Istri Almarhum Tono Masih Trauma
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Istri Almarhum Tono Masih Trauma

INILAMPUNG
Jumat, 13 Maret 2020



PENGANTAR:
Kecelakaan pekerja tambang di PT Bukit Asam bernama Hartono (39) masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Misteri kematian Tono pun belum diungkap. Berikut catatan tim investigasi INIlampung.com, yang menemui beberapa pihak dan keluarganya, ditulis bersambung.

Di tengah musibah meninggalnya Tono, rumah bedeng dengan dua pintu, yang menjadi tempat tinggal Istri Tono dan keluarga Kakak perempuannya. Masih terselubung duka.

Kursi-kursi plastik masih ditumpuk di teras. Tenda yang menutup jalan Kolam Air Atas itu, masih diterangi cahaya neon.



Dua perempuan dan dua anak kecil itu, ketakutan ketika mengetahui tamunya adalah wartawan, selepas maghrib, Minggu, 22 Februari 2020.

"Jangan foto, ya Pak, saya mohon. Kami ini sedang berduka," kata istri almarhum Hartono.

Lalu dengan menunjukkan wajah cemas dan terlihat ke luar masuk rumah, terkesan panik, Kakak Ipar Almarhum Tono mengusir kedatangan dua wartawan.

"Sudahlah, Yuk. Suruh balik bae. La malam ini, kita masih berduka, foto-foto segala," kata dia sembari masuk rumah, setelah empat kali, ke luar masuk rumah melintasi wawancara yang duduk di kursi plastik di teras rumah.


Wijayanto, ayah almarhum Hartono (inilampungcom)
Ke esokan harinya, barulah ketakutan istri Tono terjawab.

Hamdi (52), warga yang menjadi tetangga keluarga Tono menjelaskan. Lazimnya keluarga musibah di tambang, pasti diancam oleh pihak PTBA.

"Jangankan sama media, sama tetangga saja mereka pasti tidak boleh bicara," kata dia.


Pihak PTBA, lajut dia, pasti mengancam tidak memberikan santunan jika kecelakaan Alm Tono tersebar luas.

Hamdi lalu menjelaskan kalau di kompleks BTN masih banyak pensiunan PTBA yang memantau rumah korban.

Di sisi lain, janji beasiswa dan uang santunan sebesar 100juta, hingga berita ini diturunkan, belum diberikan.

Termasuk janji perusahaan, istri almarhum bisa bekerja di PTBA.

Keluarga Tono sendiri menjelaskan, meminta perjanjian dalam bentuk tertulis antara ahli waris dengan perusahaan.

Hal tersebut, dimana proses mengurus pencairan yang rumit, membuat Istri Tono ketakutan.

Icen, adik ipar almarhum yang bekerja sebagai tukang ojek di kompleks BTN itu enggan berkomentar banyak. Dirinya hanya berharap PTBA bisa mbantu kedua anak korban.

 Dimana usia anak laki-laki pertama, baru sekolah di SMP Negeri kelas 1, dan anak kedua, masih berusia 5 tahun.

“Saya berharap perusahaan bertanggungjawab,” ujar Icen yang enggan menyebut nama aslinya. (bersambung)

LIPSUS