Lawan Corona dengan Minum Galon
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Lawan Corona dengan Minum Galon

INILAMPUNG
Selasa, 24 Maret 2020

MUSIM pagebluk, sampai pada kulminasi kedirian. Kita akan jadi akhsanu takwim atau asfala safilin. Sangat jelas perbedaannya, tinggal pilih.

Selama tiga hari belakangan, saya punya waktu nan sunyi. Yaitu, melihat langit sampai lepas maghrib. Dan selalu, merasa ada keanehan. Ada gambar kengerian. 

Selalu, memunculkan warna-warna menakutkan. 

Muncul simpul. Bahwa ternyata, hidup ini sangat rapuh dan diambang kehancuran. Saya hanya mampu memandang langit tiap-tiap senja. Para lelaki, kulihat wajahnya kian pucat 

Kalau lelaki sudah marak berwajah pucat, itu benar-benar penanda hadirnya musim pagebluk. 

Setiap orang menjalani hidup yang jarang bertemu orang. Tidak berkenalan jika ada orang asing. Kita juga, membatasi banyak interaksi sosial. Termasuk pembicaraan. 

Memang interaksi paling intensif hanya lewat media sosial. Ada yang berusaha menyeru agar dekat dengan Tuhan. Ada yang semakin lantang menyebar ajaran, menjauh dari Tuhan. 

Ada yang menggunakan pengetahuan tentang Tuhan untuk menabur kepanikan. Menyalahkan liyan, serta merasa paling tahu kehendak Tuhan. 

Ada juga yang secara congkak, membabi buta memberi pembelaan padahal tahu kalau prilaku itu berlawanan dengan ajaran Tuhan. 

Corona virus, mengajari kita sebuah fenomena. Musim pagebluk kekinian, jadi ajang unjuk diri. Dengan masing-masing tak saling kenal untuk berusaha mengenali. 

Satu hal yang pasti, semua orang begitu sulit menahan diri. 

Di kampung kami, ada semacam legenda. Waktu pohon kenangan berbunga dan ada capung terbang rendah, itu adalah pertanda kemurnian udara dan kesegaran semesta. Orang yang sakit hanya karena lelah, menjadi segar bugar. Yang sedang kemrungsung, langsung sumringah. Kalau pun ada yang sakit parah dan sudah saatnya meninggal, berbunganya pohon kenanga adalah tatal. Kode alam yang mengabarkan secara senyap. Warga harus bersiap menguburkan jenasah. 

Kembang kenanga dan capung yang terbang rendah juga adalah tanda, berlalunya musim pagebluk. 

Akan tetapi, ada mitos lain, di kampung kami. Kalau ada petir namun matahari terik. Ada awan berarak tetapi sulit hujan. Cuaca gerah tanpa cahaya matahari tetapi banyak lamun ande-ande, itu layak waspada. Orang akan mudah terserang batuk, pilek, demam dan seperti sekarang yang sedang kita alamai. Terancam paparan virus tanpa obat. Yaitu, Coro-na.

Ini zaman yang aneh. Pohon kenangan sudah berbunga. Ada capung, tapi sering cuaca gerah. Seperti hujan seperti panas. 

Di tembok pagar, juga membayang lamun ande-ande. Pada cuaca sore. Biasanya ada seriti atau serombongan burung gereja lewat. Sepekan ini, tak ada. Bahkan bringsik kucing kawin, juga tidak terdengar. 

Kampung kami mencekam. Tak ada orang melintas. Apalagi, tegur sapa. 

Corona virus membuat kita semakin terlihat kerdil dan tak punya kuasa apa pun atas diri kita sendiri. Di sini letak dasar keinginan. Kemanusiaan kita benar-benar disublim. Kapan waktu bersyukur dan kapan masa bersabar, seolah jadi soal jawaban ujian hidup. 

Menariknya, kita tidak dalam upaya menyelesaikan soal dan menjawab pertanyaan kehidupan. Kita hanya mampu membuat penilaian karena terbuka ruang melihat, salah benar bagi liyan. Apalagi pemerintah. Tampak sekali kalau salah meski pun benar. Atau, terlihat benar, meski pun salah. 

Aneh. Sejak kapan semua warga negara, bisa merespon dan membuat penilaian atas benar salah, padahal tak punya kapasitas dan pengetahuan untuk mendefenisikan salah benar itu?

Inilah yang membuat saya percaya, banyak minum air putih sampai habis satu galon itu penting. Agar kita sibuk kencing. Tidak lagi disibukkan dengan urusan orang lain. Yang jelas-jelas bukan urusan kita. 

Kita boleh saja meragukan dan tidak percaya pada seseorang. Terutama pemerintah. Namun kembali pada pertanyaan, apakah diri kita juga layak dipercaya. Apa yang sudah kita berikan bagi bangsa negara? Perlu direnungkan dan dicari prihal serta jawabannya. 

Corona virus pasti berlalu, musim pagebluk pasti berganti. Hanya satu soalannya, kita ini memilih, jadi pembuat gaduh atau mau jadi pemberi obat atas alam semesta, terutama bagi kedirian kita. 

Musim pagebluk, bagaimana pun adalah ujian tentang pertahanan, tentang menjaga diri sendiri. (*)

ENDRI Y.
Penggiat Komunitas Gedong Meneng


LIPSUS