PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (45)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (45)

bdy
Jumat, 14 Februari 2020



ELKA COFFEE pukul 20.02. Dinda dan Rena sudah menungguku. Kulihat dua gelas jus: alpukat dan sirsak. 

Aku mengambil kursi di depan meraka. Leluasa menikmati indahnya bidadari di malam Minggu benderang. Pengunjung hampir semua berpasangan, sepertinya suami istri. Kami di antara mereka. 

Kedai ini konon milik mantan anggota DPRD. Bisnis adalah pilihan setelah pengabdiannya selesai atau tidak belanjut lantaran kalah mengumpulkan suara. Saya menyebut mereka kreatif. Maksudku, mereka tak mati setelah tak lagi jadi wakil rakyat. 

Saya teringat kawan saat bekerja di media koran: Heri. Dia juga mantan legislatif, lalu memutar haluan jadi pebisnis setelah meninggalkan gedung dewan. Bisnis ekspor kelapa, ikan, dan -- kata dia, apa saja yang bisa menghasilkan fulus dan tidak haram ----- ke luar negeri. Bahkan bisnisnya hingga India dan Timur Tengah. 

Perjalanan ke seluruh daerah di Tanah Air untuk mendapatkan kelapa ataupun luar negeri, mematangkan instingtif dia. Lahirlah puisi-puisi renungan ihwal perjalanan. Heri, yang kuketahui sejak di media massa kolomnis dan suka puisi, makin bergolak gairahnya kini. Dia telah memiliki beberapa buku puisi sendiri dan bersama. Aku pernah satu forum di helat sastra di Sabah dan juga dalam negeri.

Seorang lelaki masuk dan tersenyum pada kami. Ia sempat memandang Dinda. Agak lama. Seolah ia mengenal Dinda. Kulihat Dinda tak merespon walaupun ia membalas dengan senyuman.

"Maaf kalau salah, apakah kamu Dinda? Anak SMA Tama?" tiba-tiba lelaki itu mendekat. Bertanya. Ragu-ragu. Ia seakan meminta pengertianku.

Dinda menatap lurus pada lelaki yang kuanggap sudah mengganggu kenyamanan kami. 

"Ya benar!" seru Dinda. Sumringah.

Aku gelisah.

Rena menatapku. Matanya seperti masuk ke bola mataku. Degup jantungku seakan bergema di hati Rena. Kami pun saling bertatapan. 

Ada apakah?

"Masih kenal aku?"

"Duh lupa!" balas Dinda.

"Aku And..."

"Andri! Andri ya!"

Lelaki itu mengangguk segera. Ia senang setelah Dinda mengenal namanya.

"Kamu yang dulu minjam bukuku lalu masukin surat...."

"Ah, jangan dibahas. Kisah anak monyet."

"Cinta monyet kali..." tekan Dinda.

Aku dan Rena cuma diam. 

Ada gejolak dalam dadaku. Tapi entah perasaan apa.

"Eh sekarang kamu di mana And?"

"Kamu sendiri Dinda?"

"Aku di Bandung. Ke sini hanya urusan bisnis," jawab Andre.

"Aku sekarang tinggal dan kerja di sini," ujar Dinda. 

Aku menunggu Dinda menyebut kami, tapi sejauh ini belum juga. Bahkan lelaki itu duduk di kursi sebelah kanan Dinda. Meja kami berbentuk segi empat. Dinda di depanku. Rena sisi di sebelah kananku. Dan satu kursi kosong yang kemudian ditempati lelaki itu.

Lelaki itu tanpa memedulikan kami asyik berpingpong dialog dengan Dinda. Rena tahu perasaanku, ia pun mengajakku mengobrol. Meski kurasakan hambar percakapan kami.

"Eh kamu tu jadi kan roadshow? Kapan? Aku lupa."

"Jadi. Bulan depan tanggal 15," kataku.

"Nah, lalu surat itu aku buang di tong sampah. Sejak itu aku membenci kamu," ujar Dinda pada Andre.

"Kayaknya aku bisa ikut. Untuk yang di Ubud itu. Aku kebetulan kenal sama pemiliknya. Kafe itu memang sering ngadain diskusi sastra," ujar Rena.

"Tapi kan kemudian kamu cari-cari aku," ucap Andri.

"Ih geer. Aku tuh cari kamu waktu itu ada bukumu yang masih sama aku. Tahu!" jawab Dinda.

"Oke. Sip itu. Sekalian kakau ada satu kafe yang di Denpasar, bagaimana...." ucapku.

"Dan kita sempat berdekatan. Tapi hanya tiga bulan..." sela Andre.

"O ada. Siaap. Bagaimana kalau kucari yang dekat BBB...  aku kenal dengan kurator BBB," balas Rena.

Percakapan silang kami lumayan lama. Dinda belum juga memperkenalkan kami. Atau dia pikir tak penting?

Andri bahkan turut memesan makanan semeja dengan kami. Dinda yang menawarkan. Aku tak lagi berharap mau dikenalkan atau tidak. Tidak begitu penting.

Lelaki itu juga seolah di meja ini hanya ia dan Dinda. Aku dan Rena dianggap penumpang? Ih! Rasanya ingin kubalikkan yang ada di atas meja ini. Bisa kubayangkan suaranya. Gaduh. 

Lalu seluruh pengunjung memandangi meja kami. Pelayan atau pemilik Elka Coffee lalu menghampiri kami. Dramatis bukan?

"Eh ya! Aku lupa.... ini siapa?" lelaki itu tiba-tiba mencairkan suasana hatiku.

"Aku kawan Dinda..."

"Aku juga." 

Seperti senada kami jawab dingin.

Dinda menumburkan tatapannya kepadaku. Aku tak acuh. Geming saja.

"Dia..." Dinda seperti hendak meralat.

"O begitu. Kukira sua...."

"Bukan," Rena yang menjawab.

"Jadi kamu masih sendiri. Sama kalau begitu. Rumah tanggaku gagal. Kami berpisah sebelum punya momongan. Aku sekarang masih cari-cari. Apa kau punya usulan?" kata Andri. Tanpa sungkan. Sepertinya orang ini tak punya etitud. Tak beradab.

Apa urusan rumah tangganya dikasih tahu ke kami? Mau gagal mau cerai atau apalah tak perlu orang lain tahu. Kegagalannya adalah cermin dia ke depan. Bukan jadi kabar buat orang.

Aku mulai tak simpati. Jengah. Dinda juga meladeni dia. Aku menduga lelaki ini mantan Dinda waktu sekolah. Ya! Dinda pernah cerita. 

Kata Dinda: waktu SMA kawannya sekelas suka pada Dinda. Tetapi dia tak membalas. Suatu hari lelaki itu menyeliipkan surat cinta ke dalam buku Dinda yang pura-pura dipinjamnya. Dinda makin berang membaca surat itu.

Tetapi suatu hari saat pramuka ia terperosok dan nyaris celaka. Lelaki itu menolongnya. Sejak itu keduanya beracaran. Lelaki itu kiranya selingkuh dengan teman akrab Dinda dan sekelas pula. Rupanya selama mereka bertiga jalan atau camping, Andre main belakang dengan Dona. Bahkan hamil. Namun keguguran. Setelah itu Dinda tak tahu tentang mereka...

Dinda tampak semringah. Ia bertemu masa lalunya. Sampai lupa dengan siapa ia bisa berada di Elka Coffee ini.

(Bersambung)








 

LIPSUS