Malam Nanti, Obituari Nyoman Tusthi Eddy di Bentara Budaya Bali
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Malam Nanti, Obituari Nyoman Tusthi Eddy di Bentara Budaya Bali

bdy
Minggu, 15 Maret 2020


INILAMPUNG.COM -- Dialog Sastra #70 Bentara Budaya Bali, malam nanti (15/03/2020), digelar Obituari Nyoman Tusthi Eddy.

Program Dialog Sastra #70 kali ini mengetengahkan Obituari bagi sastrawan Nyoman Tusthi Eddy. Gelar ini sebentuk penghormatan bagi capaian, dedikasi serta sumbangsih beliau untuk kehidupan susastra di Bali. 

Narasumber diskusi, yakni I Made Sujaya, seorang jurnalis, kritikus dan dosen di IKIP PGRI Bali. Acara akan dimaknai pula pembacaan puisi dan nukilan cerpen karya Nyoman Tusthi Eddy. 

Tidak hanya dikenal sebagai sastrawan mumpuni, Nyoman Tusthi Eddy, kelahiran Pidpid, Karangasem 12 Desember 1945, juga merupakan salah satu tokoh yang giat menggairahkan kehidupan susastra di Bali, khususnya tempat kelahirannya di Bali Timur. 

Selain menulis puisi dan cerpen, ia juga esais yang karya-karyanya rutin diterbitkan sejumlah koran, semisal Bali Post, Suara Karya, Kompas, Horison, Basis, Warta Hindu Dhrama, Sarad, termasuk dimuat pada jurnal-jurnal budaya yang diterbitkan di Malaysia dan Brunei. Pada 2009, Nyoman Tusthi Eddy menerima hadiah sastra Rancage melalui kumpulan puisi berbahasa Balinya "Somah" (Buratwangi, 2008).

Sastrawan yang berpulang pada 17 Januari 2020 ini setidaknya telah melahirkan 16 buku berupa kumpulan esai, ulasan sastra, puisi juga cerpen. 

Pada tahun 2011, bersama penyair Umbu Landu Paranggi, dan Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., Nyoman Tusthi Eddy juga pernah menjadi juri dalam Lomba Cipta Puisi Nasional yang diselenggarakan Bentara Budaya Bali, serta mengisi satu seri program Dialog Sastra (kala itu masih bernama Sandyakala Sastra) yang mengetengahkan tematik “Religiusitas Sastrawan Bali”.

Obituari adalah sebuah program yang diniatkan sebagai penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang, serta aktif membangun atmosfir pergaulan kreatif yang produktif, diantara melalui partisipasinya pada agenda seni budaya di Bentara Budaya Bali. 

Selain menghadirkan kembali karya-karya unggul yang bersangkutan, dibincangkan juga warisan kreativitas sang seniman, berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya. Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno, pelukis Tedja Suminar, maestro tari Ida Bagus Oka Blangsinga, sastrawan NH. Dini, dan penyair Reina Caesilia (rls/bdy/inilampung)


LIPSUS