Bilal Masjid PTBA yang Tewas Kecelakaan Tambang
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Bilal Masjid PTBA yang Tewas Kecelakaan Tambang

INILAMPUNG
Selasa, 10 Maret 2020

Rumah Hartono (39), masih terpasang taruf menyonyong 40 hari masa meninggal. (ist)

PENGANTAR:
Kecelakaan pekerja tambang di PT Bukit Asam bernama Hartono (39) masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Misteri kematian Tono pun belum diungkap. Berikut catatan tim investigasi INIlampung.com, yang menemui beberapa pihak dan keluarganya, ditulis bersambung. 
-------------------------------------------------------

SUASANA sunyi, masih mengesankan berduka. Terlihat dari kondisi rumah Hartono (39). Pekerja di tambang PT Bukit Asam Tbk yang tewas mengenaskan di area Belt Conveyor TLS 3, tambang IUP Bangko Barat. 

Tahlil yang digelar setiap malam Jumat, masih menyisakan tenda yang menutup jalan Kolam Atas, Sabtu, 22 Februari 2020.

Jalan Kolam Atas, terletak di pinggir sebelah barat, merupakan lorong dari Jalan Kolam Kadir di kompleks perumahan BTN, Air Paku, Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim.



Rumah almarhum Hartono, sepi. Ketua RT yang rumahnya berjarak sekitar 700 meter itu, menyarankan agar ke rumah orang tua Tono. Sapaan akrab almarhum di kompleks BTN itu. 

Ayah almarhum, Wijayanto yang ditemui di rumahnya. Berada di Blok T Nomor 27, menceritakan. PTBA berjanji bakal menanggung semua biaya kematian. Bahkan GM UPTE yang merangkap sebagai Ketua Teknik Tambang (KTT), Suhedi yang langsung datang dan menjanjikan uang duka.

"Murni itu, kecelakaan itu kesalahan perusahaan, kenapa ada orang dandan kok mesin hidup," kata dia pada rmollampung.

Beberapa tetangga yang diwawancarai juga menyatakan kesedihan mereka dengan menceritakan, Tono dikenal baik dan taat beragama. 

"Almarhum itu sering jadi bilal di masjid agung PTBA, beliau orang baik dan sholeh," kata Anto, salah satu rekan kerja Hartono.

Beredar kabar, PTBA memberi santunan kematian pada keluarga almarhum. "Kalau gak salah seratus juta, tapi belum dibayar semua."

Soal beasiswa bagi dua anak almarhum Hartono juga belum jelas. Keluarga mengakui, belum menerimanya. Termasuk perjanjian untuk menerima istri almarhum bekerja di PTBA juga, semua keluarga mengakui belum ada yang tahu.(bersambung)



LIPSUS