Hati yang Tersandera
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Hati yang Tersandera

INILAMPUNG
Jumat, 06 Maret 2020



Oleh: Dalem Tehang

WANITA setengah baya itu selalu duduk di depan pintu kamar selnya. Matanya menatap keluar. 

Ke halaman berhias taman kecil di Lembaga Pemasyarakatan Wanita (LPW) tempatnya kini tinggal. Buliran airmata mengalir dari sudut matanya. 

Yang masih tampak indah. Dengan bola mata kecoklatan. Sisa-sisa kecantikan pada masa mudanya dulu. 

"Sudahlah, Anggi. Ikhlas-ikhlas aja. Bisa apa juga kamu. Kita ini manusia terkurung. Hilang hak kebebasan kita. Berat memang cobaan ini. Tapi yakinlah, Tuhan nggak akan kasih kita cobaan di atas kemampuan kita ngatasinnya," suara pelan mengejutkan Anggi yang tengah terbawa dalam lamunan terdalamnya.

"Eh, Mbak Sur. Ngagetin aja lo. Anggi lagi mandangin kembang-kembang di taman itu kok. Indah, segar dan nyejukin hati," sahut Anggi dengan suara tercekat. 

Wanita yang dipanggil Mbak Sur itu tersenyum. Tipis saja. Tangannya memegang pundak Anggi. Mengelus penuh kehangatan. Spontan Anggi berdiri. Memeluk Mbak Sur. Kencang-kencang. Seakan tak mau melepaskan. Anggi menangis.

Menumpahkan beban perasaan yang dipendamnya selama ini.

"Sing sabar yo, Anggi. Mbak tahu, kamu ada beban perasaan dan pikiran yang sangat berat. Mbak diem-diem sering merhatiin kamu nangis di depan pintu sel ini. Memang nggak mudah hidup di penjara seperti yang kita alami sekarang ini. 

Tapi mbak yakin, kamu kuat. Kuncinya sing ikhlas ngelakoninya," bisik Mbak Sur di telinga Anggi yang masih memeluknya dengan erat.

Diusap-usapnya punggung Anggi. Perlahan. Mencoba menenangkan.  "Wis ojo nangis. Malu sama temen-temen sekamar. Kita yang selama ini dituakan kok malah lemah," lanjut Mbak Sur sambil melepaskan pelukan Anggi dan mengusap airmatanya.

Dibimbingnya Anggi. Diajak duduk di sudut ruangan kamar tahanan ukuran 6x6 M2 itu. Diambilkannya segelas air. Diberikannya ke Anggi. Perlahan Anggi meneguknya. Sampai gelas itu kosong.

"Terimakasih, Mbak," ucap Anggi sambil menyerahkan gelas di tangannya. Mbak Sur tersenyum. Tulus. Menerima gelas kosong dari Anggi. 

"O iya, mbak ada arem-arem. Tadi dikasih Mas Bono, suami mbak, waktu besukan," kata Mbak Sur, buru-buru ke loker tempat menaruh makanan. 

"Nggak usah, Mbak. Tadi Anggi sudah sarapan kok," kata Anggi.

"Wis iki. Makan yo. Kamu kan tadi sarapan mie rebus aja. Ini arem-arem dibuat dari beras. Nyampur di perut, buat kita kenyang. Bahkan bisa nggak lapar seharian," ujar Mbak Sur sambil menyodorkan arem-arem ke Anggi. 

Mereka makan arem-arem bersama. Anggi tampak menikmati panganan tradisional itu.

"Enak to. Sekarang ini jarang orang beli makanan-makanan kayak gini. Rata-rata belinya roti. Padahal roti-roti itu pasti pakai zat pengawet. Nggak baik buat tubuh kita," kata Mbak Sur sambil terus mengunyah arem-arem di tangannya.

Anggi hanya manggut-manggut. Persis burung perkutut saat melepaskan suara merdunya. Matanya masih sembab.

Akibat tangisan tanpa suara yang dialaminya beberapa saat lalu. 

Anggi menyandarkan kepalanya ke bahu Mbak Sur. Mencari ketenangan. Hatinya yang tengah bergolak tidak karuan, memerlukan sesuatu yang dapat mengalirkan hawa keteduhan. 

Mbak Sur mengelus rambut Anggi. Dia tahu, teman sekamarnya itu sedang mengalami sesuatu yang mendera batinnya. 

"Kalau mbak boleh tahu, ada apa to, kok kamu jadi terpuruk begini?" ucap Mbak Sur dengan suara perlahan di dekat telinga Anggi yang masih menyandar di bahunya.

"Ini semua karena Bang Ari, Mbak!" sahut Anggi. Pelan. Tanpa ekspresi. 

"Ngopo to Bang Ari-mu?" tanya Mbak Sur. 
Anggi merubah posisi badannya. Bangun dari bahu Mbak Sur. Mereka duduk berhadapan. Mata mereka saling menatap.

Mendadak Anggi memeluk Mbak Sur. Tangisnya meledak. Sampai badannya berguncang. Kencang. 

"Ojo nangis kuat-kuat. Isin karo konco-konco. Kalau temen-temen tahu kamu nangis kayak gini, malah kita nggak jadi cerita nanti," kata Mbak Sur. Menenangkan Anggi.

Anggi melepaskan pelukannya. Mengusap matanya dengan sudut kaos yang dipakainya. Dia mencoba mengendalikan hati dan pikirannya. Sesekali menarik nafas. Dalam dan panjang. Menata perasaan. 

"Bang Ari tergoda, Mbak. Dia beberapa kali ketemuan dengan perempuan lain. Makan siang.

Seneng-seneng. Anggi nelongso disini," kata Anggi. Memulai cerita. 

"Kamu kata siapa Bang Ari ketemuan dengan perempuan lain?" tanya Mbak Sur. 

"Bang Ari sendiri yang cerita. Dia langsung ngomong sama Anggi." 

"Siapa perempuan yang ngerusak kesetiaan Bang Ari sama kamu itu? 

Yang mbak tahu, seperti sering kamu ceritain, bojomu itu kan tipe laki-laki setia. Tulus dan nerima keadaanmu dalam kondisi apapun. Lha, iki kok iso selingkuh to?" ucap Mbak Sur dengan nada terheran.

"Bang Ari nggak mau cerita siapa nama perempuan itu. Juga nggak mau kasih tahu dimana mereka biasa kongkow. Apalagi ngapain aja. Dia cuma bilang kalau dia lagi tergoda. Dan minta didoain biar nggak kebablasan," urai Anggi. 

"Aneh yo, cerita kok setengah-setengah. Berarti bojomu nyembunyiin sesuatu lo," kata Mbak Sur. 

"Maksudnya gimana, mbak?!" tanya Anggi. Penasaran. 
"Ya dia kan bilang kalau lagi tergoda. Dan minta kamu doain biar nggak kebablasan. Tapi dia nutup rapet siapa perempuan yang ngegodanya. Juga dimana mereka biasa ketemuan atau kencan. Itu sama aja bojomu tetep nyembunyiin sesuatu.

Nah, sesuatu itu, nurut mbak, yo rasa suka dia sama si perempuan kuwi. Intine, Bang Ari-mu itu sebenernya sudah jatuh cinta. Cuma, dia masih ada sungkan karena statusnya kan suamimu," beber Mbak Sur. 

"Kata Bang Ari, perempuan itu juga punya suami dan anak kok, mbak. Awalnya, mereka nggak kenal. Temennya Bang Ari yang ngenalin. Terus mereka komunikasi rutin. Namanya istri di penjara, ya pastinya kesepian. 

Bang Ari jadi tergoda. Sampai perempuan itu ngajak ketemuan, setelah mereka ngerasa saling dekat karena rutin komunikasi. Lewat wa, telepon juga videocal-an. Mereka jadi rutin ketemu. Rata-rata ya pas jam makan siang," urai Anggi dengan suara bergetar. Menahan amarah yang menggelegak di dada. 

"Woalaah, ngono to awale. Terus maunya Bang Ari-mu kuwi piye?" sela Mbak Sur. Tak sabar.

"Bang Ari pengen rumah tangga kami tetep terjaga. Dia bilang sudah nggak komunikasi lagi. Tapi Anggi tahu, Bang Ari ada hati sama perempuan itu," kata Anggi. Masih dengan suara bergetar. Menahan gejolak perasaannya. 

"Terus kamu sendiri gimana nanggepinnya?"

"Jujur, Anggi kecewa berat, mbak. Anggi tahu, Bang Ari itu suami setia. Tulus dan ikhlas terima Anggi apa adanya. Tapi, Anggi juga paham bener, kalau Bang Ari sudah mau ketemuan dengan perempuan lain, berarti dia suka sama orang itu. Ya Anggi mau bilang apa kalau perasaan sudah bicara, mbak. Nggak bisa juga kita ngelarangnya. Apalagi posisi kita lagi di penjara gini," ujar Anggi. Kali ini dengan nada pasrah.

"Jadi kamu ikhlas, Bang Ari yang kamu bangga-banggain tetep berhubungan dengan perempuan yang statusnya istri orang itu?" tanya Mbak Sur sambil menatap tajam ke mata Anggi.

"Nggak ada pilihan lain, mbak. Anggi ya harus ikhlas. Karena Bang Ari sudah bicara perasaan. Yang ngasih orang jatuh cinta itu kan Tuhan. Kalau kita protes, Tuhan malah bisa marah sama kita. Lagian, Anggi kan di dalam gini, mana bisa ngawasin. Jadi, biar Anggi nggak sakit di penjara ini, ya mau nggak mau ikhlasin aja, mbak. Yang penting Bang Ari tetep suami Anggi pas Anggi bebas nanti," kata Anggi. Suaranya dalam sekali. Menahan pertentangan dibatin dan pikirannya.

"Yo wis kalau pilihanmu kayak gitu. Mbak tahu, sebenernya kamu nggak ikhlas. Tapi karena keadaan, kamu milih sing penting hatimu plong. Kamu ada permintaan nggak sama bojomu?!" kata Mbak Sur.

"Ada, mbak. Setiap sabtu pagi sampai siang, tengok Anggi dan ajak anak-anak. Cuma sekali aja dalam seminggu. Nggak perlu nengok di hari lain. Selebihnya, Anggi nggak pikirin. 

Karena Anggi tahu, hati Bang Ari sudah tersandera dengan perempuan itu. Yang pasti lebih segala-galanya dari Anggi," ucap Anggi, yang kemudian jatuh pingsan. (*)





LIPSUS