Tegal Mas Island Dalam Antologi Puisi Himpun 80 Penyair Internasional
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Tegal Mas Island Dalam Antologi Puisi Himpun 80 Penyair Internasional

bdy
Jumat, 10 Januari 2020



INILAMPUNG.COM -- Festival Puisi Internasional di Tegal Mas Island, 24-26 Januari 2020, menerbitkan buku puisi yang menghimpun 80 penyair. Kurasi penyair/puisi terdiri dari Anwar Putra Bayu, Syaiful Irba Tanpaka, Isbedy Stiawan, dan Heri Mulyadi.

Menurut Ketua Panitia, Isbedy Stiawan ZS, buku puisi itu diberi judul Tegal Mas Island Dalam Antologi Puisi - Poetry International Festival 2020. Buku puisi ber-ISBN diterbitkan Siger Publisher (Januari, 2020) dengan penyelia akhir oleh Lukman Hakim Daldiri.  

"InsyaAllah buku puisi para penyair manca negara ini akan diluncurkan oleh Bapak Thomas Aziz Riska, owner Tegal Mas Island saat pembukaan," kata Isbedy, Jumat (10/1/2020) malam.

Dikatakan Isbedy lagi, dengan peluncuran tersebut diharapkan menjadi bukti kepedulian pengusaha demi memajukan karya sastra, khususnya di Lampung agar lebih mendunia. 

"Pak Thomas berharap, dengan festival ini para seniman (sastrawan) Lampung makin merambah persahabatan dan pergaulan lebih luas lagi. Begitu pula para penyair tamu, dapat menikmati pesona alam yang eksotis dan indah dimiliki Lampung. Seperti Tegal Mas Island, sebuah objek wisata seperti di Maladewa," lanjut dia.

Buku antologi puisi ini menghimpun penyair dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Timor Leste, Tasmania, dan India.

Para penyair Lampung yang turut dalam antologi, di antaranya Djuhardi Basri, Syaiful Irba Tanpaka, Iswadi Pratama, Ahmad Yulden Erwin, Isbedy Stiawan ZS, Ari Pahala Hutabarat, Heri Mulyadi, Muhammad Alfariezie, Agusri Junaidi, Mintarsih Mimin, Nizwar, Rahmat Sudirman, Titin Ulpianti, Jauza Imani, Marta La Batin, Gunawan Pharrikesit.

"Seharusnya lebih dari yang kami undang, tapi hingga batas waktu penerimaan naskah tak mengirim. Beberapa penyair dari luar juga tak mengirim dengan alasan lupa," imbuh Isbedy.

Masih kata dia, ada yang kirim sudah lewat hari. Ada pula yang menyatakan akan hadir meski karyanya tak masuk antologi puisi.

"Saya katakan tidak bisa, karena waktu pengiriman puisi dan kesediaan hadir, sudah ditutup. Kecuali tanpa fasilitas apa pun di pulau, sila hadir." (zal/inilampung)


LIPSUS