PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (10)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (10)

bdy
Kamis, 02 Januari 2020








Oleh Isbedy Stiawan ZS




VI

AKU hanya mau mengatakan,
sesungguhnya kau rindu 
padaku.

Itu katamu yang membuatku terlongo. Kualihkan mataku ke lampu-lampu di pinggir pagar Kafe Diggers. Lelampu yang serupa penerang dari minyak tanah dan bersemprong.

Tak segera kujawab, atau bahkan membantah ucapanmu yang cenderung menjustufikasi. Sengaja ingin mendorongku pada satu kenyataan: aku memang merindukanmu.  Kalaupun ya, tak mesti kujawab dengan anggukan.

Aku lelaki. Punya nilai diri yang besar. Tidak gampang mengatakan rindu walau sesungguhnya ada kerinduan. Sehari saja tidak berkabar - menerima atau mengirim -- dengan paling mudah, yaitu watsapp -- rasanya ada yang kurang dan mesti dilengkapi.

"Bukan begitu?"

Aku makin terpojok.

"Tidaaakkkk...." 

Sayangnya kata itu tak keluar dari bibirku. Aku tak berkutik di hadapanmu, Dinda...

Aku menerawang ke bebarapa malam silam. Kau sebagai mimpi mendayangiku. Mengusik lelapku. Kau bukan lagi Dinda yang kuketahui sebelumnya. Kamu adalah mimpi itu. Mengajakku jalan-jalan. Ke mal, water boom, pantai, menyusuri jalan layang ke jalan layang lainnya.

Laku pada fly over terpanjang itu, kau berhentikan mobilku yang kau setir. Turun. Menuntun lenganku seolah aku tunanetra. Sebelum menuju bibir jalan laying, kau ciumi lama sekali bibirku. Lalu kau naik. Sungguh aku tak menduga kau akan lakukan itu. Kamu perempuan. Panjat memanjat punyanya lelaki. Kau tersenyum.

"Memangnya tabu kalau wanita seperti ini? Kulanggar ketabuan itu sekarang! Ayo, pegang tanganku jika kau jantan. Kita lompat dari sini demi surga. Untuk kebahagian sempurna..." katamu lalu menarik lenganku bagaikan tas kresek. Kemudian bersama-sama melompat.

"Aduh!" kepalaku sakit. Lantai menerima tubuhku sepenuhnya. Aku tersadar. Mimpi kiranya.

*

Ya. Aku juga ternyata bermimpi tentangmu, kemarin malam. Kau datang mengenalkan diri sebagai Mimpi. Awalnya aku heran, tidak percaya, dan mau membantah. Tetapi, kamu berkeras dan meyakini diriku bahwa kau bukan Busye. 

"Aku Mimpi. Sungguh, Mimpi. Kita bertemu dan berkenalan di Pustaka Kopi, sebuah kafe di bilangan BK Permai. Pemilik kafe itu kabarnya sastrawan juga. Cuma ia sibuk di kampus, katanya, jadi dosen. Jadi sudah tak produktif," katamu. Aku pun yakin akhirnya kau memang bukan Busye.

Kau bercerita, dalam mimpi itu diajak jalan-jalan ke berbagai kafe. Hanya semalam bisa mendatangi 10 lebih kafe di kota ini. Dari kafe yang khusus menyediakan kopi sampai tanpa aroma kopi. 

"Kita hanya ngobrol, diskusi, sesekali berdebat. Marah dan tertawa. Sampai pengunjung lain melihat ke kita dengan wajah aneh. Kita dianggap tak waras."

"Apa katamu?"

"Aku marah. Kulempar kursiku ke arah mereka. Persis di atas meja. Makanan mereka tumpah, pakaiannya basah dan kotor terciprat makanan. Mereka mendekat, kakiku lebih dulu menyentuh dadanya. Terjerembab mereka, mencium tanah."

"Aku percaya. Kau kan sabuk hitam Dan 2 karate!" pujiku. Kau tersenyum. "Barpun kau wanita, kamu punya beladiri. Juara nasional komite!" lanjutku.

Kau tersenyum.

"Sayangnya mimpi. Kalau kenyataan mana pula aku berani. Lagipula aku bisa diseret ke kantor polisi."

"Kan ada aku."

"Apa kau berani? Aku ragu," balasmu cepat. 

Tak kulanjutkan percakapan ini.

Mimpi terkadang melebihi fiksi. Kita seakan dibawa ke dunia nyata, namun sebenarnya kita hanya berputar dalam labirin non-realita. Dalam karya sastra, seharusnya lebih fiksi. Tetapi sekarang, kita sering disuguhi kenyataan-kenyatan. Padahal saatra itu adalah karya seni berbahasa. Di dalamnya ada unsur permainan imajinasi, berbahasa, dan bertolak dari inspirasi.


Seno Gumira Ajidarma dalam "Saksi Mata" mengangkat fakta di Timor Timur kala itu sebelum menjadi Timor Leste. Cerita-cerita di dalam buku itu fakta, namun menjadi fiksi di tangan sastrawan. Begitu pula "May" Sandi Firly yang menulis novel dari Jumat kelabu di Banjarmasin, tapi sudah berganti fiksi di dalam novel itu. Baca pula puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri. Bagaimana ia menyebut, lima percik mawar/tujuh sayap merpati/sesayat langit perih/dicabik puncak gunung/sebelas duri sepi/dalam dupa rupa/tiga menyan luka/mengasapi duka//puah!/Kau jadi Kau/Kasihku dalam “Mantera”-nya. Itu juga sudah menjadi fiksi. Bagaimana mungkin ada lima percik mawar dan tujuh sayap merpati. Tak ada itu. Tapi begitulah imajinasi penyair, melebihi daya khayal manusia kebanyakan.

Hal sama ketika Hamsad Rangkuti menulis cerpen "Maukah Kau Hapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu". Tokoh ada, seting juga ada. Sebagian dari cerpen tersebut telah dibacakan Hamsad di Pertemuan Sastrwan Nusantara (PSN) Kayutanam, Sumatera Barat.

"Tapi kita seolah membaca realitas, bukan karya fiksi yang dijejali fakta-fakta. Atau mencomot fakta tanpa diolah lagi," katamu.

Dinda yang kutahu memang pembaca sastra maniak. Kamu bukan saja menyelesaikan buku hingga halaman akhir, tapi benar-benar membaca.

"Itu sebabnya Hamsad pernah berkata, pengarang itu pembohong besar. Artinya, cerita-cerita yang ditulisnya meski bertolak dari fakta sudah menjadi karya inajinasi yang karenanya fiksi," kataku.

"Hamsad juga mengatakan, sastrawan menulis apa yang tak terkatakan. Berbeda dengan wartawan yang menulis apa yang diucapkan narasumber," kau menambahkan.

Aku menambahkan, aku suka dengan novelnya Arafat Nur, cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo, Yanusa Nugroho. 

"Yang dari luar?"

Bukan aku tak membaca, tapi ini soal selera saja. Rasa-rasanya karya lokal lebih berasa. Aku asing dengan suasana berbau Amerika Latin, Uni Soviet, Jepang, maupun Cina. Entah kenapa.

"Tapi perlu juga kau baca dan gali ide-ide mereka. Sastra Timur Tengah juga bagus-bagus...." katamu selanjutnya.

"Wah, pustakamu mendunia...." pujiku.

Ia diam. Hanya senyum. 

"Sayangnya aku bukan sastrawan aktif."

"Kau juga sastrawan, setidaknya penikmat. Itu sudah baik," jawabku.

Sungguh aku salut dengan isi kepalamu. Bertaburan sastra di dalamnya. Sering kujadikan pustaka, tempat aku bertanya banyak hal. Aku tak malu karena tak sastrawan bukan manusia sempurna. Ia juga banyak lemah dan kekurangan. 

"Aku sepakat ucapan Budi Darma. Penulis itu harus banyak jalan, banyak ngobrol, diskusi, dan bertanya. Lalu banyaklah menulis. Itu membuktikan penulis itu selalu kurang, dan terus belajar dari banyak orang ditemuinya," kataku lagi.

"Ya setuju aku. Banyak menulis juga berarti memperbanyak mengasah cara menulis...." kau menambahkan.

Ah, sudah malam ternyata. Kau sudah harus kembali ke kosan, sebelum kau dapati gerbang sudah terkunci. Kamu akan menggedor-gedor. Terkatung-katung di luar gerbang. 

*

SELEPAS kuantar Dinda ke depan kafe untuk pulang, aku bukannya langsung ke rumahku. Kupikir masih terlalu siang jika pulang pada pukul 23.00. Kebiasaanku sampai rumah dan langsung tidur sesudah pukul 02.00. Aku kelilingi kota yang tak besar ini. Dari hilir ke hulu. Dari kampung ke udik. Lalu singgah di Taman Gajah, Tugu Gajah, hingga ke sudut Saburai.

Di kotaku orang menjumpai banyak kata “gajah”. Sehingga kawan dari Bali terheran-heran dengan kata-kata itu, padahal hewan tambun berbelalai hanya ada di belantara dan pusat latihan Way Kambas.

“Itu pun masih sisa berapa. Jangan-jangan sudah habis…” kataku waktu itu tertawa.

“Lalu, apa maksudnya semua nama di sini dan ikon pun adalah gajah….” Tanya kawanku lagi masih terheran-heran.

“Kadang mengabadikan sesuatu itu dengan cara ditulis. Aku setuju kata Pramoedya Ananta Toer, secerdikpandai seseorang kalau tak menulis belum bisa diakui, kalau tak salah begitu dia ngomong…”

“O ya, boleh jadi kalau nama gajah diabadikan lewat tulisan dan gambar-gambar. Jadi, meski gajahnya sudah punah, setidaknya orang masih mengingatnya,” dukung kawanku.

Aku masih memacu motorku. Kulewati GOR Saburai yang dipenuhi para perempuan malam. Dari Sriwijaya hingga Majapahit, dan di dekat situ ada sebuah hotel yang tarifnya tak mahal. Lengkaplah peradaban malam di wilayah itu. Dari jalan ke peraduan.

Ada dugaan ramainya perempuan pencari lelaki hidung belang di sekitar Saburai, lantaran pusat lokasi di Pemandangan dan Pantai Harapan ditutup pemkot setempat. Mereka yang tak ingin mati dirajam lapar, akhirnya menyebar ke jalan. Mampir di Saburai, sekitar PKOR Wayhalim, dan memenuhi hiburan malam sebagai pemandu lagu (PL) ruang kedap karaoke.  Sebagian lagi masih bekerja di kawasan yang sudah ditutup secara hukum, namun tetap beraktivitas dengan sembunyi-sembunyi.

Sembunyi-sembunyi? Siapa bilang? Apakah ketua RT, RK, Kelurahan itu matanya tertutup sehingga tak melihat? Apa ya telinga aparatur desa itu tidak pernah mendengar desas-desas ada praktik illegal malam hari?

“Dusta kalau mereka tak tahu dan dengar!” entak Izal, wartawan muda yang pernah blusukan ke kedua wilayah itu. “Aku saksinya, kalau ada yang katakana bahwa sudah tak ada pratik prostitusi di sana. Aku masuk ke wilayah itu bersama wartawan dari Jakarta. Kebtulan ia juga mau investigasi soal prostitusi di sini,” katanya kemudian.

“Kau turut mencicipi dong. Tanggung kan…” godaku. “kalau ada yang cantik dan bebas dari penyakit, boleh juga…” lanjutnya.

“Wuih, haram bukan muhrim,” sergah Izal, “Yang cantik banyak, karena melihatnya malam hari. Tetapi yang bebas penyakit, harus kau jajal dulu. Kalau kau terkena rajasinga berarti dia sudah terserang penyakit. Bagaimana?”

“Asu, kepala lu peyang!” aku membalas sambil kugertak dengan sepatu. Izal lari.

Dan, kini malam kian dingin. Perempuan yang menurutku cantik dan ayu dari ukuran bisa para perempuan di Saburai itu, sengaja melintas di depanku saat kukendarai motorku pelan. Ia kebas rambut panjangnya. Kedua kakinya yang bagai kijang itu sengaja dibuat gemulai saat melangkah. Juga leher jenjangnya dibiarkan terbuka.

“Ke mana Bang…”

“Cari angin,” jawabku pendek.

“Cari aku aja…. Di aku banyak angin kok,” balasnya manja.

“Kentut…”

“Ih, bau! Yang ini lain, gak bau…”

“Amis?”

“Wangi, searoma melati… hihihi…”

“Waw!” kataku seolah-olah terpana. “Berapa anginnya?”

“Mau lama? Mau banyak? Mau…

“Mau semunya…”

“Seribu…”

“Itu sih kelas Sultan…” kataku menyebut hotel di Jakarta yang dulu bernama Hilton.

“Ke sana aja bang….” jawabnya.  “Abang kayak bukan pembeli ya?”

“Maksudmu?”

“Gak bisa tawar. Gak cocok langsung pergi…” ujarnya tersenyum.

Perempuan ini sabar sekali, aku membatin. Aku masih duduk di jok motorku. Sebagai mantan wartawan, aku kembali memanfaatkan ilmu investigasi yang kumiliki. Kusorong sebungkus rokokku padanya, setelah kuambil sebatang. Sengaja kutawarkan dua merek rokok, tinggal ia pilih.

“Yang ini ajalah. Trims bang…” ia memiih rokok yang biasa dirokok kaum Hawa.

“Oke, sama-sama…” jawabku sambil mengambil kembali rokok yang ia sodorkan.  “Kamu sendiri?”

“Dengan kawan. Lagi kerja semua…”

“Kamu belum?”

“Sepi, bang. Kalau abang mau, yang pertama deh. Masih bersih, anginnya juga masih banyak…” godanya. Lagi-lagi ia tertawa. Begitu telaten ia meladeniku, pikirku.

Perempuan yang mengaku bermana Santi itu duduk di kursi milik pedagang rokok. Biasanya mereka mejadi pelanggan minuman atau membeli rokok di tempat itu. Sekiranya belum dapat pelanggan, mereka mengutang dulu di warung yang buka sejak Magrib dan tutup jelang fajar. Kerja sama yang sudah diatur tanpa surat kesepakatan di atas materai. Sebuah aturan tak tertera di kertas itu begitu rapi dijaga dan dirawat oleh mereka. Bahkan, terkadang mereka saling menolong. Misalnya jika tiba-tiba ada Sat Pol PP datang merazia, siapa pun yang tahu segera membocorkan secara berantai. Daerah itu pun sunyi seketika.

Begitulah bisnis pinggir jalan…

Ketika Santi mendekati motorku – maksudku mendekatiku dan berbisik – aku hanya tersenyum-senyum. Ternyata seorang profesional seperti dia di perbinisan syahwat, mengaku sudah tak tahan ihwal itu. Katanya, terbiasa tiap malam melayani orang namun hingga hampir pagi belum ada yang berlabuh, dermaga pun kesepian. Angin menjadi amat sayang dibiarkan membeku.

“Berapa aja abang ada deh, aku…”

“Nanti dulu, pasti kok kubayar angin itu…” balasku tersenyum. Kutawari minuman yang ia inginkan. Kutawari juga untuk mengambil sebungkus rokok. “Aku yang bayar…”

Dia mengangguk.

Santi semestinya tidak berada di jalan itu pada malam-malam yang lebih sering dingin dan berembun. Ia seharusnya berada di rumah. Meniduri anak, memeluk sang suami, memerhatikan tubuh anaknya dari sengatan nyamuk. Bukan menghitung tiap detik berapa kotak trotoar di sana. Berapa lelaki yang hanya lewat lalu balik lagi. Menawar lalu mencari yang lain. Duduk dan mengajak ngobrol, seakan habis waktu hanya untuk mengumbar cerita. Meski pun banyak cerita yang diungkap di situ, lebih banyak basa-basi dan palsunya!

“Saya perlu uang abang… Anakku harus bayar SPP lagi,” ujarnya. Ia mengatakan itu tanpa kuminta.

Klise. Pikirku.

Semasa magang di koran, aku sering ditugaskan ke daerah-daerah hitam seperti ini. Oleh redaktur liputan, aku diperintah masuki lokalisasi pada siang hari bulan Ramadhan, dan jika aku tak cuti Lebaran ya ditugaskan saat takbir kumandang ke kawasan bronx tersebut. Di sana tentu saja aku wawancara. Aku menyamar sebagai lelaki yang hendak mendapatkan kehangatan mereka.

Terkadang aku berdusta, kukatakan aku sudah lama tak mendapat kenikmatan di ranjang dari istriku. Seperti hilang cinta itu. Akhirnya aku kelayapan seperti ini.  Mereka, entah percaya dengan ceritaku atau masabodoh, hanya mengangguk-angguk. Padahal, aku masih lajang. Ya, sampai seusiaku kini, nyaris mendekati 41 tahun, belum beristri. Bukannya aku tidak laku, namun aku belum terpikir ke arah ikatan batin dan fisik itu. Aku masih menikmati hidup sendiri, dengan rumahku sendiri dari keridit sewaktu aku kerja di koran.

“Kok bisa?” itulah pertanyaan mereka nyaris sama. Seperti juga kalau ditanya mengapa mereka bisa ke lembah ini. Mereka akan berkata, tak tahan dianiaya suami atau ekonomi yang carut-marut di rumah tangganya lalu memilih pisah. Tetapi, setelah berpisah beban hidup dan kebutuhan untuk menutupi beban itu, tak bisa berhenti. Akhirnya, tak ada piihan, mereka cari jalan yang dianggap cepat dan ligat.

“Jadi pelacur. Penghibur lelaki yang hatinya juga hancur. Lelaki yang tak berpikir ada hati, karena kebutuhan mereka adalah bodi.” Itulah ceirta mereka, seperti dikloning, kau akan dengar sama dari perempuan-perempuan lainnya di sini.

“Kalau ada lelaki yang mengajakmu pindah dari sini menuju rumah tangga, apakah kau mau? Bagaimana menurutmu Santi?”

“Aku gak percaya. Kalau benar lelaki itu ingin berumah tangga, ingin membuat bahtera, ya perbaiki dulu segaranya. Bagaimana mungkin bisa bahtera akan lancar berlayar jika segaranya diambi dari laut kotor bersampah?” tanyanya. Ia benar-benar tidak yakin dengan ucapan lelaki yang seakan idealis di daerah hitam seperti itu.

“Kau benar. Smart Santi!”

“Kenapa?"

“Pandanganmu,” kataku cepat. “Seorang lelaki apabila benar-benar hendak berumah tangga, taklah serampangan ia memilih bahtera dan segara. Ia akan perhitungkan. Mosok ya, mau beristri dia ambil dari….”

“Dari jalanan, maksud abang?” sergapnya. “Aku protes! Kami ini juga sebenarnya punya hati, ada niat untuk mengakhiri kerja seperti ini. Tetapi, tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan, tak bisa semudah menggugurkan daun dari ranting. Perlu proses. Karena itu, berbanding balik dengan kaum lelaki yang sok idealis ingin mengangkat kami dari sini menuju rumah tangganya. Kami, khususnya saya, ingin mendapatkan lelaki yang bukan bertemu dan jatuh cinta di tempat semacam ini. Lelaki baik-baik…”

Aku diam. Ingin tersenyum, tapi terasa kecut.

“Kalau lelaki yang ketemu di sini, apa bedanya dengan saya?” ujarnya lagi. Kini dengan pertanyaan. Santi masih sabar menghadapiku, ia meladeni diskusiku. Meski, barangkali dalam hatinya, ia tak akan mendapat apa-apa untuk dibawa pulang. Selain sebotol minuman dan sebungkus rokok tadi.

“Bagaimana bang, mau? Yuk, sudah perlu dihangatkan nih…”

“Berapa?”

“Daripada saya pulang tak bawa uang. Sudah kukasih 300 ribu…” ujarnya pelan. “Tapi, jangan ngomong dengan yang lain ya, dikira aku jatuhkan harga…”

“Ok, kukasih nih 300 ribu,” kataku sambil menyodorkan 3 lembaran uang berwarna merah ke tangannya.

“Di mana?” tanyanya setelah menerima uang dariku.

“Di situ…” aku menunjuk sebuah hotel tak jauh dari tempat kami bertemu.

“Ya, sudah abang duluan pesan kamar ya, dan kasih tahu ke resepsionis nomor kamarnya,” katanya lagi. Santi memberiku semacam kartu nama yang nanti dititip kepada resepsionis. Seperti password di antara pihak hotel dan mereka.

"Tapi amankan di situ?" tanyaku sebelum kutekan gas. Saat aku bicara kudekatkan ke telinganya.

"Aman."

"Kamu pasti ke situ kan?"

"Kalau gak besok malam bisa abang cari aku di sini. Tanya babang rokok itu."

"Oke."

Aku pamit pada Santi. Kuhidupkan motor, tapi bukan singgah ke hotel yang kami janjikan. Aku pulang. Karena merasa lelah dan mengantuk sekali, aku langsung rebah di kursi ruang tamuku.*



(Bersambung)




 

LIPSUS