PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (57)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (57)

bdy
Jumat, 28 Februari 2020




LAUNCHING Kafe Gedung Meneng -- disingkat KGM -- kubaca iklannya di media lokal. Ada penjelasan berikutnya:

Untuk hari pertama, Kafe Gedung Meneng (KGM) memberi gratis bagi pengunjung. Acara ini akan dimeriahkan stand up comedy, musik jalanan, baca puisi, dan diskusi 'Pilkada: Antara Demokrasi dan Money'.

Jangan lewatkan acara langka ini. Malam Rabu ini. Makan-Minum Gratis, Hiburan, dan Ilmu.

Segera kutelepon Ojal, kawan di pers yang paham kuliner.

"Jal, bener ya KGM launching malam nanti?" 

"Bener bang. Datang ya. Ada diskusi politik juga. Keren pembicaranya. Rugi kalau tak hadir. Dapat ilmu, gratis pula makan dan minum," jawab Ojal.

Aku tanya siapa pembicaranya, Ojal bilang, Oki, Wira, dan komisioner KPU.

"Ah, kurang keren pembicaranya."

"Kalau begitu cari hiburan aja bang. Kan ada stand up comedy, dan panggung seni. Abang bisa baca puisi juga," imbuh Ojal.

"Memang ente panitianya, bisa main usul?" sergahku.

"Yunior kita kok panitianya. Anak-anak KGM (Komunitas Gedung Meneng) yang diviralkan mereka jadi UGM - Universitas Gedung Meneng -- biar lebih keren dan bergengsi ketimbang Komunitas. Hahaha..." balas Ojal.

"Oke, aku hadir malam nanti."

"Bawa Dinda ya bang. Kenalinlah ke kita-kita...."

"Tahu pula kau sama Dinda ya. Kupikir kau masih yunior, tabu merintah senior. Camkan itu!" tukasku tegas.

Tak urung kuakhiri ucapanku itu dengan tertawa renyah.

"Maaf senior. Maklum kata kawan-kawan di KGM, Dinda itu cantik. Orangnya menarik dan seksi. Mau juga kulihat nyata bukan rekaan Busye!"

"Sst. Pandai pula kau menyindir aku ya!" potongku. "Tapi, oke, demi kawan-kawan di KGM kuajak Dinda malam nanti ya...."

"Siap senior!" balas Ojal.

Selepas kututup percakapan dengan Ojal, Dinda meneleponku.

"Busye, sudah dapat info malam nanti ada kafe yang baru dibuka. Boleh juga kita hadir, sekalian buat nambah-nambah untuk novelmu berikutnya."

"Aku belum ada niat buat novel lagi. Tapi aku memang mau datang. Kumpul-kumpul dengan kawan di KGM. Kamu mau ikut?"

Dinda segera menyambar.

"Mau mau Busy!" katanya. Dari suaranya, ia amat senang. Bahagia. "Rena tak ikut kan?"

"Belum kukabari."

"Oke. Berdua aja ya Busy?" harap dia. "Bisa jemput aku kan?"

"Oke."

Belum pukul 19.30 aku sudah di KGM. Ki Lurah KGM, Imbos, menyambutku. Ia juga merekomendasikan aku untuk baca puisi dan jadi salah satu pembicara. Ia ingin ada tanggapan dari seniman tentang pilkada.

"Oke, siap."

Kami pun disilakan mengambil makanan. Sekakian segelas kopi pahit. Usai menyantap, kunikmati sebatang rokok. 

"Kamu makin akrab ya dengan Rena. Aku iri lo..."

"Bagaimana kau dengan Sur?" aku alihkan percakapan.

"Lha kau balik tanya. Mana kutahu. Tanya aja sama Sur," bantahnya.

"Soal Sur sudah kutanya. Sesama pria pastinya tak ada yang harus ditutupi..." jawabku. Sekadar ingin memancing reaksi Dinda.

"Apa kata dia? Gak bisa menundukkan aku kan? Sejatinya memang aku tak mau jatuh cinta dengannya. Bisa-bisa aku ditelantarkan. Selain banyak uang, dia juga banyak main perempuan," jawabnya.

"Salah!" potongku. "Justru kata dia, kalian sudah berikrar jadian. Enam bulan akan datang, mau meried," lanjutku.

"Bohongnya itu keterlaluan kau, Busy!" bantah dia. "Panggil Sur ke sini, biar kulumuri cabek mulutnya!"

Dinda berang. Dia terpancing. Emosinya naik. Tapi, aku makin mengganggunya.

"Apologi aja. Bilang aja rindu. Ingin bertemu Sur. Gaklah ngapain kutelepon. Nanti aku yang kamu cuekin. Seperti dulu..."

"Bukan kucuekin. Aku tinggal pulang, setelah kutampar Sur dan kumaki kamu. Serius aku Busy...."

"Serius kangen?" 

Aku tersenyum.

"Sudah ah gak lucu. Jangan buatku hilang mood dong, Busy. Kita kan di sini mau senang dan tertawa," ujarnya. Dia serius. Berharap sangat. Lembut.

Akhirnya aku mengalah. Kemudian ia pindah duduk di sebelah kiriku. Kami asyik menikmati banyolan di panggung. 

Suasana KGM sangat ramai. Pengunjung didominasi jurnalis, aktifis, politiai, mahasiswa dari bernagai perguruan tinggi, dan komunitas lainnya.

Setelah sajian musik jalanan. Aku diminta tampil baca puisi. Aku pilih puisi "Di Alunalun Itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi" yang beberapa kali telah kubacakan. Ini puisi menggambarkan fenomena di republik ini. 


DI ALUNALUN ITU ADA KALIAN, 
KUPUKUPU, DAN PELANGI

(1)

senja bertamu
selengkung pelangi
di antara dedaun
                 ranting  
dan bangku panjang
basah sehabis hujan
: ada kupukupu 
bergantung janggut

anakanak berlari
melepas bola
melompati garisgaris
di mata langit

       perempuan kerudung
       lainnya berkalung salib
       wajah budha di wajah 
       seorang lelaki di lain kursi

"aku menunggu ahmad
datang di senja ini," kata 
perempuan berkerudung

"kapan datang? aku menanti
kekasihku, anak maria
karena aku gembalanya."

ah, kita samasama menanti
seperti penantian sang budha

di alunalun itu
memang ada kalian
samasama menunggu
datang pelangi 
sampai ia pergi

seperti kupukupu
akan selalu singgah
pada musim yang basah

bercakap tentang siang
kemudian senyap 
waktu datang malam

kalian nikmati bersama
asap rokok melayang
atau anakanak berlari
amatlah riang
biarpun ada tangis
tubuh luka atau memar
sehabis terjatuh 
dan terbentur riuh

selalu di alunalun itu
segala ingin bertemu
selengkung pelangi
di langit biru       mata cahaya
-- Tuhan maha bertahta --

di mata kalian, wajah pualam
jalan lempang     begitu riang

"kita samasama memburu
tapi tak perlu gaduh
kita bersama mencari
tapi tak saling iri," suara bersama

dari kesendirian
hingga berjamaah
sejak rosario
sampai katedral
dimulai pegunungan
lalu rumah keheningan

tangan berlingkar
Tuhan betapa kekal!


(2)

kalian lepas hati
yang bercak

duduk di kursi panjang
alunalun yang riang

Tuhan memandang
setiap yang datang
tak perlu risau
dari mana kalian

lalu pelangi 
menjelma anak tangga
menuju singgasana

segala mula
kelak dibariskan

seperti anakanak 
berlarilari rancak
ingin baris rapi
menunggu buku pandu

"kita dari rahim yang satu
meramai-riuhkan alunalun
untuk menghidupkan
semesta," anakanak bernyanyi

           bungabunga mekar

2015-2017

Tepuk tangan. Aku turun dari panggung, meski ada yang berteriak: "satu lagi bang!"

Menuju kursiku tadi. Dinda memberi apresiasi dan menyalami tanganku: "Keren bacanya. Mantul! Kapan aku bisa baca puisi sepertimu, penuh penjiwaan."

"Terima kasih. Nanti ya latihan khusus," jawabku. Ringan.

Kupikir, kapan pula kaubpunya waktu berlatih? 

Setelah pertunjukan seni, dilanjutkan diskusi. Aku orang keempat sebagai narasumber. Belum waktunya naik panggung.

Telepon genggamku bersuara. Rema mengirim pesan.

Malam Busye. Kamu lagi di mana, sama siapa? Kutunggu-tunggu kabarmu tak juga datang, ya aku WA. Kamu gak marah kan?

Aku menoleh ke Dinda. Feelingku ia mengintip HP-ku. 

"Rena WA aku," kataku.

"Balas saja. Jawab apa gitu."

"Ya. Nanti kujawab, lagi acara ini."

"Ok. Kamu bukan tipe lelaki pembohong sih," timpal Dinda.

"Maksudmu, Nda?"

"Kamu akan bilang ada di sini dengan aku kan?"

Aku mengangguk.

"Sedapat mungkin kuhindari untuk berdusta," jawabku. "Meski aku bisa saja kukatakan, 'di rumah. sedang ke luar kota'. Tapi untuk apa? Tak ada manfaatnya kan, Nda?"

Aku menatapnya. Ia mengangguk.

Kepada Rena kubalas WA-nya. Kataku: "Aku di Kafe Gedung Meneng Jl Kedelai No.1 Gedungmeneng. Pembukaan kafe. Ke sini saja."

Lima belas menit kemudian, Rena sudah sampai. Ia duduk dekat Dinda. Aku sedang jadi pembicara.

Aku mengatakan, Pilkada di Antara Demokasi dan Money, akan membuat pelajaran buruk bagi tegaknya demokrasi. Juga perpolitikan di Indonesia.

Pasalnya, kataku lagi, kalau money masih dinilai hal biasa dalam politik. Atau tanpa ada tuntutan seperti bagi koruptor, akan banyak para pengusaha dan tauke mencampuri pilkada.

"Laku kepala daerah yang menang karena main uang dimodali pengusaha, hanya akan jadi boneka. Apa-apa harus persetujuan pemodal. Sialnya lagi, pajak yang terutang akan diputihkan. Juga banyak yang ditutupi jika seharusnya kena pajak. Kepala daerah dan pemodal bisa kongkalingkong," tandasku.

Oleh sebab itu, masih kataku, jika kita menginginkan politik bersih dan demokrasi benar-benar untuk rakyat yang berdemokrasi, kita harus bersatu melawan para cukong atau take turun dan melakukan serangan dengan uang, sembako, sarung, mukena, sajadah, dan sebagainya.

"Bila perlu tak perlu mendatangkan saksi-saksi. Kalau ada buktinya, itu saja yang dijadikan standard pengadilan. Pemodal itu dipenjara. Jadi perlu ada efek jera. Shock teraphy!" tandasku. 

Diskusi ramai. Memanas. Apalagi dikaitkan dengan oknun komisioner KPU yang ditangkap dan dipecat, karena kasus jual beli kursi maupun suap. 

Rena berdiri. Ia memberi salam ketika aku selesai dan turun dari mimbar diskusi. Ia berbisik.

"Kok kamu gak ngabari sih? Ini kan acara gengsi. Walau launching kafe tapi ada seni dan diskusi. Kamu juga gak cerita jadi pembicara."

"Dadakan. Aku diminta tampil pas di sini..." jawabku. Juga berbisik agar Dinda tak mendengar.

Rena seperti memaklumi. Ia kembali duduk.

Dinda menyambutku. Masih berdiri. Menyalamiku dan mencium punggung tanganku. Lalu duduk lagi.

Hujan mengguyur Gedung Meneng. Sangat deras. Dinda minta antar ke kosan. Rena pulang sendiri.

"Aku tunggu ya, Busy..." 

Rena berbisik. 







(Bersambung)


#isbedy
#paus sastra lampung
#cerita bersambung
#lamban sastra isbedy stiawan 








LIPSUS