PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (25)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (25)

bdy
Sabtu, 18 Januari 2020



KAMI pilih sebuah hotel di dekat Pantai Kuta untuk dua malam. Semalam atau dua malam berikut di Ubud. Bertepatan helat Ubud Writers and Reader International Festival. 

Kamj juga memilih bilik di lantai 2 persis di bawahnya ada kolam. Itu jika dari pintu. Dari depan pintu kamar kunikmati wisatawan lokal berenang. Sementara jika kubuka jendela terhampar pantai di kejauhan. Destinasi wisata di sini memang jadi tujuan pelancong luar negeri.

Aku mematut-matut diri sebagai wisatawan sungguhan. Bagai orang kaya atau pejabat ditemani seorang selir. Dinda begitu bahagia bersamaku, walau kutahu ia sudah biasa ke Bali. Sewaktu masih punya suami. Bukankah dengan jabatan suaminya di salah satu bank, sangat mudah untuk mereka pelesir ke mana pun? Apalagi belum mendapatkan keturunan. Mereka bebas tak direngeki anak.

Siang nanti kami akan berkeliling. Aku sudah pesan rental mobil berikut supirnya. Semalam ia mengantar kami. Drivernya berasal dari Medan. Alumni kampus Kristen di Jakarta. Istrinya pernah kuliwh di kampus seni di Yogyakarta. Ketika tahu aku sastrawan ia memintaku selfie bersama. Gambarnya dikirim ke istrinya. 

"Itu kan si Busye ya Papa? 

"Ya mam, ini lagi sama papa," balas Jon melalui WA.

"Salam buat dia ya Pap."

"Ok."

*
Sekembali dari mengelilingi Bali. Di bilik hotel kubuka laptop. Aku merapikan bab 15. Dinda di sebelahku. Ia editorku sebenar-benarnya kini. Duduk di satu kursi yang lain. Turut membaca dan mengeja kalimat perkalimat.

BAB 15

Heri meneleponku. Sudah lama kami tak bertemu. Kawan semasa di media lalu ia menjadi anggota dewan, terakhir ia terjun ke dunia bisnis kelapa. Ia cari dari berbagai daerah, lalu diekspor ke luar negeri: Vietnam ataupun India. Beratus kontiner sekali mengkapalkan. 

"Di mana? Kalau lokasi dekat denganku, ayo merapat," kata dia.

"Di mana?"

"Tenda Biru Gedung Meneng."

"Ok, aku meluncur."

"Siap. Kau bawa buku puisimu ya?" katanya lagi.

"Eh kau kan penyair juga. Sering kubaca puisi-puisimu."

"Aku pebisnis, kaulah penyair. Puisi-puisiku hanyalah ungkapan hati, ekspresi dari situasi saat itu..." jelas Heri.

Aku diam. Heri mematikan mesin komunikasi canggihnya.

Di Tenda Biru ia sedang menikmati lenggang dan seporsi pempek kecil. Katanya saat aku sampai, sarapan dulu.

Aku tersenyum. Apakah pempek sudah berubah peran? Sejak kapan aku menjadikan pempek sebagai sarapan? Tetapi karena perutku sudah kuisi dengan uduk, aku pun memesan satu porsi juga.

"Bagaimana bisnismu?" tanyaku sambil menyantap pempek, menyeruput cuka.

"Menurun. Tapi tak mati."

"Kenapa? Sulit mendapatkan kelapa, susah mengekspor, atau persaingan bisnis?" tanyaku ingin tahu.

"Semuanya bung!"

"Lho?"

"Sejak lima tahun terakhir, usahaku turun drastis. Sulit mengembangkannya."

"Karena kebijakan negara?"

"Salah satunya," jawabnya. "Pengusaha asal Cina berbondong-bondong masuk ke sini, tapi pebisnis kita sulit memasuki Cina. Belum lagi urusan lain-lainnya."

Ia melanjutkan, buah kelapa kita juga kurang baik. "Bayangkan setelah kita kirim ratusan kontainer, eh sampai di tempat dikomplain. Tidak dibayar alasannya kualitas buruk."

Ia bercerita, akhirnya ia tak semata bisnis kelapa. Ia juga mengekspor buah pinang ke India. "Kini aku lagi coba bisnis ikan dari Ternate. Tapi ada 20 ton yang belum keluar lantaran tak ada yang mau beli."

Ia diam. Menekuni HPnya. Dari situ ia bernegosiasi ataupun mengarahkan anak buah maupun dengan koleganya. Kalau rekan bisnis dari India atau negara lain, ia gunakan bahasa Inggris. Sebab aku buta bahasa internasional ini, akhirnya hanya menguping.

Sampai di situ Dinda membaca. Karena lelah, ia pun terpejam. Di kursi. Aku bangunkan agar pindah ke tempat tidur.

"Kamu belum mau tidur, Bus?"

Aku mengangguk.

"Istirahat dulu, jangan diporsir."

"Ya. Aku belum ngantuk. Juga tak lelah," kataku.

Dinda menuju ranjang. Tubuhnya pun tertutup selimut. Lelap.

Aku melanjutkan membaca. Setiap kata kukoreksi. Jangan ada typo. Juga kalimat per kalimat.



Heri melanjutkan. Meski bisnisnya agak seret, tapi tak lantas macet total. Maka tak heran setiap pulang, ia akan mengontakku. Dari pagi sampai melebihi pukul 23.00. 

Dari satu santapan ke santapan lainnya. Kalau sedang musim durian, ia mengajakku langsung ke kebun durian: "makan durian sepuasnya".

"Jadi rencanaku mengajakmu ke Vietnam batal terus. Tapi doakan aja ya kawan, Februari ke India. Akan kubawa kau ke Tibet!"

"Serius?" tanyaku terpana.

"Doakan saja. Aku serius," kata Heri.

Seperti Sur, Heri banyak peduli dan membantuku dalan kepenulisan.

Setiap kepergian kami, tak gelisah diburu kesibukan.

"Aku tak suka jalan sama orang yang sibuk mau pulang, dan apalagi gelisah dan temperamen," kata Heri.



(Bersambung)


LIPSUS