Pangil Saja Aku: Diana
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Pangil Saja Aku: Diana

INILAMPUNG
Sabtu, 22 Februari 2020




Oleh: Dalem Tehang

PERAWAKANNYA kecil. Mungil. Usianya baru 22 tahun. Pembawaannya ceria. Gaya dan bicaranya persis seorang wanita. Padahal, ia pria tulen.

"Panggil saja aku Diana," kata dia saat menemani saya minum kopi di sebuah tempat lesehan di seputaran GOR Saburai, Bandarlampung.

"Diana..?!"
"Iya, itu namaku!"
"Bukannya kamu sebenernya pria? Masak namanya Diana..?!"
"Itu kependekan dari nama asliku. Danastro. Lengkapnya Agus Danastro."

"Oalah.. Kok kamu jadi seperti wanita begini ketimbang pria?"
"Nggak tahu ya, kenapa. Tapi sejak kecil, aku memang suka mainnya dengan kawan-kawan wanita. Kali itu yang akhirnya buat aku lebih kewanita-wanitaan ya," kata dia sambil nyengir.

"Apa kamu atau orangtuamu nggak tergerak buat jadiin kamu pria tulen sesuai takdirmu?!"
"Sudah ku coba. Orangtua pun marah kalau aku bergaya wanita. Tapi gimana ya, perasaan dan pembawaanku memang lebih dominan kewanitaannya dibanding pria. Nyalahi kodrat sih. Tapi ya mau bagaimana? Memang sudah begini adanya."
"Terus kenapa kamu mangkal disini? Memangnya tinggal dimana?"

"Ya cari uang-lah. Nemeni om minum dan ngobrol gini kan nanti dikasih uang. Hehehe. Aku kost sama temen, di deket-deket GOR Saburai inilah."
"Nggak dicari sama orangtuamu?"
"Orangtuaku cerai. Bapak pulang ke Jawa. Ke Kebumen. Sama dua adek. Ibuku kerja di Malaysia. Sudah 10 tahun ini nggak pulang-pulang," ucap dia sambil menghisap rokok ditangannya, dalam-dalam.

"Jadi kamu nggak punya keluarga di Lampung ini?"
"Ada sih. Nenek dari ibu. Tinggal di Lampung Tengah."
"Kenapa nggak tinggal dengan nenek aja..?!"
"Aku diusir sama nenek!"
"Lho, kenapa..?!"
"Nenek malu punya cucu kayak aku. Aku kan lebih wanita dibandingin wanita yang sebenernya. Padahal aku pria."
"Karena diusir nenek itulah akhirnya kamu jadi kerja begini?"

"Ya nggak gitu juga sebenernya. Cuma gimana ya? Siapa sih yang mau kayak aku. Tapi gimana kalau nyatanya gen kewanitaanku lebih dominan begini. Walau kelaminku ya pria. Aku punya burung!"
"Kamu pernah coba keluar dari duniamu ini?"
"Ya pernahlah! Bahkan sering ku coba. Tapi akhirnya balik lagi. Karena memang karakterku ini wanita. Kodratku aja yang pria."
"Apa yang kamu lakuin waktu nyoba keluar dari duniamu ini?"
"Aku maling handphone!"
"Maksudnya..?"

"Iya, aku maling handphone. Waktu itu, pas jam solat dhuhur. Di masjid besar di Pahoman. Postur dan pembawaanku kan memang wanita banget. Aku masuk tempat jamaah wanita. Rambutku juga lagi panjang. Tergerak sebahu. Jadi, nggak ada yang curiga."
"Terus, apa kamu lakuin?"
"Waktu itu ada anak SMA lagi solat. Ku ambil handphone di tasnya."
"Setelah dapet handphone, kamu kabur?"

"Nggak. Aku duduk aja disitu. Mainin handphone itu. Aku ditangkep. Dibawa ke Polresta. Ditahan. Disida g. Dan aku jalani hukuman di rutan."

"Kok kamu nggak kabur setelah dapet handphone, kenapa?"
"Aku memang nggak niat kabur. Aku memang pengen ketangkep. Biar masuk penjara."

"Kok aneh. Orang maling itu kan justru mati-matian jangan sampai ketangkep. Apalagi sampai di penjara. Kamu kok malah pengen ketangkep dan di penjara. Kenapa?"

"Aku pengen tahu rasanya di penjara. Karena pengen keluar dari duniaku ini!"

"Terus apa yang kamu dapetin selama di penjara?"

"Aku disayang sama banyak tahanan. Aku terhibur disana. Enak hidup disana. Makan minum dikasih. Uang juga dikasih sama tahanan."

"Jadi kamu happy ya di penjara?"
"Happy banget. Aku ngerasa hidupku punya arti. Semua sayang aku. Aku sering diminta bantu-bantu. Semua tahanan kenal aku. Nama Diana, beken disana."

"Jadi kamu ngerasa dapet perhatian dan kebahagiaan waktu di dalem ya?"

"Iya. Bener itu. Makanya aku sedih pas mau keluar. Tiga hari nangis terus."

"Lho kenapa? Orang kan sukacita kalau mau bebas, kamu kok malah sedih?"

"Kalau aku keluar, aku kehilangan perhatian dari banyak orang. Aku pasti kesepian lagi. Dunia luar kan nganggep orang kayak aku ini orang nggak bener. Keblinger. Kalau aku di dalem penjara, aku dihargai. Aku dimanjain. Nggak ada yang nganggep aku ini orang nggak bener."

"Memangnya, kamu di mata kawan-kawanmu selama di tahanan kayak apa?"

"Mereka pada sayang sama aku. Juga kasihan. Mereka tahu, bukan mau ku jadi kayak begini. Mereka ngehibur aku. Sering juga godain aku. Tapi mereka semua sayang sama aku. Itu yang nggak aku dapetin di dunia luar."

"Setelah keluar dari penjara, apa yang kamu lakuin?"

"Aku kesepian. Kangen sama suasana waktu dapet perhatian dan ngerasa ada yang sayang sama aku. Jadi aku cari ulah lagi. Biar masuk penjara lagi."
"O gitu, terus apa yang kamu lakuin?"

"Aku ambil kotak amal di masjid. Di daerah Kemiling. Ada tiga kotak amal disana. Aku pilih yang isinya paling sedikit, Rp 86 ribu."

"Kenapa begitu? Terus kamu ketangkep lagi?"
"Aku kan bukan niat mau ambil uangnya. Itu alasan aja, biar aku masuk penjara lagi."
"Dan akhirnya, kamu masuk penjara lagi ya?"

"Iya. Awalnya, polisi nggak mau nerusin kasusnya. Lagian, uang masjid yang ku ambil juga masih utuh. Pengurus masjid juga nggak nuntut. Tapi aku maksa, diproses hukum. Akhirnya aku divonis 6 bulan. Aku masuk lagi ke rumah tahanan."
"Bagaimana perasaanmu pas masuk penjara lagi?"

"Ya senenglah. Ketemu kawan-kawan lama. Mereka juga seneng aku balik. Aku kan kayak jadi hiburan buat kawan-kawan di dalem."

"Kamu bahagia lagi ya?"
"Iya. Aku bahagia lagi. Seneng aku di dalem. Banyak yang perhatian. Dan nggak ada yang nganggep aku rendahan."
"Kapan kamu bebas?"

"Baru sebulan ini. Aku lagi coba hidup baru sekarang ini."
"Maksudnya gimana?"

"Aku lagi kursus kecantikan. Kursus salon gitulah. Dibiayai sama bos yang kenal waktu di dalem. Aku keluar malem dan ladeni tamu kayak om gini, cuma iseng. Biasanya ya malem minggu aja. Sekalian ketemu sama kawan-kawan yang masih di lapangan."

"Jadi sekarang mulai ketemu jalan hidup yang bagus dong buat ke depannya?"
"Iya. Alhamdulillah. Cuma aku tetep sering ngerasa kesepian. Dan disingkirkan dari lingkungan. Kalau sudah begitu, aku pengen balik masuk penjara lagi.

Di dalem, nggak ada yang nganggep kelainan kodratku ini dengan pandangan atau omongan yang ngerendahin. Malah aku disayang karena jadi hiburan mereka. Aku dimanjain. Itu yang nggak aku dapetin di dunia luar." (***)

LIPSUS