Kesetiaan Tak Berbatas
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Kesetiaan Tak Berbatas

Reporter
Kamis, 19 Maret 2020


Ilustrasi (google.com)

Oleh: Dalem Tehang

PRIA berbadan cukup kekar dengan warna kulit kehitaman itu, selalu penuh senyum. Wajahnya tak pernah kehilangan keceriaan.

Pembawaannya juga bersahaja. Ringan tangan setiap dimintai pertolongan. Dan tidak pernah mengeluh. Meski kehidupannya tengah berada di titik nol: sebagai narapidana.

Arif nama pria berusia 34 tahun itu. Ayah seorang anak asal Seputih Banyak, Lampung Tengah, ini harus menikmati kehidupan di hotel prodeo karena tersangkut kasus illegal logging. 

Sejatinya, ia bukanlah penebang pohon sonokeling dari kawasan hutan lindung. Pun bukan orang yang membiayai praktik perusakan hutan kawasan. Ia hanyalah pengemudi truk fuso yang disewa untuk mengangkut kayu-kayu itu.

Arif sungguh tak tahu menahu asal-muasal barang yang diangkutnya. Untuk diantarkan ke sebuah pabrik di wilayah Surabaya, Jawa Timur. Menjalani profesi sebagai sopir truk fuso selama 15 tahun, yang ia tahu hanyalah mengantarkan muatannya sampai ke tujuan dengan aman dan selamat.

Namun kali ini, ia apes. Saat truk fusonya memasuki Pelabuhan Panjang untuk menumpang kapal sampai ke Tanjung Perak, ada pemeriksaan petugas keamanan. Arif yang mengangkut belasan kubik kayu sonokeling dari tepian jalan di wilayah Tanggamus, tak bisa menunjukkan surat-menyurat asal-muasal barang yang diangkut fusonya.

Pria berwajah lugu ini pun diamankan. Sang penyewa truk yang juga pemilik kayu, menghilang. Jadilah Arif didakwa sebagai pelaku utama perambahan hutan lindung. Sendirian ia duduk di kursi pesakitan sebagai biang illegal logging.

Proses hukum nan panjang dan melelahkan pun, dilakoninya. Sampai hakim mengetuk palu hukuman; 2,6 tahun penjara. Arif ternganga. Sungguh amat tak menyangka nasibnya akan berujung di penjara. Namun apa daya. Hukuman sudah diputuskan, dan ia wajib menjalaninya.
Sejak itu, 10 bulan lalu, Arif hidup di penjara. Menjalani hukumannya. Namun wajahnya tetap ceria. Pertanda ia pria tegar nan ikhlas menjalani takdirnya.

Hanya sesekali saja ia tampak termenung. Saat mengingat istri dan anak semata wayangnya.

Sang istri, Yetti, tengah bekerja di Taiwan. Kontrak kerja 2,6 tahun, akan diselesaikannya pada Juli mendatang. Setelah Arif di bui, sang anak diasuh mertuanya, yang tinggal di Way Bungur, Lampung Timur.

Dalam rona kehidupan yang penuh keterbatasan itu, Arif dan Yetti terus menjaga kesetiaan cinta mereka. Merawat keharmonisan rumah tangganya. Memberikan sentuhan kasih sayang pada buah cinta mereka.

Arif dan Yetti rutin komunikasi. Arif rajin ke wartel khusus yang ada di tempatnya menjalani hukuman. Untuk terus menjaga cintanya. Ia tahu persis, komunikasi sangat penting artinya dalam menjaga cawan rumah tangganya. Terbatasnya komunikasi akan membuat ranumnya bunga cinta menjadi mengering dan terbuka lebar peluang masuknya orang lain membawa air penyiram dahaga.

Jauhnya jarak, tak membuat pasangan muda ini tergoda. Terpuruknya kehidupan Arif saat ini, tak membuat Yetti memalingkan cintanya. Terbuai dengan rayuan orang lain dan tumbuh benih-benih simpati yang menggetarkan jiwa.

Kesetiaan mereka tak berbatas. Menembus seluruh jarak yang menjadi pemisah. Meyakini bila cinta dan kesetiaan adalah rahmat dan anugerah Tuhan, yang harus selalu disyukuri dan dipertahankan.

 Jauhnya jarak yang terbentang, badan terpenjara pula, bukan alasan untuk mencabik bendera kesetiaan. (*)