktu itu membalas candaan dengan berpose seperti model majalah, duduk menggoda di kursi plastik, melebarkan kedua kakinya dan satu demi satu melepas apa yang menempel di tubuh yang terpahat laksana Aphrodite. Semua pengantin baru memang begitu.

***

Karirnya melesat. Sebagai salah satu lulusan terbaik dari fakultasnya, merintis karir di perusahaan pembiayaan keuangan. Awalnya sekadar staf administrasi, jelas karena piawai dan punya visi yang tajam, jenjang karir ditanjak hingga posisi yang sangat signifikan. Tapi soal gaji, tak pernah dia bisa melebihi pendapatku.

"Enaknya jadi isteri, jadi perempuan yah seperti ini, sayang. Uangmu itu uangku juga. Uangku jadi uangku sendiri," itu kata dia.

Siapa bisa marah kalau yang bicara seperti begitu disambi dengan elusan erotik tangannya yang halus kemudian bibirnya mekar mencumbui sekujur tubuh.

Sengatan-sengatan listrik keintiman selalu membuat lelaki manapun terbuai. Relasi di atas ranjang, lelaki selalu menjadi konsumen, saat terpuaskan maka tak akan ada komplain apapun. Apalagi ini resmi dan halal.

Jujur, tak sedikitpun terselip kesal soal gono-gini. Mantan isteriku punya segala hak untuk membawa apa yang kami raih sama-sama di rentang belasan tahun ini.

Apalagi 10 tahun terakhir, putera tampan yang mewarisi mata beningnya, hidung bangir dan dagu belah. Rambutnya saja yang ikal dan garis rahang yang jelas mewaris genetika dari pihak aku, ayahnya.

Sayang sekali aku dengan putera tunggal kami. Tapi memang dia jauh lebih dekat dengan ibunya.

***

Bisnisku sebetulnya sederhana. Jadi konsultan politik. Menerima orderan memoles citra, mengatur distribusi publikasi di berbagai media. Menyusun strategi dan merancang visi-misi. Paketnya termasuk dengan lobi. Tak ada definisi yang bisa menjelaskan secara spesifik pekerjaan ini, tapi pendapatannya besar sekali.

Inilah biang masalahnya. Menjadi perantara pesan di rimba politik kejam. Tak mungkin kita jadi pendakwah. Ada juga relasi dibangun dari ruang-ruang remang dengan canda gadis-gadis yang menemani. Uang berkoper berpindah pemilik, gelas diangkat berisi konsentrat etil yang kental. Kadang sepaket dengan layanan surga dunia. Politik memang begitu.

Satu malam aku menerima pesan dari salah satu tokoh bidikan klien. Dikenal sebagai pemain lama di lantai-lantai taman penghiburan lelaki malam. Tapi bermodal nama belakang, keputusan partai ada di tangannya.

Malam hampir pagi. Dia minta ditemani. Sebetulnya tak terpaksa, aku berangkat setelah sebelumnya lapor kepada klien. Kubilang, malam kali ini biayanya mungkin agak tinggi. Di sana langsung ACC. "Kalau bisa besok pagi, rekomendasi sudah keluar atas nama saya," ujarnya.

Beberapa detik kemudian notifikasi masuk, ada transfer dana. Jumlahnya fantastis buat para penerima gaji UMR, tapi kurasa agak  mepet. Pernah biaya lobi macam begini, angkanya hampir dua kali lipat dari transferan tadi. Tapi biasa saja, kalau lebih pasti diganti.

***

Lampu ruang karaoke tiba-tiba benderang. Kami di ruangan berenam kontan berhenti, musik langsung stop. Dua laki-laki empat perempuan.

Aku terkaget, biasanya sahabatku di direktorat spesifik akan mengabari kalau bakal ada kejadian semacam ini. Kulirik HP-ku, tak ada kabar dari pamen itu.

Tetap tenang aku berdiri, petugas meminta semuanya untuk mengosongkan kantong celana dompet juga tas tangan. Tokoh yang jadi tugasku malam ini mukanya pucat-pias. Dia bawa pistol ilegal, sekantung ganja dan obat kuat. Kami semua digelandang ke markas.

***

Besoknya headline semua koran menampakkan wajah dia. "Kandidat Terkuat Cawagub, Tertangkap Narkoba". Fotoku mejeng juga di sebelahnya.

Karena memang tak pernah kusentuh esens ilegal, khusus yang ada izin dari cukai dan dinas kesehatan saja kunikmati, hasil laboratorium semua negatif. Belum lagi banyak kawan di sana. Menelepon orang yang tepat dengan hadiah yang cocok, cukup semalam saja besoknya melenggang pulang.

***

Sampai di rumah isteriku menyambut berang sekali. "Aku tahu kamu nggak suci-suci amat. Tapi kali ini tak bisa dimaafkan! Aku minta cerai sekarang juga!" racau dia yang langsung menyerbu dengan jenggut dan cakaran-cakaran. Terakhir dia menampar keras sekali.

"Hei ada apa, sayang? Kamu kan sudah tau cara kerja bisnisku. Kali ini memang ada missed sedikit. Ini risiko pekerjaan," aku coba menjelaskan.

"Tapi bukan yang begini juga!" dia melempar koran dengan foto dan tajuk utama soal kejadian kemarin malam. Aku bingung, ada apa salahnya? Aku sudah jelaskan semua.

Isteriku kemudian menunjuk foto salah satu gadis yang ada di gambar. Gadis itu cukup cantik. Pakaiannya juga makin menegaskan kalau dia perempuan atraktif. Walau menunduk, tetap tak bisa disembunyikan pesonanya.

Rambut panjang bergelombang, pinggang ramping, dada dan pinggul penuh membulat. Semampai tingginya. Masih terasa saat tubuh kami bersatu dalam hasrat yang purba dan buas.

Yang kuingat memang malam itu sempat kulakukan di dalam ruang bernyanyi seluas bilik konferensi itu. Tapi kan isteriku tak tahu?

"Kamu tau? Ini adik sepupuku! Semalam kujemput dia di kantor polisi. Terpaksa kukeluarkan sejumlah uang untuk memastikan dia tak ditahan. Di mobil karena mabuk dia bilang, dia jatuh cinta dengan lelaki yang ditemaninya!" isteriku menangis.

"Pagi ini baru kutahu dia sama kamu! Aku tak mungkin bisa melupakan ini sampai kapanpun. Baiknya kita cerai!" isteriku kemudian duduk di sofa, nafasnya terengah karena tangis. Lalu dia merebahkan badan.

Rupanya dalam racauan mabuk diceritakan adiknya itu, sudah berkali dia jadi anggota tim lobi. Sudah berkali-kali. Tapi selalu dia melakukannya denganku. Cinta yang tak pernah terucapkan oleh kami berdua.

"Besok aku pindah ke rumah kita yang lama. Kuminta bulan depan kau pergi cari tempat sendiri. Dokumen akan diurus pengacara, kau kularang menemui anakku lagi," dia mendiktekan itu seolah aku staf kantornya. Aku cuma diam.

***

Ranjang ini jadi muram dan dingin rasanya. Dua bulan setelah kejadian nahas itu. Proses sidang cepat sekali. Aku iya-iya saja apa permintaan isteriku, mantan isteriku sekarang.

Keluar dari kamar, menuju ruang tamu. Di meja depan ada sepucuk pistol. Kudekati pelan-pelan. Temaram lampu emergency menciptakan siluet yang artistik.

Meja jati dan kursi kulit seolah mengeluarkan aroma yang memilukan. Kutulis beberapa kata di kertas yang sudah kusiapkan. Kemudian semuanya gelap. Lampu emergency-nya pun mati habis baterai. Gelap tak menyisakan apapun. *** (Ini cerpen fiksi. Jangan sungkan usai dibaca untuk berkomentar, kritik, jempol dan share. Thanks.)


**) Adolf Ayatulloh meski sering dipanggil Dolof. Dia adalah pemimpin Redaksi Harian Umum Lampung Ekspress, media tertua di Lampung. Dulu namanya TAMTAMA. Aktivitas Dolof cukup beragam. Penyelenggara Diskusi TV, berkebun, Stand-Up Comedy,  hingga musik Jazz. Belakangan, nama Dolof kian melambung ketika aktif di dunia sepakbola Lampung.

I