Corona Mengubah Dunia
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Corona Mengubah Dunia

INILAMPUNG
Kamis, 19 Maret 2020


Penulis: Endry Y


"Saat ini vaksin untuk mengobati Corona sudah ditemukan. Dijual oleh negara maju dan kaya kepada negara miskin dan berkembang. Tentu dengan harga yang mahal."

KALIMAT tersebut di atas, kita harapkan, segera dibacakan para penyiar televisi dan jadi headline seluruh media. 

Sehingga, kita bisa beraktifitas seperti biasa. Warga tidak dicekam ketakutan dan saling curiga. Terutama jika ada orang di sekitar, bersin atau batuk sementara dia baru pulang setelah melakukan perjalanan dari luar negeri.

Teori Konspirasi
Mengapa Presiden Amerika membuat pernyataan, Virus Cina pada Convid-19? Kemudian, dibantah dan membuat marah para pejabat Cina.

Tragedi wabah Corona semakin membuat ketegangan antara dua negara besar. Cina dan Amerika. 

Benarkah Coronavirus itu sudah menular antar-manusia? Kalau boleh radikal, pertanyaan yang muncul adalah, apakah Coronavirus itu senjata biologi? Negara dan tepatnya, siapa bandit yang menciptakan dan menyebarkan Coronavirus itu? 

Yakin, belum ada yang punya vaksin, bagaimana dengan Los Alamos atau lab model Bexter?

Smallpox Vaccine 
Di tengah menjalankan imbauan pemerintah agar membatasi interaksi sosial dan tidak bertemu banyak orang, saya hanya menonton film atau membaca buku. 

Empat pertanyaan di atas, benar-benar memengaruhi pikiran. Jingan tenan. 

Mari kita melihat ke belakang. 2005 muncul virus yang menggegerkan dunia. Flu Burung. Di Tanah Karo, Sumatera Utara, menewaskan satu keluarga. 7 orang meninggal akibat terpapar Flu Burung. 

Virus H5N1 di Indonesia itu diumumkan WHO, sudah menular antar-manusia. Dan jumlah Flu Burung di Indonesia, terus meningkat, jauh lebih tinggi, melampaui negara-negara yang terserang kasus Flu Burung lebih awal. Sejak 2003. Seperti Vietnam, Thailand dan Cina. 

Bersamaan dengan itu, banyak pedagang farmasi menawarkan rapid diagnostic test. Sumbernya, didapat dari virus strain Vietnam yang lebih dulu terserang Flu Burung. Juga, sudah dijual vaksinnya. Alur ini tergambar sangat jelas di buku "Saatnya Dunia Berubah" karya Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari. 

Buku itu, terlalu berani membongkar kejahatan Amerika Serikat dalam sistem jual beli virus dan vaksin melalui WHO. 

Termasuk, kejahatan dan adanya ketidakadilan di sistem Global Influenza Surveilance Network (GISN) yang sudah ada sejak lebih setengah abad lalu.

Bahkan, secara vulgar Menkes itu menyebut, bantuan Amerika untuk Indonesia yang dijanjikan belum juga diberikan. 

Ternyata, pernyataan Fadilah Supari yang menganggap bantuan itu bohong, memancing reaksi. Kedutaan Amerika di Indonesia akhirnya menjelaskan, bantuan yang yang dijanjikan, sudah dikirim ke Namru 2. Bukan ke kementerian kesehatan. 

Menariknya, pejabat di Namru 2 itu yang kemudian menggantikan Siti Fadilah Supari jadi Menteri Kesehatan. 

Pejuang yang berhasil membuat virus sharing di WHO, menguntungkan negara berkembang, mengajari kita tentang makna kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa dari penjajahan (neokolonialisme) dan ancaman virus, terpuruk. Jatuh. Sibuk dengan tuntutan kasus korupsi. Dan divonis penjara, sampai sekarang.

Coronavirus, mengingatkan kita bahwa ada persoalan yang mendasar dari kelemahan-kelemahan di ranah kesehatan. 

Kita ketahui, Indonesia tak punya laboratorium yang mengelola virus sampai jadi vaksin. Apalagi sampai pada level, pengembangan senjata biologi. 

Cina punya, dan letaknya di dekat Kota Wuhan. Serupa dengan novel Konzt yang diceritakan tamu saya sebelumnya. 

Akan tetapi, negara mana yang punya penyimpanan data sequencing virus ganas dari seluruh dunia? Semua orang sudah tahu hal itu.

Perjalananan penyakit yang mendunia tidak bisa terlepas dari nuansa politik dunia. Bahkan telah menjadi bagian politik dunia. Perjalanan kasus Flu Burung, membuktikan hal itu. Demikian diungkap Siti Fadilah Supari di hlm 159.

Kita bisa mempelajari, awal munculnya wabah cacar dan saat ditemukan vaksin anti-cacar. Membuat saya sangat yakin, hanya menunggu waktu sampai diumumkan. Seolah pahlawan, siap membantu negara miskin yang terpapar virus Corona. Jika tak punya uang, diberi hutang atas dasar kemanusiaan. Meski sebenarnya, pahlawan kesiangan itulah dalang dibalik tersebarnya wabah.

Logikanya, buat vaksin itu mahal. Memang ada orang baik yang menggratiskan barang mahal di dunia yang semua pertimbangan sikap dan prilakunya hanya laba.

Namun demikian, apa kita akan kalah oleh permainan perang demi keuntungan para bandit modern? Mungkin, banyak korban dari rakyat biasa yang tak tahu masalahnya. 

Percayalah, mereka bisa saja mati syahid. Sepanjang kita tahu dan berani bersuara. Melawan virus itu dengan sebenar-benarnya perlawanan. Sehormat-hormatnya sebagai negara yang sudah merdeka dan berdaulat. Uhuk. Cuih. Maaf saya meludah. Ngriak.

Eh, nyambung gak sih?! Orang tujuan jadi pemimpin republik cuma mau dapat gaji dan plonga-plongo. Pasti mengangguk-angguk kagum begitu ada bule yang manis, menawarkan bantuan mengatasi pendemi dan cara mengatasi virus. 

Bagi rakyat model kita, Coronavirus tak akan bisa menghancurkan kehidupan. Tapi mental budak jajahan di tubuh pemimpin dan para pemegang tampuk kekuasaanlah, yang membuat kita, rakyat biasa terpuruk ke jurang keputusasaan dan kemelaratan akut. 

Urusan soal gula saja, pada akhirnya tidak punya kemampuan untuk beli. Kan asu usa itu. 

Sebenernya, saya mau buat tulisan serius yang banyak referensi. Biar terlihat pinter dan ilmiah, ternyata gak bisa. Cen dasare cah bodo

Yah, seperti lazimnya orang biasa. Hanya pasrah dan bisa misuh. Polisi kok bisanya nangkap penyebar hoax di pesbuk. Perempuan lagi. Eh, begitu ada bandit penimbun gula, plonga plongo. Kan asu usa itu. Coba tangkap penebar virus Corona itu, biar heroik kayak di film. Gak njijiki.(*)

ENDRI Y.
Penggiat Komunitas Gedong Meneng

LIPSUS