Bedah "Purnama Retak" di Teater Terbuka PKOR Wayhalim
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Bedah "Purnama Retak" di Teater Terbuka PKOR Wayhalim

bdy
Jumat, 13 Desember 2019



INILAMPUNG.COM
- Bedah roman "Purnama Retak" yang sebelum dilaksanakan di pelataran Pasar Seni, dipindah ke Teater Terbuka Pusat Kebudayaan dan Olah Raga (PKOR) Wayhalim, Bandar Lampung, Ahad (15/12/2019) pukul 16.00.

Perubahan tempat tersebut disampaikan ketua pelaksan Bedah Roman "Purnama Retak", Faisol Mursaid, Jumat (13/12) malam.

Dijelaskan Faisol, pemindahan itu disebabkan musim hujan yang kini mulai terasa. "Kami pindahkan dari pelataran ke teater terbuka, semata kekhawatiran turun hujan," jelas dia.

Sementara waktu dan pembahas tetap, yakni sastrawan Lampung, Isbedy Stiawan ZS, dan penulis "Purnama Retak", Tri Shubhi Abdillah Assiroji.

Novelis ini lahir di Bandung,  28 Dzulhijjah 1405/14 September 1985. Ia menjadi Ketua Komisariat HMI FIB-UI pada 2006. 

Setelah itu, Subhi mendirikan kelompok diskusi dengan moto “Menafsir Indonesia Menyambung Peradaban”. Kelompok diskisi diberi nama Komunitas NuuN. 

Dalam perjalanannya, Tri sempat menjabat Sekertaris Program INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), dan di tahun 2017 mendirikan NuuN.id, sebuah portal berita kebudayaan Islam dan Indonesia.

Sebelum roman "Purnama Retak", Tri Subhi telah menulis "Sepatu Baru untuk Marilyn" (Harian Umum Republika),  "Perawan Sunyi" (Majalah Islam Sabili).

Novel "Purnama Retak" mengisahkan sekelompok mahasiswa di masa rezim Soeharto jelang reformasi. Anak-anak kos yang kritis ini memanfaatkan waktu di luar kampus dengan berdiskusi masalah politik dan sosial masa itu. 

Novel setebal 519 halaman ini, mengisahkan Salim, Cak Tarjo, Ningsih dan lainnya satu komunitas diskusi. Sampai mereka selesai kuliah, tokoh Salim dan Cak Tarjo kembali dipertemukan di sebuah stasiun, Stasiun UI, Depok. 

Meski pertemuan itu, membuat Salim sesaat lupa pada tokoh Cak Tarjo. (bdy)


LIPSUS