Ketika Pemetik Setengah Hati
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Ketika Pemetik Setengah Hati

Reporter
Sabtu, 07 Desember 2019

Oleh: Dalem Tehang

USIANYA masih amat remaja. Baru lulus SLTA. Namun kiprahnya di dunia kriminal sungguh mencengangkan. Sedikitnya 25 motor telah dipetiknya. Dilarikannya saat si empunya lengah. 

Aldi, nama remaja usia 19 tahun, asal Jabung, Lampung Timur, sudah menggeluti dunia curanmor sejak kelas 1 SLTP. Wilayah Bandar Lampung yang jadi lahan basahnya. Dalam satu pekan, dua sampai tiga motor berhasil dipetiknya.

Kepiawaiannya merusak kunci memang luar biasa. Cukup 3 detik saja untuk bisa menghidupkan motor yang diincarnya. Dia hanya memerlukan sedikit waktu tambahan bila sasarannya dipasang alarm atau gembok. 

Aldi baru mengurungkan usahanya memetik bila motor itu dipasang gembok warna kuning keemasan. Karena sulit membukanya. 

Kalau gembok warna putih, sebesar apapun, dengan alat-alat yang dimilikinya, bisa diatasi.

Dengan keahlian memetik motornya itu, Aldi bisa membantu ekonomi keluarganya. Sang ayah hanya petani ladang, ibunya mengurus rumah dan kedua adeknya yang masih bersekolah. 

Tumpuan menutupi kebutuhan keluarga, memang ada pada kerja metik Aldi.

Diakuinya, keahliannya metik dan mempraktikkannya di lapangan berkat dukungan kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Mayoritas remaja di wilayahnya -entah sejak kapan- terbiasa dengan aksi-aksi curanmor. 

Ada semacam gengsi tersendiri bila berhasil metik motor orang lain dalam setiap kali aksinya. 

Kebiasaan itu bahkan bisa dibilang semacam hobi. Aldi tak jarang harus menggadaikan handphone-nya di warung untuk mengisi premium sampai full di motor yang akan dipakainya untuk bekerja. Ditambah sebungkus rokok, dan sedikit uang sebagai pegangan. 

Karena itu, usahanya harus berhasil. Aldi tak kan pulang sebelum mendapatkan hasil. 

Uang 3 sampai 4 jutaan ia peroleh selepas melego motor hasil petikannya. Menjualnya ya di sekitar tempat tinggalnya; wilayah Jabung, Lampung Timur. 

Bagi Aldi, kerja metik bukan sesuatu yang haram. Kebutuhan ekonomi keluarga dan gengsi dalam pergaulan adalah pelecut semangatnya terjun ke dunia kriminal ini. 

Bahkan, setiap akan kerja, Aldi meminta doa sang ibu. Dan merestui. 

Bagi Aldi, dan juga banyak remaja lainnya di tempat tinggalnya, sesuatu yang memalukan bila berangkat ke sekolah dibonceng teman. Maka tak perlu heran, bila sekolah menengah pertama dan atas di wilayah itu, lahan parkirnya disesaki dengan motor anak didik. 

Meski berpengalaman dalam metik motor, ternyata, Aldi tak menguasai wilayah Bandar Lampung yang jadi daerah utama sasarannya. Setiap kali berhasil metik, ia akan berputar-putar dulu untuk ketemu jalan bypass, Jalan Soekarno-Hatta. 

Patokan jalan lintas itulah yang bisa membawanya ke arah pulang. Tak jarang ia harus bertanya ke pengemudi ojol untuk bisa ketemu flyover, yang membuka jalur untuknya sampai ke jalan bypass. 

Aldi memang masih amat muda. Namun kariernya di dunia metik motor cukup luar biasa. 

Dia tak hanya kerja di daerah ini. Ia sudah ekspansi ke Pulau Jawa. Mulai dari Serang, Cikampek, Cirebon sampai Bandung. Dia pun mengenal baik para penadah di daerah-daerah tempatnya metik.

Dalam satu bulan, tak kurang dari Rp 10 jutaan bisa ia kirimkan ke orangtuanya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kedua adeknya sekolah. 

Petualangan sang pemetik muda usia ini akhirnya terhenti. Saat itu, ia baru kembali dari kerja di Jawa. Baru dua hari menikmati kebersamaan dengan ayah, ibu dan kedua adeknya. Datang seorang teman sekolahnya. Mengajak kerja. 

Semula, Aldi menolak. Apalagi sang ibu juga tak merestui. Karena biaya kebutuhan sehari-hari masih mencukupi sampai 3 bulan ke depan, berkat kiriman-kiriman Aldi selama kerja di Pulau Jawa. 

Namun, sang teman terus merengek. Mengajaknya kerja. Diburu kebutuhan membelikan handphone sang pacar yang akan berulang tahun.

Akhirnya, dengan setengah hati, Aldi memenuhi ajakan temannya. Berangkat dari Jabung jam 16.00-an, selepas waktu maghrib, mereka sampai Bandar Lampung. 

Memasuki wilayah Waydadi, Sukarame, mereka menemukan calon sasarannya. Sepeda motor diparkir depan pintu rumah. Aldi beraksi. Hanya hitungan detik, usahanya berhasil. 

Motor dibawanya keluar halaman. Saat menghidupkannya, pemilik motor berteriak. Warga sekitar berhamburan keluar rumah masing-masing. Aldi terkepung. Sang teman kabur. 

Kerja metiknya kali ini membuat dirinya tak bisa pulang ke rumah. Tak bisa lagi cengkrama dengan ayah, ibu, dan kedua adeknya. 

Entah sampai kapan. Namun hatinya tetap terhibur. Dalam tahanan, ia bertemu dengan belasan sesama pemetik asal Jabung. Yang tengah menebus dosa dan kesalahannya.(*)


*)   Dalem Tehang
**) Jurnalis, dan Pemerhati Sosial Budaya di Bandar Lampung