PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (12)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (12)

bdy
Jumat, 03 Januari 2020





 



Oleh Isbedy Stiawan ZS



SANI sudah datang lebih dulu. Dia memilih table di sebelah sayap kanan Kafe Diggers di bilangan Pahoman itu. Tanpa teman atau ditemani.

Kemarin malam ia menghubungiku. Ingin mengobrol saja soal kewartawanan. Adik bungsunya yang tahun ini lulus SMA bercita-cita jadi jurnalis. Kubilang waktu itu, bagus. 
Meski ia menginginkan adiknya meneruskan ke Fakultas Kedokteran atau Fakuktas Hukum, toh tak bisa menolak kalau si anak punya kemauan lain.

Kahlil Gibran pernah menulis "Anakmu Bukanlah Milikmu" begini: 
Anak adalah kehidupan,
Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal Darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan Pikiranmu
karena mereka Dikaruniai pikiranya sendiri

Perempuan yang kukira cantik juga tidak, jelek pun masih jauh itu masih menunggu masukan dariku soal dunia jurnalistik. Tetapi aku tak mau duluan, sebelum kutahu apa yang ada di pikirannya soal wartawan.

Lama kami tak saling membuka percakapan. Sajian yang dipesan Sani menjadi sasaran. Tak perlu sungkan, kami menyantap di meja. Ada nasi plus lauk pauk pindang baung, jus alpukat kesukaanku, di depan Sani segelas cappucino, dan lain-lain. Sani bukan pecandu rokok. Malah ia alergi dengan asap rokok. 

Setiap kuisap rokok aku agak menjauh dulu. Biar ia tak terganggu. Ia mengaku sebenarnya suaminya pecandu rokok. Sehari bisa lima bungkus lebih. Akhirnya menyerang paru-parunya, dan tidak bisa tertolong.  Hanya setahun hidup sendiri, Sani mendapatkan suami baru. Sayangnya, lima bulan dari pernikahannya, baru tahu kalau ia adalah istri kedua. Ia disatroni madu dan anak suaminya. Ribut besar, hingga ia putuskan kabur dari Kota M lalu pindah ke kota ini. 

Suaminya mencari-cari keberadaan Sani, namun hingga kini tak juga ditemukan. Ia sudah bulat untuk berpisah. Ia menumpang di rumah adiknya. Di rumah ini ia tahu kalau adik bungsunya ingin kuliah di jurnalistik. Sani tak lagi bercerita kehidupannya. Sewaktu bertemu aku bersama Rena, ia ditemani suaminya. Ternyata baru sebulan ia berumah tangga. Pantas mesra sekali. Masih honey moon

Waktu itu dengan yakinnya Rena mengaku sebagai istriku di hadapan Sani. Seperti juga dilakukan dengan sangat tidak lucu oleh Dinda sepekan lalu di depan Ade. 

Ada-ada saja peristiwa yang kuterima. Aneh dan cenderung absurd. Kejadian-kejadian yang tidak kuduga ini membuatku pusing. Bagaimana kalau satu-satu mereka tahu jika itu hanya dusta? Ade, misalnya, tahu bahwa aku bukan calon suami Dinda. Lalu Sani akhirnya tahu kalau aku dan Rena bukan suami istri?

"O ya, mengapa tak sekalian diajak istri?  Siapa nama mbaknya, saya lupa..." Sani membuyarkan lamunanku.

"Mau sendiri saja..." jawabku singkat.

Sani mengalihkan percakapan. Dalam pikirannya, profesi wartawan tidak prosfek. Untuk naik dari reporter ke jajaran redaktur sangat lama. Apalagi mau jabatan tertinggi. Dia juga mendapat kabar, banyak wartawan yang hanya berpikir cari uang dari narasumber. Mereka datang beramai-ramai. Satu dapat amplop, rombongan itu harus dikasih juga. Padahal berita hanya dikloning; judul dan isi sama. 

"Wartawan sekarang hanya ngejar amplop bukan berita. Media juga layaknya lembar informasi. Tak ada lagi berita hasil buruan wartawan, indeph, dan menurunkan berita yang lain dengan media lain," ungkap Sani.

Aku hanya menyimak.

Sani juga menceritakan tentang temannya, seorang wartawan. Tetapi temannya itu sudah tidak memiliki media karena persaingan dengan media daring (online). Meski begitu, kawannya itu selalu memanggul nama medianya ke mana-mana. Sebagai pemilik juga pemimpin redaksi. 
"Dia juga jadi pengurus lembaga wartawan. Padahal pengurus organisasi hampir sama dengan anggota legislatif. Kalau sudah keluar atau tak punya lagi partai, otomatis diPAW. Kawanku itu kok masih ya?" Sani berujar. Nadanya aneh.

"Mungkin kawanmu itu menganggap tak ada pensiun di dunia jurnalis. Profesi tersebut disandang sampai dia mau," kataku menimpali.

"Tapi memang," lanjutku. Giliran Sani menyimak. "Sejak booming media online, media cetak nyaris ditinggalkan, memberi peluang wartawan muda membikin media sendiri. Akibatnya, secara ilmu kewartawanan belum matang mereka memimpin media. Dia pemrednya, pemimpin perusahaan, juga wartawannya atau reporternya. Berita-berita yang dimuat hasil kloning (rilis). Jadi judul hinga titik koma sama semua di semua media massa."

"Cukup satu media saja kita baca."

"Ya benar! Karena sama," tandasku.

"Karena media daring sangat banyak, kue iklan jadi makin sedikit. Satu iklan direbut bersama-sama. Begitu pula kalau  kerja sama dengan pemerintah, jadi terbaginya sangat kecil. Padahal media hidup dari iklan dan advertising," balas Sani.

Melihat kenyataan itu, dia mengkhawatirkan masa depan adik bungsunya jika bekerja di perusahaan pers.

"Sebenarnya kuliah khusus untuk pers, tak mesti jadi wartawan," kataku kemudian. "Adikmu bisa kerja di bagian humas atau di protokol. Kan gak harus lulusan, misalnya fakuktas sastra, serta merta jadi sastrawan. Ya kan?"

Sani mengiyakan.

"Tapi di benak adikku begitu lulus jadi wartwan!" kata Sani kemudian.

"Jangan dimatikan cita-citanya. Bisa saja kelak berubah. Biarkan ia berkembang seperti tanaman mengikuti musim dan tunduk pada waktu," aku menjelaskan.

Lalu kami terdiam. Cukup lama. Aku sudah pamit ke toilet, Sani sudah menerima telepon dua kali dari orang yang berbeda. 

Ketika aku mau mulai lagi percakapan, handphoneku berdering keras. Segera kusahut.

"Ya."

"Di mana?" tanya Rena.

"Diggers."

"Dengan siapa?" tanya Rena lagi.

"Sama mbak Sani. Itu yang dulu ketemuan di sini juga."

"Sendiri?" tanyanya.

"Sama aku," jawabku pendek.
Tampaknya dialog kami pendek-pendek, serupa menulis pesan di WA.

"Dia sendirian?"

"Ya. Dia mau tanya-tanya soal kuliah kewartawanan."

"Emang dia mau kuliah?"

"Denger dulu,  belum selesai kujelaskan. Untuk adik bungsunya."

"Ok. Sampai jam berapa di situ? Kalau masih lama aku ke sana," ujar Rena.
Aku tak langsung menjawab.  Aku bertanya dulu pada Sani, apakah ia masih lama. Ternyata tidak.

"Ini aku sudah mau pulang," jawabku.

"Ok. Kamu mampir ke rumahku ya. Aku penting sekali. Kau belum lupa kan jalannya waktu antarku malam itu. Kukirim juga maps ya."

Tak bisa lagi menolak. Aku segera meluncur ke rumah Rena di kawasan elit itu.

Hanya 10 menit aku sudah di depan gerbang rumah bertembok 2 meter lebih. Kupencet bel. Rena keluar dan membuka pintu gerbang terbuat dari besi. 

"Hai," sapanya sambil beradu pipi kiri dan kanan setelah kuparkir motor besarku.

"Malam..."

Lalu gerbang ditutup. 

Seperti mengarungi jutaan malam, aku berada di rumah Rena. Terperangkap di antara tembok tinggi, dinding beton. Suaraku tak akan dapat didengar orang di luar sana. Begitu sebaliknya, suara tangisan, minta tolong, atau letusan senjata api takkan sampai ke dalam rumah ini. 

Aku membayangkan tinggal di dalam goa yang kedap suara. Teringgat para pemuda yang masuk ke goa lalu terlelap karena tak mau dipaksa menyembah selain Tuhan yang Esa. Keimanan para pemuda dan seekor anjing itu lebih mahal. Itu sebabnya mereka hijrah walau di dalam goa.

Rena pergi ke Bali, katanya akan mengurus bisnis yang ditinggal suaminya sebelum menjadi pelaut di kapal pesiar. Sangat besar nominalnya. Hampir 1,5 miliar, kata Rena sebelum ia pamit.

Untuk keperluanku selama menjaga rumahnya sudah tersedia di kulkas dan dapur. Aku tinggal masak. Kalau mau pesan makanan dari luar, uang juga disiapkan. 

"Aku minta tolong, hanya kau yang bisa kupercaya. Hanya tiga hari kalau lancar. Paling lama sepekan," kata Rena. "Kalau kau mau menulis pakai laptopku di kamar tidurmu. Juga kalau jenuh kau bisa mainkan piano itu. Aku ajarkan sebentar cara menghidupkan."

Untuk piano bagiku tak perlu. Soalnya aku tak bisa bermain musik. Kalau menyanyi, sedikit-sedikit bisa. Lalu Rena memindahkan cede untuk karaoke di ruang tengah.

Ia juga sudah membelikan 20 bungkus rokok kesukaanku. Kaget juga kalau ia hapal merek rokokku. Batinku, jangan-jangan dia selalu memerhatikan rokokku. Kalau tidak, pasti ia bertanya sebelum membeli. Selain itu setengah lusin kaus untuk tidur dan pakaian sehari-hari. Lalu dua kotak celana dalam, handuk, sikat gigi serta pasta.

"Ah, aku jadi tak enak. Kau terlalu memewahkan aku!"

"Ih ini sih bukan mewah. Untuk sehari-hari. Santai aja Bus. Anggap saja di rumahmu juga...."

Kemudian Rena berharap aku bisa kerasan di rumahnya. Ia yakin aku bisa bekerja dengan laptopnya. Dia juga menunjuk lantai dua jika aku ingin berangin-anginan sambil menikmati kota di bawah sana. Kompleks perumahan elit ini memang berada di ketinggian. Jadi yang mahal dan dibilang mewah itu karena keindahan panorama. Sudut dalam memandang. Selain itu keamanan yang ketat. Sewaktu aku masuk ke sini kemarin malam, petugas satpam memeriksa telaten. Bagasi motorku dibuka. Aku harus menyerahkan KTP dan akan kuambil begitu keluar.

Rena sudah sampai di Bali sore tadi. Ia bermalam dulu di Jakarta. Sudah dua malam aku menunggu rumahnya.
Malam ini dia meneleponku. Sedikit basa-basi, lalu menanyakan apakah aku lelap tidur. Kujawab, aku baru bisa tidur setelah azan Subuh. Bangun pukul 11.00, mandi, dan kembali meneruskan tulisanku.

"Dapat berapa bab jadi?" tanyanya. Aku yakin ia tersenyum seperti kebiasaannya.

"Dua bab. Ini sedang melanjutkan bab berikut," jawabku. "Semoga bisa kuselesaikan 2 bab lagi."

"Soal apa yang mau kau buat di bab ini?" Rena bertanya. "Jangan sampai ceritamu jadi centeng di rumahku ya?"

"Ya ndaklah, malu-maluin. Kecuali kuceritakan bahwa aku diajak menginap bersama Rena  di rumah mewahnya. Pembaca pasti penasaran, menduga-duga sampai berpikiran negatif. Maklum, pikiran kebanyakan orang selalu negatif alias kotor. Orang ke tempat hiburan lalu capnya pasti mabuk-mabukan. Perempuan kerja di hiburan malam, pasti wanita panggilan. Perempuan tak benar, dan sebagainya."

"Ya begitulah," Rena mendesah. "Gila juga kita kalau terus-terusan memikirkan orang lain tentang kita. Cuekin aja apa kata mereka."

"Setuju. Walaupun kita tidak bisa mengelak dari pandangan yang sudah terbentuk oleh adab ketimuran itu" balasku.

Lalu ia selesaikan obrolan melalui telepon. Alasannya, mau ada pertemuan. Dengan siapa, Rena hanya tertawa. Diamput! Perasaanku dipermainkan Rena.

Selesai menutup telepon genggamku, Dinda menelepon. Dia tanya di mana aku. Kemudian kenapa aku tak menelepon atau berkirim pesan. Kujawab petanyaan itu, dengan kalimat: "Aku lagi di luar kota, belum sempat berkabar."

"Sibuk toh?"

Aku diam. Berdusta lagikah aku?

"Aku lagi mencicil novelku. Sudah 3 bab bisa kurampungkan di sini."

Aku tak berbohong kan? Benar bahwa aku menulis.

"Kalau aku tahu kau mau ke luar kota, aku mau ikut. Aku minta libur dengan bosku. Pasti diizinin."

"Aku diajak kawan waktu di media dulu. Rumah omnya kosong karena ke Bali, nah ia minta aku menemaninya. Sekalian kucicil tulisanku," jawabku.

"Oo... oke. Sesampai di sini lagi kontak aku ya, aku rindu ngobrol," kata Dinda.  Sepertinya ia percaya dengan ucapanku. 

Selanjutnya, kuteruskan pekerjaanku. Menghadapi laptop milik Rena. Setiap selesai satu bab langsung kupindahkan ke hardisk eksternalku.

Dalam hati, aku berdoa semoga Rena tidak cerita apa pun pada Dinda jika kelak bertemu. Jangan sampai keduanya berjumpa. 

*

EMPAT bab dari 25 bab rencana novelku pesanan Sur selesai kutulis di rumah Rena. Sampai sekarang sudah 15 bab. Ternyata suasana bisa membantu seseorang untuk rajin atau malas. Di sini, aku merasa dipaksa untuk bekerja. Sepririt rumah yang pas dengan hatiku, kebutuhanku yang telah disediakan, dan fasilitas disiapkan, sungguh salah besar apabila tak kumanfaatkan.

Ah, tiba-tiba Rena menjadi makhluk penting dalam hatiku. Ia bidadari kala aku tersesat di belantara. Lalu membawaku terbang ke kahyangan dan dipertemukan pada Dewi segal Dewi, untuk dijadikan suaminya.

Duh! Wajah Dinda tiba-tiba menari dan tersenyum indah di pelupuk mataku. Gigi gingsul yang selama ini kusuka seperti ia main-mainkan. Ke mana kini aku pergi?



(Bersambung)






 

 

 

 

 


LIPSUS