Ayo Wujudkan 'Jabung Berjaya'
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Ayo Wujudkan 'Jabung Berjaya'

INILAMPUNG
Minggu, 08 Desember 2019

Oleh: Dalem Tehang

MIRIS..! Itu yang saya rasakan saat membaca berita dua remaja berstatus pelajar SLTA asal Jabung, Lampung Timur, harus kehilangan nyawanya karena aksi curanmor di Jalan Pulau Ambon, Sukarame, Kamis (5/12) malam. 

Aparat Polresta Bandar Lampung bertindak tegas terukur dengan menembak mereka akibat keduanya meletuskan senjata rakitan yang ada ditangannya.

Kenapa miris? Karena dalam kurun waktu setahun ini saja, entah sudah berapa belas remaja maupun pemuda asal Jabung  meregang nyawa akibat aksi metiknya kepergok aparat. Baik itu di wilayah Lampung maupun luar daerah. Belum lagi yang tengah menjalani hukuman, bisa jadi mencapai puluhan orang, yang rata-rata berusia antara 17 sampai 25 tahunan. 

Alasan saya miris, juga karena hilangnya banyak warga negara pemilik masa depan hanya oleh perilaku salah; metik motor milik orang lain. Memang, kita tak bisa salahkan tindakan tegas terukur yang dilakukan aparat Kepolisian. Sebab sudah menjadi tugas mereka menjaga keamanan dan ketenangan masyarakat. 

Namun selayaknya, ada langkah-langkah konkret yang dilakukan pemerintah, agar persoalan "Begal Jabung" ini berkurang, bahkan bisa hilang.

Dari hasil ngobrol-ngobrol ringan saya dengan beberapa pemetik -istilah keren bagi pelaku curanmor yang mengandalkan kunci letter T-, ada persoalan serius di wilayah Kecamatan Jabung. Apa itu? Tak lain faktor ekonomi masyarakatnya. 

Potensi sumber daya alam di kecamatan dengan 3 desa itu sepenuhnya mengandalkan pertanian. Tanaman jagung dan singkong yang paling banyak jadi pilihan warga setempat. Selain usaha pertanian, dapat dibilang wilayah ini minim potensi. Bahkan, sampai saat ini, tak ada satu pun perusahaan besar yang beroperasi di daerah itu. 

Bila bicara infrastruktur jalan, hampir semuanya cukup bagus. Sosial kemasyarakatannya pun cukup baik. Yang paling krusial, ya masalah ekonomi masyarakatnya yang masih terlalu morat-marit. 

Dalam desakan kebutuhan bertahan hidup yang semakin tinggi, dengan tingkat perkembangan pertanian yang tak sepadan, ditambah pengaruh perkembangan dunia modern yang selalu menonjolkan keglamouran, jalan pintas pun menjadi pilihan. Khususnya oleh para kaum muda.

Entah siapa yang dulu memprakarsai, akhirnya Jabung dikenal sebagai wilayah yang banyak dihuni pelaku kriminal, khususnya curanmor. 

Saya yakin, Pemkab Lampung Timur sudah banyak menggelontorkan program pembangunan di kecamatan itu. Namun belum juga mampu mengangkat perekonomian masyarakatnya.

Saya tak tahu pasti, dimana kurang tepatnya guliran program pembangunan pemkab setempat. Yang saya dapatkan dari hasil ngobrol ringan dengan para pemetik; apa yang dilakukan pemkab hanya sebatas lip service semata. 

Dalam bahasa lain; kalau pun banyak orang Jabung yang kelihatannya mapan secara ekonomi, itu karena ada anggota keluarganya yang bekerja sebagai pemetik. Benarkah demikian? Wallahua'lam bis sawaf. 

Tergerak untuk "melepaskan" Jabung dari predikat sebagai sarang pemetik, yang telah mematikan belasan kaum muda setempat, saya menyarankan kepada Gubernur Arinal Djunaidi dan Wagub Chusnunia Chalim untuk mereformasi program Desa Berjaya dengan melakukan program Jabung Berjaya. 

Memang penting menuntaskan 19 desa dengan kategori sangat tertinggal yang akan ditangani dalam program Desa Berjaya 2019. Yang menurut Sekprov Fahrizal Darminto, akan tuntas dalam tahun anggaran 2020-2021.

Tentu semua kita juga amat memaklumi bila Gubernur-Wagub konsen dengan program Desa Berjaya sebagai pondasi mewujudkan Lampung Berjaya yang menjadi tagline saat  kampanye pilgub 2017 silam.

Namun, urusan Jabung ini sangat urgent. Nyawa manusia yang dipertaruhkan. Yang mirisnya, mayoritas anak remaja dan pemuda.
 
Saya tak bisa bayangkan, bagaimana komposisi penduduk Jabung 5-10 tahun mendatang, bila trend aksi metik itu tak ditangani dengan arif dan bijak oleh pemerintah kabupaten dan provinsi, dengan program-program pembangunan perekonomian yang terukur. 

Memang tidak mudah "menggeser" program Desa Berjaya dengan menyeriusi terwujudnya Jabung Berjaya. Apalagi saat ini, kategori pedesaan di Lampung -sebenarnya- juga masih sangat memprihatinkan.

Dimana hanya 6 desa saja yang masuk kategori desa mandiri, 232 desa maju, 1.674 desa berkembang, dan 504 lainnya dalam kategori desa tertinggal. Melihat komposisi kategori desa ini saja, kita bisa bayangkan bagaimana tingkat perekonomian masyarakat Lampung secara umum. 

Namun, sekali lagi, demi menyelamatkan anak-anak remaja dan pemuda, saya menyarankan pada Gubernur dan Wagub, untuk lebih bijak dan elastis dalam mewujudkan program pembangunan yang dijanjikannya saat kampanye lalu. Sebagai mantan bupati Lampung Timur, tentu wagub lebih memahami Jabung dengan semua persoalannya. Atau setidaknya pemprov secara khusus "menugaskan" Bupati Lampung Timur, Zaiful Bokhari, untuk mewujudkan Jabung Berjaya secara utuh.

Saya akan lebih miris lagi, bila fenomena Jabung dengan keterkenalannya akibat aksi metik sebagian warganya, dijadikan "jualan" saat masa kampanye pilbup pertengahan tahun depan. 

Sejarah akan mencatat; siapa yang mampu mewujudkan Jabung Berjaya dengan peningkatan ekonomi masyarakatnya dan mengubah hobi metik motor orang menjadi suatu aktivitas yang positif serta terjauhkan dari hal-hal yang 
melanggar hukum. Kita tunggu saja. (*)

*)   Dalem Tehang
**) Jurnalis, dan Pemerhati Sosial Budaya di Bandar Lampung


LIPSUS