PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (28)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (28)

bdy
Rabu, 22 Januari 2020


MASALAH Jundi dengan Miko selesai. Perundingan semeja di sebuah kafe berakhir kesepakatan. Miko bersama LSM-nya tidak lagi mengubek-ubek bos Jundi. Sementara Jundi melepas seamplop berisi uang pada Miko. Aku? Tak lebih hanya perantara berada di tengah mereka.

"Catatan lain," Jundi meminta Miko, "bantulah aku untuk kawan-kawan lain jangan mencubit-cubit instansiku. Yang lain silakan. Tak sedaplah aku dengan atasan; masak ya mantan ketua LSM terbesar di sini tak mampu meredakan soal ini. Kau tanyalah Busye, sepak terjangku dulu," lanjutnya berdialek daerah.

Aku tersenyum.

"Miko, kalau soal demo mendemo, kau masih kalah jauh. Ini seniormu sebetulnya. Dia lulusan Fakultas Hukum. Jundi pernah merangsek gedung Dewan yang dipagari kawat berduri. Dilompati padahal setinggi 1,5 meter. Kau bisa cari dokumentasi foto waktu Jundi lompat di Kiwari Pos," kataku.

"Ya bang aku percaya. Nama bang Jundi gak asing kok, aku sering dengar namanya disebut dan kubaca beritanya. Cuma aku tak tahu kalau abang Jundi ini kerja di dinas itu. Kupikir soal nama yang sama, orangnya beda," jawab Miko tertunduk.

"Okelah tak apa. Kan belum kenal. Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang. Hehe..." kataku.

"Kalau kau perlu uang untuk sekadar makan dan beli rokok, kau kontak aku aja. Tenang...." Jundi menimpali.

"O gak bang. Gak. Malulah saya..."

"Kalau begitu sesekali kita makan dwn ngobrol kayak gini. Anggap aja kita kawan. Oke?"

Miko mengangguk.

"Kalau yang ini aku setuju bang...." ujar Miko.

Kami tertawa. Melanjutkan mengobrol dengan topik berpindah-pindah. Aku bahagia bisa mempertemukan keduanya tanpa bertegang-tegang. Aku juga seharusnya kebagian dari kedunya, tetapi kutolak.

"Aku bisa mempertemuan kalian sudah senang. Diajak minum gratis sudah bersyukur. Oke....?" kataku seraya menyorongkan kembali pemberian mereka.

Jundi dan Miko menatapku.

"Aku serius. Sebagai perkawanan tolong terima lagi. Oke?" kataku. Aku mau pamit, sebab sudah ditunggu Dinda di Kafe Diggers.

"Baiklah kalau begitu. Nanti kukabari kawan kalau aku mau ngobrol ya," balas Jundi.

"Siap."

Lalu aku pamit. Menuju halaman parkir. Masuk ke mobil. Menembus malam ke Diggers.

Kilihat Dinda sendiri menikmati jus orange. Minuman favorit selain pisang atau kentang goreng. Kecuali jika ia lapar, sup buntut sapi. 

"Halo Din..."

"Beres persoalan Jundi dan Miko?"

"Ya sudah damai."

"Damai tanpa sarat?" Dinda bertanya. Kukira pertanyaannya itu sengaja untuk membuka diskusi.

"Makan siang saja tak gratis, Nda..." jawabku.

"Cair dong."

"Mereka."

"Kau? Jundi mencari untung..."

"Aku tolak. Aku bukan orang NGO," kataku singkat. "Tentu dapat kecipratan. Berapa dia diberi bosnya, sekiannya diberi Miko," kataku tersenyum.

"Syukurlah kau menolak, Busye. Hatimu belum tercemar..."

Aku diam. 

"O ya, belakangan ini kau tak mengeluh sakit. Syukurlah, berarti kau sudah pulih..."

"Amin. Sepertinya sejak pulang dari Bali, penyakitku pergi."

"Jangan-jangan tertinggal di sana," kataku. "Kalau begitu gak usah ke Bali biar penyakitmu tak kembali....:

Dinda tertawa.

"Penyakitku ditawan seribu dewa."

"Jadi takut pulang ke tubuhmu."

"Bukan takut. Tapi karena dewata membuinya amat kuat, sehingga tak bisa kabur."

"O ya Nda!" seruku tiba-tiba. Dinda terperangah. Matanya terbuka memandangku.

"Ada apa? Kau ngagetin aku ah. Sebel!" katanya.

"Aku punya puisi baru. Sudah lama tak menulis puisi, eh lahir ini. Kau boleh menilai." kataku. "Ini..."

aku tak ingin berebut apa pun
kecuali untuk cintamu; dalam sakit
saat aku fakir aku buru segalamu
rumahrumah ibadah yang sunyi
atau hanya terdengar batuk tua
aku gemetar di antara suara itu
.
tunjuk aku segera dapat. tapi selain
untuk kasihmu, aku tak mau berebut
apapun. biar aku kandas, biar pun
aku terempas

"Kapan ini puisi kau tulis?"

"Kemarin malam...."

"Ohw. Kok baru kini kau kasih tahu aku, Busye?"

"Aku lupa kirim ke kamu Nda."

"Ya tak biasanya..."

"Ya. Tapi belum kubagi pada siapa pun."

"Apa puisi ini buat seseorang?"

"Ya."

"Siapa? Buat Rena? Santi? Atau..."

"Kamu Nda...."

"Ah masyak? Kamu baik sekali Busye. Terima kasih," jawabnya riang.

Ia segera mengecup pipiku. Hartku berlompatan. 

(Bersambung)







LIPSUS