Kost 1/8 Kamar
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Kost 1/8 Kamar

INILAMPUNG
Sabtu, 07 Maret 2020


ilustrasi: (net)


Oleh: Dalem Tehang

PENUH rasa bahagia dan sukacita, ketika Andhika menginjakkan kakinya di pintu gerbang asrama. Wajah anak muda asal Muara Dua, Sumsel, itu berbinar. Sorot matanya penuh optimisme.

Iya. Andhika patut bangga. Dia diterima di sebuah Akademi bergengsi di Bandarlampung. Dia diberi beasiswa karena prestasinya semasa di SMA, di kampung halamannya. Akademi memfasilitasi asrama untuk para anak didiknya. Gratis. Bahkan, disiapkan makan siang dan malam yang gratis juga.

Setelah melapor di pintu gerbang, Andhika diantar ke ruang administrasi. Dicocokkan surat-menyurat dan biodata pribadinya. Sang pengantar, Ali, pegawai administrasi, membawa Andhika ke halaman belakang kantor.

"Buka bajunya. Rambut kamu harus dicukur plontos. Gundul," kata Ali.
Andhika terkaget. "Kenapa harus digundul?" tanya dia.

"Ini aturan disini. Semua yang baru masuk harus digundul," sahut Ali sambil memanggil seorang siswa senior untuk memangkas rambut Andhika.

Tak sampai 10 menit, kepala Andhika sudah plontos. Tanpa rambut. Meski tidak rapih pemotongannya.

Ali mengajak Andhika ke ruang pemeriksaan. Seluruh isi tas ranselnya dikeluarkan. Pegawai Akademi mensortir barang bawaannya. Alat-alat mandi disingkirkan. Handphon juga diamankan.

"Kok banyak betul yang tidak boleh saya bawa masuk ke asrama? Bagaimana saya mandi kalau semua alat mandi tak boleh dibawa?"  kata Andhika, setengah protes.

"Ini aturan disini. Itu ada warung serba ada diujung kiri. Semua alat mandi bisa dibeli disana," kata Ali.

"Kalau obat-obatan juga tidak boleh dibawa masuk, bagaimana kalau pas malem-malem saya merluinnya?!" ucap Andhika.

"Ini juga aturan disini. Segala macam obat-obatan tak boleh dibawa masuk asrama. Kalau perlu, tersedia di warung serba ada."

"Kenapa handphone juga tak boleh dibawa? Itu kan alat komunikasi yang semua orang merluinnya. Saya kan juga harus kabari keluarga di Muara Dua?" kata Andhika, protes keras.

"Itu juga aturan disini. Asrama steril  dari handphone. Kalau mau kabari keluarga, sudut kanan ada wartelsus. Silakan pakai fasilitas itu," jelas Ali.

Andhika terdiam. Tak mau lagi debat berkepanjangan. Dia sadar, dirinya orang baru di lingkungan Akademi itu.

Setelah merapihkan kembali pakaiannya dan memasukkan ke ransel, Andhika diantar masuk asrama. Kompleks asrama itu cukup luas. Sekitar 5 hektare. Dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Ratusan orang telah menghuni asrama itu.

Sesampai di depan kamar 9, Ali menghentikan langkahnya. Dia panggil pemegang kunci. Seorang mahasiswa senior lari tergopoh-gopoh. Membuka kunci kamar.

"Kamu di kamar ini ya. Sebagai penghuni baru, ikuti aturan kamar," pesan Ali pada Andhika.

Andhika melangkahkan kakinya. Masuk ke kamar 9. "Assalamualaikum..!" kata dia pada beberapa orang yang ada di dalam kamar.

"Waalaikum salam. Silakan masuk. Duduk dulu ya. Nanti kita kenalan," sahut salah satu dari penghuni kamar 9.

Andhika berkeliling. Menyalami tujuh orang yang ada di dalam kamar. Mereka bernama Adit, Kahfi, Heru, Andi, Hasan, Joko, dan Veno. Sudah satu tahun menjadi penghuni asrama.

Setelah berkenalan, Andhika diberitahu aturan di kamar 9. Kepala kamar, Adit, menyampaikan semua penghuni kamar setiap hari Sabtu wajib membayar Rp 100.000.

"Untuk apa uang itu," tanya Andhika.
"Untuk macem-macem kebutuhan disini. Bayar uang air, uang pintu dan uang kebersihan," jelas Adit.

"Bukannya disini semuanya gratis?!" sela Andhika.
"Ya memang gratis. Kita nggak bayar uang kamar. Tapi kalau kita nggaķ bayar uang air, jatah air kita sedikit. Nggak cukup buat kita semua mandi," ucap Adit.

"Kalau uang pintu, maksudnya apa?"
"Kalau kita ada perlu-perlu waktu kamar sudah dikunci, kalau pemegang kunci kita bayar, mereka mau bukain pintu buat kita kapan aja."

"Terus kalau uang kebersihan, apa maksudnya?"
"Buat orang yang pagi-pagi angkatin sampah dari kamar kita. Kalau nggak dibayar, sampah kita dibiarin aja di depan kamar. Nanti pas pegawai lewat, semua penghuni kamar bisa kena hukuman. Disuruh push up dan macem-macem," jelas Adit panjang lebar.

Andhika disuruh taruh pakaiannya di locker. "Tempat tidur kamu diujung kanan," kata Adit.

Andhika menaruhkan badannya di tikar tipis yang jadi tempat tidurnya. Dialasi kain sarungnya. Matanya menatap plafon kamar ukuran 6x6 M2 itu.

Tanpa disadari, air mengalir dari sudut matanya. Terbayang betapa bahagia dan bangganya ayah, ibu dan adeknya melepas dia menuntut ilmu di Akademi ini. Yang dalam surat panggilannya diberikan beasiswa dan asrama secara gratis selama mengikuti pendidikan.

"Kenapa nangis? Nggak nyangka ya kalau disini situasinya kayak gini," tiba-tiba suara Heru membuyarkan lamunan Andhika.

Andhika buru-buru menghapus airmatanya. "Aku juga dulu kayak kamu waktu baru dateng. Kaget nggak karuan. Katanya gratis, nggak tahunya harus bayar ini dan itu setiap minggunya," lanjut Heru sambil duduk di samping Andhika yang bersandar di tembok.

"Iya, terus terang, aku nggak nyangka kalau mau kayak gini. Apalagi Akademi ini kan kepunyaan pemerintah. Pastinya ada dana khusus buat nyukupi semua kebutuhan anak didik disini," kata Andhika.

"Bener memang, ini Akademi dibiayai pemerintah. Tapi kalau kenyataannya kayak gini mau bilang apa? Yang kamu tahu ini belum 10% dari yang bakal kamu alami dalam hari-hari ke depan. Siapin aja mental kamu baik-baik," sela Adit yang ikut bergabung.

"Maksudnya gimana?" tanya Andhika sambil mengernyitkan dahinya.
"Nanti kamu akan ketemu hal-hal yang ngejengkelin tapi juga buat kamu ketawa," ujar Adit.

"Misalnya seperti apa?" Andhika penasaran.
"Jangan kaget kalau nanti-nanti ada pengurus asrama datang ke kamar dan minta uang. Kita mau nggak mau harus sokongan!"

"Apa perlunya mereka sampai minta uang sama kita? Kita kan anak didik. Belum kerja!"

"Perlunya ya macem-macem. Kadang ada yang bilang mau kondangan, jadi harus ngamplop. Ada juga yang mau bawa anaknya main ke mall. Macem-macem dan aneh-anehlah alasannya," jelas Adit.

Andhika terdiam. Tak pernah terbayangkan ia akan mendapatkan pengalaman yang sangat jauh dari yang dipikirkannya.

"O iya, itu Kahfi kok pegang handphone. Punya saya tadi diamanin di pos," kata Andhika sambil menunjuk Kahfi yang sedang bermain dengan gadgetnya.

"Aturannya emang nggak boleh bawa handphone masuk ke kamar. Tapi kalau bayar Rp 3 juta sebulan, ya boleh-boleh aja," kata Kahfi sambil tersenyum penuh arti.

Spontan Andhika tercekat. Tak ada lagi suara yang bisa keluar dari mulutnya. Dia tak menyangka, di kamar dengan delapan penghuni ini, layaknya ia kost di tempat luas dan mewah. Karena harus keluar uang cukup banyak untuk mencukupi kebutuhan mingguannya.

"Aku tidur dulu ya. Capek bener badanku," kata Andhika, dan langsung merebahkan dirinya.

Dipejamkan matanya. Sambil berdoa agar esok tak bangun lagi. Karena tak sanggup menjalani hari-hari ke depan, yang sangat jauh dari yang dipikirkannya. (*)


*) Pemerhati sosial budaya, tinggal di Bandarlampung.

LIPSUS