PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (46)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (46)

bdy
Jumat, 14 Februari 2020



PENGUNJUNG semakin berkurang. Kulihat jam besar di dinding. Pukul 23.24. Sudah malam tentu.

Sebagian karyawan Elka Coffee sudah pamit. Hanya kasir dan seorang pelayan yang tinggal. Teman Dinda -- pria yang sangat tak beradab dan paling tak kusuka dari seluruh manusia di bumi ini belum ada tanda-tanda pamit -- masih asyik mengembalikan nostalgianya masa SMA bersama Dinda. Mereka ingin mengenang seperti dalam "Gita Cinta dari SMA" karya Eddy D Iskandar yang dilayarlebarkan itu. 

Dinda mulai berulah. Ia biarkan aku dan Rena dalam kesibukannya bersama Andri. 

Keduanya dalam labirin masa lalu. Saling ejek dan memuji. Menyebut nama-nama sekelas atau di organisasi OSIS. Ibarat mur dan baut mereke pas ukurannya.

Lalu klop. Jadi menyatu.

Yang lain adalah penumpang. Menumpang dalam kereta yang dilajukan sepasang yang memadu kasih masa silam.

Ya! Aku tiba-tiba digoda oleh banyak kasus percintaan. Rumah tangga babakbingkas karena sang istri atau suami berselingkuh pasca-reuni. Atau cinta lama bersemi kembali setelah pertemuan bersama merayakan ulang tahun angkatan di sekolah. Ada pula sewaktu di kelas hanya berkawan dan tidak ada ketertarikan. Begitu bertemu kembali saat sama-sama sudah berkeluarga, mulanya saling kirim pesan pendek makin intim dan melakukan pertemuan khusus.

Apakah Dinda serupa kisah sinetron tersebut? Kisah dalam berbagai kasus selìngkuh?

Aku tidak tahu. Tak ingin meneruskan pikiran-pikiran seperti itu.

*

Rena memberi aba-aba. Ia bangkit. Aku pun meninggalkan kursi. Kami berjalan bersisian mencari tempat lebih santai. 

"Sabar. Gak apa-apa kok. Itu kawannya waktu SMA. Hanya nostalgia..."

"Maksudmu, aku cemburu? Gaklah ya...." jawabku.

Rena mengajakku ke kursi yang menghadap ke jalan. Di luar gerimis. Beberapa pengendara berteduh. Sepasang remaja duduk sejok di motornya. 

"Kalau-kalau saja kamu cemburu. Soalnya wajahmu terlihat cemberut," kata Rena.

"Ih kamu tu bisa manas-manasin orang."

Rena tersenyum.

Ia sebenarnya tak bermaksud memanasi emosiku. Hanya bagian dari persahabatan. Sebagai gurauan.

Tak lama kami di sini, Dinda menemui kami. Ia datang bersama teman sekolahnya. 

"Ke mana sih kalian. Kok ninggalin," kata Dinda tanpa rasa berdosa.

"Maaf sudah mengganggu. Sudah puluhan tahun lebih tak ketemu Dinda," ucap Andri. 

Lelaki itu pamit. Kami diam. 

Lelaki itu menatap Dinda. Dinda mengantar hingga ke pintu. Sampai teman masa SMA-nya ditelan malam.

Dinda kembali. Tersenyum. Aku lempar pandang ke luar. Rena salah tingkah. Kulihat justru dia lebih gelisah.

"Yuk," kata Dinda.

"Duluan saja," jawabku.

"Lo aku ke sini kan sama kamu. Tega ya kamu nyuruh aku pulang sendiri?" ucap Dinda.

"Aku masih mau jalan. Kau bisa minta antar kawanmu itu atau Rena," kataku lagi.

Aku kesal. Tersinggung. Dua jam mungkin dia meladeni kawannya. Ia tak acuh padaku dan Rena. Lelaki mana yang tidak terusik harga dirinya?

"Kamu marah ya Busy? Kok marah? Itu kan kawanku semasa SMA," jelas Dinda.

Lagi-lagi ia seperti tidak merasa bersalah. Mengobrol dengan lelaki lain, sementara aku yang membawa dari rumahnya ke sini dianggap tak ada. Dianggap patung. Disenggol pun tak. Apatah lagi dikenalkan. Kami, terutama aku, layaknya orang asing di antara mereka.

Siapa yang tidak tersinggung? Biarpun aku bukan kekasihnya, pasti tersinggung dan kesal. Bukan lantaran aku cemburu, tapi cara dia memerlakukan aku di hadapan teman lelakinya membuatku tidak terima.

Dinda sama artinya meninggalkan aku di jalan begitu ia mendapatkan lelaki lain. Ia tak acuh setelah ia bertemu kawan yang lain.

"Kamu cemburu?" desak Dinda. "Andri itu kawanku waktu SMA, Busy. Bukan spesial kok," ia berujar.

Ia ingin menjelaskan. Mau meralat pikiranku yang mungkin salah.

Salah? Menurut siapa pun aku tidak salah. Bukan spesial? Lelaki mana pun kalau sudah berdekatan dengan perempuan, apakah bukan spesial atau hanya kawan, tentulah akan terangsang juga.

"Kamu Dinda bertameng atas nama kawan dan bukan spesial. Kalau lama-lama juga dia akan menggagahimu!" Aku membatin.

Perempuan selalu pandai beralasan. Dia bisa beralibi agar terhindar dari tuduhan selingkuh. "Salah saja mengaku benar. Apalagi kalau benar....:

"Dia itu...."

"Bekas pacarmu kan?"

"Waktu cinta monyet."

"Sekarang sudah tak monyet lagi. Tapi sama-sama badak. Gak tahu malu. Tak punya adab berkawan!" tudingku.

Suaraku keras.

Emosiku membuncah.

Aku meracau. Rena menenangkan aku. Dinda terdiam. 

Sejurus kemudian ia beranjak. Kubiarkan ia keluar. Kali ini tak kuburu. 

"Kali ini aku tak bisa mengalah. Kamu sudah mencabik-cabik nuraniku. Kau tak lag menghargaiku..." kataku masih meninggi.

Dinda tak menggubris.

Dia keluar. Tak melihat aku lagi.

Rena mengejarnya.

Aku ke kasir. Setelah membayar, keluar.

Aku ingin menemui Santi di Jalan Sriwijaya. Barangkali saja dia masih di sana.

Malam bergayut kelam. Aku kemudi mobilku dengan perasaan gundah. Pikiran pecah-pecah. 

Pembacaan puisi dari penyair yang kukagami dalam DVD kusetel. Beberapa puisi kunikmati sepanjang jalan menemui Santi.

BUNGA HATI DI RUANG TAMU

ketika kulihat taman tak ada bunga merah yang mekar

pintu kubiarkan terbuka. angin tenang
mengelus bungabunga plastik di ruang
tamu (kubeli dua tahun lalu di toko 
bunga), kurawat seperti mengasuh 
taman

aku tak kecewa melihat tak satu pohon
kembang di taman berbunga. mungkin 
musim telah menggesernya ke ruang tamu
ini, dan kaulah yang mewarnai saban pagi
dengan bunga hati yang mekar dan menguar
ke seleruh ruangku; aku ciumi aromanya dengan
wangi tubuhmu

          biarpun matahari kini selalu basah

kau cukup basuh senyumku
dengan bungabunga itu

2020

Lalu puisi ini juga aku suka saat dibacakan. Di era digital memang banyak seniman memanfaatkannya untuk sosialisasi dan apresiasi.

TEMPAT PALING SUNYI

baiknya kupilih tempat paling sunyi
di pojok hati kita di bawah rimbun
wajah yang anggun. mari berbincang
dan riang. kupegang tanganmu, kau 
mengetatkan jemarimu. di luar
supermoon, peristiwa langka dan 
jadikan sejarah bagi aku + kau 
agar langkah tak lagi galau

dan tiap angin menyentuh dedauanan
maka yang kita dengar hanyalah desau
setiap batangbatang bambu digoyang
hanya derit dan gerak dalam diri kita

tak perlu bujuk dan mabuk
di sini kita sudah bertatapan
menggeser setiap aral
hingga ke paling pojok dan sunyi

Dua puisi ini berulang kuputar. 

Tak terasa aku sudah sampai di kawasan biasa Santi mangkal. Tapi Santi tak kulihat di sana. Dua wanita di situ kutanya, mereka menggeleng.

Telepon genggamku berdering. Rena meneleponku.

"Kamu di mama Busye?"

"Di jalan. Kenapa?"

"Dinda sudah kuantar pulang. Dia minta maaf. Pikirnya ia tak salah. Dia merasa tak bersalah. Tapi, katanya, kalau kau anggap salah, dia siap minta maaf," kata Rena.

"Persetan dia!"

"Busye, pikiranmu lagi kacau. Malam di rumahku saja kalau kau malas pulang."

"Aku bermalam di hotel saja."

Klik

Aku yakin Rena masih memanggil namaku. Ia ingin mengajakku bermalam di rumahnya.

"Busye..."

"Busy..."

"Haloo....."

"Halo.........."




(Bersambung)


LIPSUS