PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (16)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (16)

bdy
Rabu, 08 Januari 2020



"KENAPA tadi kita tidak bertemu?" tanyamu.

"Karena waktu belum berpihak pada kita," jawabku.

Lalu diam. Benar-benar hening. Cukup lama. Kami tersadar ketika handphone Dinda jatuh dari meja karena tersenggol tangannya.

Dinda seperti menyesal kenapa tak datang ke Kafe Bob Marley sore tadi. Sedang ia kala itu berada tak jauh. Hanya perlu waktu 10 menit. Sayangnya pula, ia menghubungi sekitar pukul 19.20. 

"Di mana?" tanya dia. "Diggers ya, dengan siapa?"

"Aku di Marley. Tadi ada yang mau ketemu, kebetulan aku di sini. Karena janjian sama Sur. Eh dia malah gak jadi," jelasku.

"Lalu kamu janjian atau...."

"Gak. Sani meneleponku. Dia mau ketemuan, ajak kawannya. Namanya Nita."

"Mau apa?"

"Ingin cerita perjalanan hidupnya. Entahlah, aku juga tak tahu kenapa begitu. Mengapa ia mau ceritakan dirinya..."

"Memangnya kamu buku harian, dia menumpahkan catatannya ke kamu..." ujar Dinda, nadanya ssperti tak terima.

"Mungkin dia mengira jalan hidupnya layak dibuat cerita. Mungkin dengan begitu, beban yang ada di hatinya sedikit berkurang. Boleh jadi..."

"Ah, mungkin juga dia mau..."

"Ih kamu selalu berprasangka macam-macam. Sudah ke sini, temani aku..." selaku. Aku menghindari perdebatan di telepon. Seperti aku selalu menolak debat di laman media sosial. Bisa viral dan tidak terkendali.

Dinda lalu datang. Sekarang duduk di sebelah kiriku. Berkali-kali ia turut menyerruput kopiku. Karena itu ia lebih banyak dibanding aku. Ketika kulihat ka meminum lagi, aku tersenyum. Dia berujar, "Nikmat sih seduan kopi inj..."

"Bukan karena pinggir gelas itu tersisa bekas bibirku?" Aku menggoda.

"Makanya kuhapus dengan...."

"Bibirmu? Seperti cerpen Hamsad Rangkuti aja," sambungku.

"Cerpen yang sangat kusuka. Berulang kubaca. Bahkan bukunya kubeli, Bibir dalam Pispot itu, ada juga cerpen dia,"  Dinda menerangkan.

Lalu kami membicarakan soal cerpen itu. Bagaimana asbabun cerpen itu lahir, lalu kabarnya heboh di Jakarta. Sampai buku kumpulan cerpen Hamsad memenangi Khatulistiwa Literary Award, hingga mengantar sang cerpenis ke Eropa.

"Itulah karya sastra punya jalannya sendiri," kataku kemudian.

Selanjutnya hening. Dinda asyik dengan telepon pintar. Sementara aku menikmati musik live dengan lagu-lagu Bob Marley. 

Tetapi, aku teringat lagi pada Nita!. Tiga jam ia curahkan apa yang dirasakan ketika merasa mencintai seseorang, namun tak mampu memiliki. Benar-benar tersiksa bukan? Katanya dengan suara terimpit.

Aku, sore tadi, hanya mendengar dan mendengar.  Walau sesekali mataku nakal melrik kepadanya. Ia taklah jelek. Enak dipandang. Tahilalat kecil seakan memercantik wajahnya. Bintik hitam itu persis di batang hidungnya. Rambut pendek terurai. 

Soal rambut ia bercerita, saat di Jakarta sengaja dibiarkan panjang melebihi bahu. Tubunya padat dan boleh dibilang bahenol. Sehar-hari mengekan rok di atas lutut. Jika sedang duduk, ujung roknya akan naik.

"Di sini aku gak lagi berpakaian begitu. Lebih nyaman pakai celana panjang," jelas Nita.

Mengenai bodi Nita yang kini tampak kurus, katanya, karena stres. "Mikirin mas Hendrik," katanya lagi. Entah ia main-main atau serius saat mengucapkan itu. Meski dia raut wajahnya tanpa perubahan.

Sesekali ia betulkan ujung-ujung rambut yang seolah mau menutup matanya. Tenang walaupun kurasakan dalam batinnya menggunung beban.

Bukan karena kalah jadi urban di Jakarta, melainkan ia sadar tak mungkin lama di sana. Mas Hendrik sudah kembali ke Kota T, tak ada urusan pekerjaan di Jakarta. "Jadi untuk apa saya bertahan di sana?" ujar Nita pelan.

Selain itu ia mesti perbaiki kebersamaan dengan anaknya, terutama kuantitas pertemuan. Kini, bagi dia, anak lelakinya adalah "pacar kecil" karena itu harus disayang dan diperhatikan. 

"Harapan untuk mendapatkan Mas Hendrik sudah kandas, kenapa saya harus mengabaikan kekasih kecil saya?"

Nita mengaku pernah bekerja di tempat hiburan karaoke. Hampir setahun dalam gelimang asap dan aroma minuman alkohol. Ia cicipi setiap cairan memabukkan yang ditawarkan para tamu. Sampai oleng kala pulang. Hingga terjerembab begitu keluar dari ruangan penuh asap rokok. Ia bercerita...

Saya memasuki dunia hiburan, semata lantaran ingin melupakan Hendrik. Saya berpikir, seperti sudah saya katakan tadi, mungkin untuk melupakan seorang harus mengenal banyak orang. Saya kumpulkan nama-nama lelaki dalam benakku, saya catat di hati dan handphone. Setiap jelang malam, dua atau tiga lelaki saya hubungi mengingatkan malam nanti karaoke dan saya yang menemani sebagai pemandu lagu (PL). 

Dari nama-nama yang saya kontak, bisa terjala dua tiap malam berkunjung. Selain saya ingin melupakan Hendrik, saya pun mendapat fee dari menemani tamu bernyanyi. Terkadang saya dapat uang tempel jika layanan saya selama berkaraoke memuaskan mereka. 

Ya! Biasalah di dalam ruangan, tak mungkin saya menghindar jika para lelaki itu mendekat dan menciumi saya. Sebab tamu adalah raja dan saya tidak lebih cumalah pelayan. Tetapi, batin saya menangis. Sekuat-kuatnya. Kalau dikeluarkan barangkali bisa menggedor langit.

Saya merintih. Apakah mas Hendrik tahu jika saya lakukan ini demi melupakan wajah dan namanya. Saya berpikir, kalau saya mengenal ratusan dan bahkan ribuan lelaki maka saya hanya mengingat mereka. Lambat-laun nama Hendrik terhapus oleh tumpukan nama-nama lainnya.

Ternyata tidak bisa, Kanda Busye, semakin saya tumpuk nama-nama lelaki, ibarat file justru nama Mas Hendrik naik ke atas dan muncul. Hatiku pun kembali gelisah. Goncang. Saya pun mengontak Hendrik, minta ketemuan. Persisnya, kadang layaknya mengiba. Sayalah yang berharap. Sayalah yang mengejar-ngejarnya.

Entahlah, kanda, apakah ia lelaki satu-satunya di dunia ini paling sempurna. Sehingga saya tak mampu melupakan, apalagi meninggalkannya. Saya meninggalkan dia? Oh tak akan bisa kulakukan. Dia ibarat mahamagnit. Saya yang selalu ingin merapat.

Jika rindu amat menekan, saya sering kirim kata-kata indah yang kuambil entah di mana, seperti puisi itu. Lalu Hendrik meneleponku. Wah, senang tak alang kepalang. 

Sekiranya ia kebetulan hendak ke Jakarta, sekalian ia beli tiket untukku. Sebaliknya jika saya di Jakarta, ia akan memberi di mana ia bermalam. Begitulah pertemuan demi pertemuan penuh rahasia.

Andaikan mas Hendrik berani menikah lagi, saya ikhlas dan siap jadi madu. Apa pun risikonya. Tetapi, Hendrik tak pernah mau. Ia sangat berat pada istri dan anaknya.

Saya pengganggu rumah tangga orang, perebut laki orang? O! Itu karena anda tidak berada di posisi saya. Anda memandang dari depan bahkan amat jauh.

Cinta, tidak seorang pun bisa menolak kehadirannya. Begitu pun jika sudah menghampiri, sulit sekali melepaskannya.

Begitulah saya. Sekarang saya dan Hendrik boleh dibilang renggang, tetapi kami belum berpisah. Beberapa kali saya coba mendekati pria lain, namun hati saya belum bisa membuka pintu cintanya.

Ya, rahasia cinta layaknya misteri kematian. Entah salah atau benar yang saya katakan ini. Setidaknya yang saya rasakan seperti itu.

Sudah empat bulan saya pulang ke kota ini dan bekerja di sebuah perusahan. Saya belum pernah semalam saja ditemui dan ditemani. Atau saya menemani mas Hendrik. Ia bukan lagi seperti dulu, punya banyak alasan untuk meninggalkan rumah.

Sebanyak ia punya alasan keluar, sebanyak itu pula kami bersama. Pernah ia tinggalkan keluarganya hampir dua bulan. Selesai urusan dengan koleganya, lelahnya dilabuhkan ke saya. Tiada hari bagi saya yang kelam. Siang malam layaknya dicahayai bulan-bintang-matahari. Laut seakan selalu pasang, bergemuruh gelombang. Pantai bernyanyi riang.

Apakah saya masih bertahan menanti seperti ini? Sampai bila?

Nita tutup ceritanya dengan dua kalimat pertanyaan. Ingin kutanggapi sekadar memberi masukan, cuma kuurungkan. Aku dimintanya hanya untuk mendengar. Ya cuma itu. 

Sampai akhirnya Nita pamit. Ia berharap suatu waktu jika aku ingin menulis cerpen, ia ikhlas kisahya itu di masukkan. Kisah Nita adalah fakta sekaligu fiksi! Batinku.

Aku terlepas dari ingatan pada Nita, ketika Dinda menegurku: "Hei, aku bukan patung lo! Kamu tuh ngeselin banget ya!"

Wuit! Aku masih bersama Dinda. Bahkan ia datang ke Marley ini karena kuminta. "Maaf Dinda, aku..."

"Teringat Nita ya. Ciyee. Cantik dia?" Dinda menggodaku.

Kutatap dia.

"Aku lagi berpikir soal kelanjutan novelku. Tiba-tiba berkelebat alur cerita untuk bab 20. Jadi lupa kalau di depanku ada peremuan cantik. Inspirasiku."

"Gombal!" sergah Dinda. "Pulang yuk. Atau kau mau menemaniku nonton. Filmnya bagus tahu, 'Jocker'! Aku penasaran. Sepertimu jangan ketinggalan."

"Memangnya kenapa?

"Itu film berkisah tentang orang stres," jawab Dinda seraya tertawa.

"Sompret kau."

(Bersambung)


LIPSUS