Cemburu Berbuah Luka
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Cemburu Berbuah Luka

INILAMPUNG
Sabtu, 21 Maret 2020


Ilustrasi (Net) 


Oleh: Dalem Tehang

SEPEKAN ini, setiap malam mulai membalut bumi dan memunculkan sepi, Umar berdiri di balik jendela Panti Rehabilitasi Narkotika milik BNN.

Pria berusia 39 tahun ini baru dua bulan mengikuti program di panti rehabilitasi. Ketergantungannya pada narkoba yang membawanya kesini. Umar datang sendiri ke panti itu. Kesadaran untuk memperbaiki diri, yang meneguhkan langkahnya. Tekadnya untuk bisa hidup lebih baik ke depannya adalah gelora nan menggelegak di dadanya.

Semua program yang tersusun di panti itu diikutinya dengan sepenuh hati. Termasuk kegiatan ibadahnya pun nyaris sempurna dilakukannya. Begitu besar hasratnya untuk merubah diri.

Namun, sepekan terakhir, Umar tampak tak pernah tenang. Wajah yang biasanya ceria, berubah murung. Candaan yang sering membuat teman-temannya tertawa, tidak terdengar lagi. Umar pun banyak menyendiri.
Seperti malam ini, ketika teman-temannya satu kamar mulai terbuai mimpi dalam tidur lelapnya, ia justru beranjak bangun dari kasurnya. Berjalan ke arah jendela.

Matanya menatap jauh ke depan. Hanya ada kegelapan. Ditatapnya langit, tanpa bintang apalagi bulan. Disapu dari sudut matanya, awan gelap yang berjalan pelan. Beriringan. Terbawa angin yang tengah bermain.

Berkali-kali desah kegalauan terdengar dari mulutnya. Sambil sesekali tampak ia geleng-gelengkan kepalanya.  Wajahnya kini menunduk. Matanya menatap jari jemari kakinya. Ia mendesah lagi. Kali ini, tarikan dan hembusan nafasnya berat sekali. Setitik air jatuh dari matanya. Membasahi jari kakinya.

"Kenapa kamu resah begini, Umar?" sebuah teguran mengejutkan Umar. Yang tengah terbuai lamunan sangat dalam.

"Oh, Kak Andhika. Bikin kaget aja. Umar nggak kenapa-kenapa kok," sahut Umar. Menutupi keterkejutannya.

Andhika mendekat. Merangkul bahu Umar. Membawa ke arah pintu kamar. Membukanya. Mereka pun duduk di kursi rotan yang ada di balkon asrama panti rehabilitasi.

Andhika menyodorkan sebatang rokok. Umar menghisapnya. Dalam-dalam.  Menghembuskan asapnya dengan pelan. Seakan membawa sebagian beban dari kegalauan perasaannya.

"Coba cerita ya, Umar. Apa masalahmu. Nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaikan. Walau nggak setiap masalah juga harus dituntaskan. Ada yang cukup digantung aja," ucap Andhika saat dilihatnya Umar mulai tenang.

"Urusan rumah tangga aja sih, Kak. Malu Umar mau cerita. Nanti Kak Andhika nilai Umar laki-laki cengeng. Karena Umar bisa nangis kalau nyeritainnya," kata Umar dengan suara bergetar.

"Umar, yang namanya nangis itu alamiah. Manusiawi. Nangis itu ekspresi dari perasaan yang terjebak dalam kesulitan untuk mengungkapkannya atau mencari jalan keluarnya. Orang nangis bukan berarti cengeng. Menangis justru bagus, asal beban perasaan tersalurkan. Kalau kamu nggak keberatan, ceritalah. Dalam kondisi begini, kamu perlu teman ngobrol. Tentu teman yang pas. Bukan teman yang ada pamrih. Apalagi kalau beda jenis," urai Andhika dengan wajah sungguh-sungguh.

Umar terdiam. Beberapa kalij ia menarik nafasnya dalam-dalam. Ada kebimbangan. Ada pertentangan di batinnya. Ada keraguan, antara bercerita atau tetap menutup pintu kegalauannya.

Andhika tahu, Umar dalam keraguan. Ada pertentangan tengah berkecamuk di perasaan dan pikirannya. Dibiarkannya Umar mengambil keputusannya sendiri.

Sampai kemudian, Umar menatapkan pandangannya ke Andhika. Tatapannya sayu. Seakan tak ada keinginan apapun lagi pada dirinya.
"Umar digugat cerai sama istri, Kak!" Mendadak Umar bicara. Suaranya pelan namun penuh tekanan dari dalam khalwat batinnya yang terdalam.
Andhika sempat terkejut. Hingga kursi yang diduduki, bergeser. Namun, cepat ia kendalikan dirinya. Sebagai yang lebih tua, Andhika ingin kehadirannya bisa menenangkan Umar. Bisa menjadi tempatnya berbagi beban.

"Kenapa istrimu sampai minta cerai? Bukannya minggu kemarin dia masih dateng temui kamu disini?" tanya Andhika.

"Iya, waktu itu dia dateng untuk kasih tahu kalau dia ajukan gugat cerai, Kak. Gugatannya sudah dimasukkan ke Pengadilan Agama," kata Umar.
"Kalau boleh tahu, apa penyebab istrimu sampai ajuin gugat cerai. Bukannya kamu disini justru untuk perbaiki diri dan siapin diri sebaik mungkin buat masa depan yang lebih baik dan bebas dari ketergantungan pada narkoba," ujar Andhika.

"Dia gugat cerai karena Umar kelewat cemburu, Kak!" aku Umar.

"Maksudnya gimana sih?"

"Umar ini sebenernya bukan tipe suami pencemburu, Kak. Dulu-dulu, Umar cuek aja istri mau ke mana pun. Bergaul dengan siapa pun. Umar nggak pusing-pusing. Percaya-percaya aja apapun omongannya. Nggak ada kekhawatiran sama sekali istri mau macem-macem," Umar mulai membuka kisah rumah tangganya.

"Nah, terus kenapa sekarang istrimu gugat cerai karena kamu cemburu?" tanya Andhika, keheranan.

"Jujur ya, Kak. Sejak di panti rehabilitasi ini, Umar banyak merenung. Introspeksi diri. Bedah diri sendiri dengan sejujur-jujurnya. Umar simpulkan kalau selama ini Umar terlalu banyak buat kesalahan dan dosa pada istri. Umar juga kurang merhatiin dia. Kurang berikan kasih sayang. Karena Umar terlalu asyik dengan dunia Umar di luar rumah," kata Umar. Kali ini dengan nada suara yang mulai stabil.

"Ya bagus dong kalau kamu bisa sadar diri begitu. Kita ini kan paling susah ngakui kesalahan. Tapi kamu, dengan terus terang bilang banyak kesalahan dan dosa pada istrimu. Berarti kamu mau perbaiki diri untuk rumah tanggamu. Itu positif sekali. Terus, masalah cemburunya itu apa?!" sela Andhika.

Umar menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menata perasaannya. Sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jujur aja ya, Kak. Sejak di panti rehabilitasi ini, Umar tumbuh rasa cemburu sama istri. Umar takut sekali istri macem-macem di luar sana. Sedang sekarang ini kan Umar lagi ikuti rehab ini enam bulan lagi. Jadi, kami sering ribut. Karena tanpa sadar, Umar sering nuduh kalau dia sudah selingkuh," kata Umar. Blak-blakan.

"Memang istrimu ada teman laki-laki yang deket?" sela Andhika.
"Kalau feeling Umar sih, memang ada, Kak. Feeling suami kan kuat," ujar Umar.

"Urusan begini jangan pakai feeling, Umar. Harus ada data, fakta atau istrimu sendiri yang cerita. Karena kamu termakan feeling itulah akhirnya pikiran dan perasaanmu nggak terkendali. Cemburu yang mestinya bagian indah dari rasa cinta, malah timbulkan kebencian. Cemburu memang harus ada kalau kita cinta pada seseorang. Tapi jangan sampai cemburu buta," kata Andhika. Menasihati.

"Jadi Umar harus gimana, Kak?!" tanya Umar dengan wajah berharap ada jalan lempang untuk menuju penyelesaian.

"Kendaliin rasa cemburumu dengan baik. Kelola keseimbangan perasaan dan pikiranmu. Besok pagi, telepon istrimu. Minta maaf. Dan sampaikab kalau cemburumu yang berlebihan itu karena besarnya rasa sayangmu sama dia," Andhika bersaran.

Umar menggelengkan kepalanya. "Dia nggak mau terima telepon Umar lagi, Kak. Nggak mau ada komunikasi lagi. Terakhir dia bilang cemburunya Umar buat hatinya terluka. Karena itu dia ajuin gugat cerai," kata Umar. Ada tekanan nada pedih di hatinya.

"O gitu. Ya sudah, besok kita obrolin lagi ya. Kita perlu istirahat. Mikirin urusan kayak gini, harus badan dan pikiran fresh. Dan jujur, baru kali ini Kakak temui ada cemburu berbuah luka. Ya luka di kamu. Juga di istrimu," ujar Andhika sambil mengajak Umar kembali masuk ke kamar. Dan tidur. (*)

penulis: 
*) pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Bandarlampung

LIPSUS