Dua Merpati Terbang Tinggi
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Dua Merpati Terbang Tinggi

INILAMPUNG
Jumat, 27 Maret 2020





Oleh: Dalem Tehang

NENEK Saodah berlari. Kesana-kemari. Di halaman rumahnya yang luas. Di tepian sungai. Wajahnya terus menengadah ke atas. Matanya seakan tak berkedip. Ada yang dicarinya ke arah langit.

"Apa yang nenek cari?" tanya Desi. Cucu Nenek Saodah yang baru pulang mengaji di madrasah.

"Burung merpati kita nggak ada di kandangnya," sahut Nenek Saodah sambil terus mencari burung peliharaan kesayangannya.

"O, nenek nyari merpati kita, ya! Tadi Desi lihat dua ekor merpati warna putih terbang tinggi dan melewati sungai," kata Desi.

"Astaghfirullah..! Bener gitu, Desi..?!" ucap Nenek Saodah dengan nada terkejut.

Desi mengangguk. Memberi sinyal kepastian akan bicaranya.
"Bener gitu ya, Desi? Dua ekor merpati kita terbang tinggi dan lewati sungai?" lanjut Nenek Saodah. Dengan wajah serius.

Desi menganggukkan kepalanya lagi. "Kok wajah nenek jadi pucat gitu? Nenek sakit ya?" kata Desi sambil mendekati sang nenek.

"Pegangi nenek. Ayo kita masuk ke dalam rumah," ucap Nenek Saodah. Diulurkan tangannya untuk dipegang Desi.

Mereka duduk di beranda. Desi mengambilkan segelas air putih. Nenek Saodah meneguknya. Perlahan. Badannya bergetar. Ada kekhawatiran terpancar di wajahnya.

"Nenek kenapa?!" tanya Desi dengan nada khawatir.

Nenek Saodah memandangi wajah sang cucu. Hatinya bergemuruh. Ada rasa kasihan pada gadis remaja yang 1 tahun ini menemaninya.

"Kok ngeliat Desi kayak gitu sih, Nek? Memang ada yang aneh ya?" ucap Desi.

Nenek Saodah berusaha tersenyum. Meski hambar. Sebuah senyum yang dipaksakan. Yang keluar tak seiring antara perasaan dan pikiran.

"Nenek nggak sakit kan?" tanya Desi lagi.

Nenek Saodah menggelengkan kepalanya. Tetap mencoba tersenyum. Walau hambar.

"Bener kamu lihat dua merpati kita terbang tinggi dan melewati sungai ya?!" kata Nenek Saodah kemudian.

Desi mengangguk. Yakin akan apa yang tadi dilihatnya. Wajah Nenek Saodah berubah. Memucat. Ada ketakutan di tatap matanya. Bukan lagi sekadar kekhawatiran.

"Memangnya kenapa dengan burung merpati kita, Nek?" tanya Desi. Ia geser kursinya. Kini duduk berhadapan dengan sang nenek.

"Nggak ada apa-apa kok. Nggak usah dibahas lagi ya. Mungkin merpati itu memang sudah waktunya pergi dari rumah kita," ucap Nenek Saodah.

"Tapi kok nenek kayaknya ketakutan gitu kalau ngomongin merpati kita yang terbang tadi?" ujar Desi.

"Nggak ada apa-apa kok. Nenek baik-baik aja. Mungkin kecapean seharian di ladang," kata Nenek Saodah.

Desi tahu, ada yang disembunyikan sang nenek. Raut wajah dan sorot matanya tak bisa menutupi adanya ketakutan.

"Nek, Desi ini sudah besar. Sudah SMA. Ceritainlah sama Desi, apa yang nenek pendam saat ini. Ada misteri apa dibalik terbangnya dua merpati kita sore ini," kata Desi sambil memegang kedua telapak tangan sang nenek.

Nenek Saodah membetulkan duduknya. Menyandarkan badan ke sandaran kursinya.

"Kita akan dapat musibah, Desi. Terbang tingginya dua merpati yang melewati sungai itu isyaratnya," kata Nenek Saodah. Kali ini dengan nada serius.

"Kok bisa gitu, Nek? Apa hubungannya musibah dengan kaburnya merpati kita?" tanya Desi dengan terheran sekaligus penasaran.

"Untuk orang lain mungkin nggak ada hubungannya. Tapi buat keluarga kita, itu isyarat bakal datangnya musibah. Dan nenek takut menyaksikannya," lanjut Nenek Saodah.

"Kok bisa nenek yakin gitu? Apa dasarnya?" sela Desi. Masih dengan nada keheranan dan penasaran.

"Ini sudah turun-temurun di keluarga kita. Kalau merpati piaraan kita terbang tinggi dan melewati sungai di samping rumah, pasti akan datang musibah di keluarga kita," kata Nenek Saodah.

"Kenapa isyaratnya burung merpati, Nek? Bukan yang lain?!" tanya Desi.

"Nenek nggak tahu apa alasannya keluarga kita harus pelihara burung merpati dan burung itu jadi penanda buat keluarga kita. Nenek cuma nerusin apa yang dilakuin leluhur kita aja, Desi!" sahut Nenek Saodah.

"Dan Nenek yakin, isyarat dari merpati itu bakal terjadi?" tanya Desi lagi.

Nenek Saodah menganggukkan kepalanya. Penuh keyakinan.
"Tapi yang nentuin semua kan Tuhan, Nek. Bisa musyrik kalau kita percaya berlebihan juga," ucap Desi.

"Semua memang kembali pada kehendak Tuhan, Desi. Kita masing-masing juga punya takdir yang berbeda. Nggak kan pernah sama takdir setiap orang. Merpati itu juga makhluk Tuhan. Sama dengan kita. Masing-masing kita diberi kelebihan. Nah, merpati itu punya kelebihan dalam hal isyarat atas apa yang bakal terjadi," urai Nenek Saodah.

"Dan Nenek mempercayai itu?" tukas Desi. Nenek Saodah menganggukkan kepalanya. Yakin.

"Nurut Nenek, musibah apa yang akan kita alami?" tanya Desi lagi.
Nenek Saodah menggelengkan kepalanya. Pertanda ia sendiri tak tahu.

"Apa yang bisa kita lakuin biar musibah itu nggak terjadi?" lanjut Desi.
Nenek Saodah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kita berpasrah aja!" ucapnya.

"Ya jangan pasrah aja dong, Nek. Kita  bisa ikhtiar lewat doa. Yang atur semuanya kan Tuhan. Bukan burung merpati itu," kata Desi.

"Apa yang kamu omongin, bener. Tuhan memang pengatur dan penentu semuanya. Tapi Tuhan juga membagi sebagian kekuasaan-Nya pada makhluk-makhluk yang dipercayai-Nya. Tuhan beri beberapa makhluk kelebihan. Dan kalau kita sadari betul, ayat-ayat Tuhan itu bukan cuma yang ada di Qur'an. Melainkan menyangkut seluruh isi alam semesta. Karena semuanya ciptaan Tuhan. Allah Rabbul Izzati," jelas Nenek Saodah. Panjang lebar.

Tiba-tiba telepon genggam Desi berdering. Buru-buru dikeluarkan dari kantong bajunya.

"Ayah, Nek. Waalaikum salam. Iya, ini Nenek lagi sama Desi. Hp Nenek di kamar," kata Desi. Menyahuti suara dari seberang.

"Astaghfirullah! Inilah musibah itu," desah Nenek Saodah.

"Nek, ayah mau bicara dengan Nenek," kata Desi sambil menyerahkan hp ke tangan sang nenek.

"Gimana kabarmu, Chan?!" sapa Nenek Saodah pada putra satu-satunya itu dengan suara bergetar.

"Chandra sehat-sehat aja. Mama baik-baik ajakan? Chan cuma mau nyampein sama Mama kalau Fira dan Fani ajuin gugat cerai. Chan nggak bisa pertahanin lagi semuanya," kata Chandra.

"Jadi kedua istrimu sama-sama minta cerai? Kenapa bisa gitu? Apa karena karena kamu sekarang lagi di penjara dan nggak punya apa-apa lagi, mereka minta cerai?" sahut Nenek Saodah dengan suara bergetar.

"Ya karena itulah, Ma. Karena Chan tersangkut kasus korupsi dan semua harta disita. Dihukum lama pula. Mungkin karena takut hidup miskin makanya Fira dan Fani pilih cerai. Chan cuma mau kasih tahu itu aja sama Mama," kata Chandra dan mematikan hpnya.

Nenek Saodah tak kuasa menahan tangis. Air memenuhi matanya. Ia tahu begitu beratnya ujian kehidupan yang dihadapi putra tunggalnya.

Diangkatnya kedua telapak tangannya. Menengadah. Berdoa. Mengadu kepada Sang Maha Pengatur. Memohon pada Sang Maha Pemberi.

"Ayah kenapa, Nek?" tanya Desi. Mencoba memecah kesedihan yang membuncah di hati sang Nenek.

"Mamamu dan mama tirimu sama-sama minta cerai. Kasihan Ayahmu. Dalam posisi di penjara, kehilangan istri pula. Nenek takut, Ayahmu tak kuat hadapi ujian ini," kata Nenek Saodah.

Desi hanya tersenyum. Tak ada sama sekali rasa kedukaan. Wajahnya dingin. Tanpa ekspresi.

Dipandanginya kandang merpati di samping beranda yang kini tak lagi ada penghuninya.

"Astaghfirullah. Pertanda yang dibawa merpati itu ternyata benar. Allah memang maha kuasa. Berikan tanda-tanda lewat apa saja yang diciptakan-Nya. Rahasia-Nya diuraikan lewat makhluk-makhluk-Nya. Hanya kadang kala, kita tidak peka membacanya," desah Desi dalam hatinya.

Dipandanginya Nenek Saodah yang masih diam terpaku. Matanya basah. Wajahnya begitu murung. Derita seorang ibu memang lebih dalam dibanding derita yang dialami anaknya. (*)

*) penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Lampung.

LIPSUS