Lockdown Artinya Melempar Sarang Tawon
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Lockdown Artinya Melempar Sarang Tawon

INILAMPUNG
Senin, 16 Maret 2020

KATA "lockdown" mendadak viral. Sebagai wujud kebijakan dari pemerintah untuk mengendalikan sebaran virus Covid-19. 

Beberapa hari lalu, saya membaca kisah lockdown di Italia yang ditulis oleh WNI yang sejak 2008 tinggal di negara itu. Warga dipaksa di dalam rumah. Polisi terlus patroli, jika ada yang ke luar rumah tanpa alasan yang diizinkan, didenda 206 EUR.

Sungguh mengerikan. Membuat saya ingat, masa kecil yang tengil. Ketika aktifitas harian anak desa penuh permainan di kebun. 

Di kampung kami, pekarangan belakang rumah pasti penuh rerimbun pepohonan. Ada rumpun bambu, pohon kelapa, dan tentu beraneka macam pohon buah tahunan. Seperti jambu-jambuan, dari monyet sampai air. Paling banyak, jambu klutuk merah. Kalau ada jambu klutuk putih, pasti jadi rebutan. Karena rasanya, seperti susu. Susu adalah minuman surga, hanya milik orang kota yang kaya. Bagi kami, belum tentu setahun sekali meminumnya. 

Orang tua kami mengelabui, tajin itu susu asli, meski sebenarnya akibat tak mampu membeli. Menariknya, anak zaman itu trengginas, lincah-lincah, gesit dan tentu saja pintar-pintar. 

Beda sama sekarang, minumnya susu tapi koplo. Disuruh sekolah malah pilih jadi perantau tanpa keterampilan. Disuruh ke sawah justru pilih mainan ponsel pintar mengejar bayangan adsens yang terbukti, telah bergelut tahunan sampai sekarang hanya sibuk menunggu kiriman pin dari kantor pos.

Kembali ke tawon. Jambu klutuk putih, pohonnya besar dan tinggi menjulang. Namun seperti lazimnya pohon jambu, paling mudah dijadikan arena memanjat. Menariknya, buahnya yang banyak dan sudah matang, masih utuh. Tak tersentuh lantaran ada sarong tawon. Kami menamakan, lebah kepala. 

Suatu ketika, kami berusaha mengusirnya. Caranya, melempari sarang itu lalu berlarian, kabur menjauh. Saya terlambat datang. Heran. Kenapa setelah melempar, kabur. Pengecut. Saya menyeru lantang. Seolah jadi anak paling berani. Mengajak mendekat. Dan belum juga melempar pecahan batu bata, mendadak, cetuk, cetuk, cetuk. 

Saya kaget dan nyaris pingsan. Sakitnya bukan kepalang. Tiga tawom kepala menyerang saya sebelum dekat dengan pohon jambu itu. 

Satu di pelipis dekat mata, satu di dada, dan di pergelangan lengan kanan. 

Saya teriak, dan terduduk. Bengong. Ditolong anak-anak lain. Sambil tertawa ngakak. Mampus. Maka jangan sombong. Samar kalimat mereka terdengar karena saya masih meringis kesakitan. 

Sisa entup tawon itu, pelan dicabut teman saya dan ada yang membaluri dengan bunga. Digosok. Semakin sakit. Saya dibopong pulang. Tenang, kata mereka, masih jauh dari kamatian. 

Kalimat "masih jauh dari kematian" itu terngiang.

Bekas sengatan, termasuk sakitnya, masih ada dan rasanya tersisa sampai sekarang. Teringat, beberapa hari saya tidak sekolah dan ke luar rumah karena bengkak di wajah, di dada serta di lengan kanan.

Dari melempar sarang tawon itu saya belajar, dalam persoalan apa pun, apalagi yang bersifat menyakitkan sampai menyebabkan kematian, meski mati adalah kepastian. Tetap tidak boleh sombong. 

Percayalah. Berbekal pengalaman sombong dan disengat tawon sebelum berpartisipasi melempar itu, sekarang saya samina waatokna pada imbauan pemerintah untuk berdiam diri di rumah, memperbanyak wirid dan doa-doa. 

Sambil, jika sempat, menulis beragam kenangan. Tentang betapa rapuhnya daya tahan kita sebagai manusia dan warga negara terhadap serangan dari luar. 

Namun demikian, sekarang saya punya alibi. Tidak kemana-mana dan ketika diperintah, menjawab takut corona. Tentu, yang memerintah saya, tertawa sambil bilang; "Dasar pemalas. Tidak ada corona juga ndekem di rumah aja."(*)

ENDRI Y.
Penggiat Komunitas Gedong Meneng

LIPSUS