PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (52)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (52)

bdy
Jumat, 21 Februari 2020





NUDI, sebuah kafe di pinggiran kota. Sejak memasuki kafe itu, kami disergap oleh kegelapan. Bagai berjalan di bawah langit tanpa bintang dan bulan. Listrik padam. 

Kami bagai tunanetra. Tak punya tongkat. Meraba agar selamat hingga ke dalam. Pengunjung ramai. Malam minggu. Malam panjang dan berpasangan!

Sejak di Diggers, kami telah membuat kesepakatan. Saat di Nudi, kami seolah-olah berpasangan sebagai kekasih. Alangkah tak sedap, jika kami memosisikan sebagai kawan semata. Akan terasa canggung, dan menjadi buah tontonan tak lucu!

Rena sudah merangkul tubuhku. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Tak mau kalah, Sur sudah memeluk Dinda. Bahkan lebih ketat ketimbang kami.

Apakah Sur sengaja ingin membangkitkan kecemburuanku? Aku membatin. Menatap mereka. 

Kami semakin masuk. Ruang kian gelap dan pengap. Asap rokok menari-nari di atas kepala kami. Dinda tampak mulai sesak. 

Sur memesan minuman. Tak beralkohol. Untukku dan Dinda. Sedang ia dan Rena memesan minuman lain. 

Rena merapatkan badannya padaku. Sur menggeser ke Dinda. Cuma Dinda terlihat menghindar. Tapi, sebagaimana kesepakatan, tak kuhiraukan Dinda. Aku kini lebih nyaman di samping Rena. 

Dinda mungkin sudah melabuhkan perahu hatinya pada dermaga Sur. 

Dan, Sur membuka pintu-pintunya. Mengikat kencang temali. Agar perahu tak lagi ditarik oleh ombak ke laut lepas.

Ibarat burung, Dinda layak disematkan. Ia memang jinak-jinak namun sulit ditangkap. Wataknya kerap berubah dan cepat pula berganti. Antara sayang dan berang, silih berubah. 

Rena? Perempuan dewasa, pikirku. Mungkin karena sudah tertempa selama menjadi istri bule. Atau memang sikap hidupnya sudah dilatih oleh keluarganya sejak anak-anak. 

Rena juga tak pencemburu. Ia menganggap semua adalah sahabat. Tetapi, ia juga bisa membedakan mana kekasih dan dicintai. 

"Dinda sepertinya gelisah. Sur sudah dekat terus, tapi Dinda belum respon," bisik Rena dekat di telingaku. 

Aku mengangguk.

Aku yakin Dinda dan Sur yang berada di bangku lain sebelah kami, menyangka Rena mencium pipiku.

"Kamu tak suka kalau Dinda jadian sama Sur?" tanya Rena kemudian. Masih berbisik.

Berisik! Alunan musik yang mengentak-entak sukit buat kami berkomunikasi dengan baik. Kecuali merapatkan ke telinga.

Beberapa orang di dekat kami sudah mabuk. Kepalanya bergoyang mengikuti irama musik. Mata mereka sayu. Rona muka merah. Seorang perempuan -- kutahu kemudian karena teman lelakinya selalu memanggil namanya dengan keras, Inel -- selalu menggayut di pundak lelakinya. Ia bagai menyapu bersih debu di wajah kekasihnya dengan ciuman dan lidah.

Aku jijik. Tak tahu kenapa aku tak suka melihat wanita yang agresif dan menggila pada lelaki. Aku pernah menonton sepasang kekasih yang tengah mabuk cinta. Perempuannya lembut mengajarka cara berciuman terlembut.

"Perlu perasaan; cinta dan kasih. Cinta mengajarkan kita kelembutan. Kasih akan menuntun kita berbuat santun. Itulah makna cinta dan kasih," kata perempuan itu.

Dan aku telah melakoni itu. Tak pernah berbuat kasar pada wanita. Aku juga tak ingin diperlakukan kasar oleh perempuan. 

Kelembutan akan mengabadikan cinta dan sayang. Bagaimana kita memperlakukan lembut hewan -- misal kucing atau anjing -- maka hewan itu akan menyayangi kita juga. Ia siap diperintah dan lain sebagainya. 

Tak heran, diam-diam aku lebih nyaman dan merasa disayang jika dekat Rena. Ah, apakah ini cinta?

Bagaimana Dinda? Duh, aku butuh masukan untuk memilih di antara dua jalan bersimpangan ini. 

Ke Dinda ataukah ke Rena?

*

Musik masih berdentam-dentam. Di depan sejumlah pasangan muda berjingkrak. Berperlukan. Warna mukanya merah. Tak berpupur dan lipstik. 

Asap mengepul bagai awan putih. Batangan rokok memenuhi asbak. Botol-botol minuman kosong. 

Dinda mendekatiku. Ia berbisik.

"Aku pulangnya nebeng dengan kamu ya Busy? Bilang ke Rena dong...."

"Kenapa? Tak enaklah sama Sur, kecuali kamu dan Rena yang bilang?" kataku balik bertanya.

Dinda cemberut.

"Kamu bilang ke Rena. Biar dia omong ke Sur."

"Baiknya kamu sih yang minta ke Rena. Aku serbasalah..."

"Ya sudah kalau gak mau. Aku pulang aja sendiri naik grab!" kata Dinda. Suranya agak kuat.

Sur memandang ke kami.

Rena mendekat.

"Kenapa Busy? Ada apa Dinda?" 

Suara Rena pelan. Menatapku aneh.

"Dinda bilang pulangnya gak mau sama Sur. Dia minta sama kita aja. Aku jawab bilang ke kamu. Aku serba salah nantinya..." jawabku di dekat telinga Rena. Seperti berciuman 

Aroma parfumnya, aduhai...

"Ooo.  Ya sudah gampang," kata Rena. Ia dekati Dinda. Berbisik. Dinda mengangguk-angguk. Kemudian Dinda kembali ke kursinya. Sebelah Sur.

Rena mendekatiku. Mencium pipiku sambil berkata:

"Nanti kalau kita mau pulang, aku dan Dinda bilang ke Sur, bahwa Dinda biar sama kita. Dia mau mengingap di rumahku."

"Sip. Alasan yang tepat!" pujiku.

Lalu Rena mengajakku berjoget. Dia bilang ini bagian dari olahraga. Aku tak menolak. Apalagi ia sudah melingkarkan tangannya di pinggangku.

Joget. Berperlukan.

Dinda mengawasi kami dengan matanya yang tajam. Layaknya elang dengan mata yang tak pernah terpejam.

*
Limpahan pengunjung belum berhenti. Selepas pukul 01.00 kafe ini semakin diserbu pendatang. Mereka datang dari karaoke-karaoke yang usai pukul 00.00. Tetapi hasrat untuk mendapatkan keriangan di ruang seperti ini belum padam. Akhirnya mereka migrasi. Mencari kafe-kafe malam. Dunia hiburan malam yang lain.



(Bersambung)

"O









LIPSUS