"Lantai 4", Film Horor dan Misteri Angka 4
Cari Berita

Breaking News

banner atas

"Lantai 4", Film Horor dan Misteri Angka 4

bdy
Rabu, 19 Februari 2020

Clarisa, pemeran sinden bernama Sutikem dalam "Lantai 4" dan Wahyu Nugroho (berkaus)


INILAMPUNG.COM -- Tanpa gerimis. Malam di Apartemen Griya Prapanca, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (18/02/2020).

Sebuah apartemen yang tak begitu ramai penghuninya, 2 satpam di pintu masuk juga tak terlalu sibuk. Tempat ini jadi lokasi pengambilan gambar film horor "Lantai 4" garapan F.X Purnomo (sutradara) dan Wahyu Nugroho (sekenario). 

Inggrid Wijanarko dan Clarisa kebagian syuting tadi malam. Kedua artis itu berada di dalam lift menuju lantai 4. Ada kecemasan dan ketakutan di wajah mereka. Bahkan, sinden Sutikem (Clarisa) begitu takut, menangis, dan berteriak-teriak saat memencet tombol 4 yang tidak on!

Adegan itulah pembuka bagi misteri dan mitos film "Lantai 4" yang dimainkan Tio Pakoesadewo, Inggrid Widjanarko, Yuki Katto, Ruth Marini, Clarisa, Juy Wow, Aqila Nathaya, Budi Limbad, Nyimas Faza. 

Film yang akan menayang di bioskop seluruh Indonesia pada 4 Juni 2020 ini diproduksi Kreasi Jingga Production.

F.X. Purnomo, sutradara "Negeri di Bawah Awan" yang memenangkan penghargaan di Canada ini, menjelaskan bahwa "Lantai 4" membongkar misteri dan mitos angka 4 dalam keyakinan etnis Cina dan Jawa.

Film horor dengan seting lantai 4 di sebuah apartemen -- dalam film ini disebut Apartemen Flamboyan -- menelisik keberadaan lantai 4 yang tiba-tiba hilang atau tak berfungsi dalam tombol lift. Bayangkan, ketika ingin ke lantai 4 menggunakan lift, tiba-tiba angka 4 di situ tidak bisa digunakan. Cemas dan takut!

"Di film ini kami angkat misteri dan mitos itu," kata Ipong, panggilan akrab F.X. Purnomo didampingi Wahyu Nugroho yang merangkap astrada, dini hari (19/02/2020).

Film "Lantai 4" ini bercerita tentang seorang gadis yang berhasil mengungkap mitos keangkeran lift lantai 4 hingga satu persatu keluarganya tewas dengan cara tragis. Dan, menjadi korban hantu penghuni sebuah apartemen.

Menurut Ipong, pecahnya harmonisasi sebuah keluarga karena Lantai 4. Tragedi-tragedi kematian yang beruntun akan kita suguhkan di film ini. Penonton akan kami jebak sampai 90 menit.

F.X. Purnomo dan Inggrid Widjanarko (kanan) di lokasi syuting

Walau bercerita tentang alam dan makhluk gaib dan kehidupan setelah kematian, Ipong menyebut jika film ini akan digarap ke arah mitos. "Bukan ke mistik, setingnya kultur Jawa juga gabungan dengan kultur Tionghoa," imbuh Purnomo.


Sedangkan Wahyu Nugroho menjelaskan, film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi mengandung pesan-pesan positif yang dapat diambil.


"Kami ingin mengedukasi masyarakat, bahwa keangkeran lantai 4 di apartamen, mal atau hotel hanyalah mitos. Karena sesungguhnya, semua lantai itu sama saja, hantu ada dimana saja,” kata penulis naskah itu. (bdy/inilampung)

LIPSUS